Jumat, 30 Januari 2015

Joko Si Tangguh

Diposting oleh Prily Harsiani di 1/30/2015 01:20:00 AM
Don’t judge something just by the cover! (untuk kali ini aku ganti dengan don’t judge something just by the title!). Disini aku tidak akan bercerita tentang ksatria zaman dulu layaknya Joko Tingkir, Joko Tarub, dan sejenisnya. Joko… Si kecil yang malam ini telah membuatku merenungi kehidupanku selama ini.


Jam telah menunjukkan pukul 22:00 WITA, waktu yang selalu ku tunggu-tunggu, ini adalah waktu dimana aku telah menyelesaikan waktu kerjaku yang ku mulai sejak sore hari. Setelah menyelesaikan dan membereskan apa saja yang perlu dibereskan aku segera menaiki motorku untuk segera pulang ke kos.

Malam ini (29 Januari 2015) tidak sama seperti malam-malam sebelumnya, (orang Samarinda mungkin bisa membayangkan ini) biasanya aku pulang kerja selalu memilih untuk lewat jl. Gelatik, tapi hatiku lebih memilih untuk melewati jl. Cenderawasih, setelah melewati jl. Cenderawasih aku melewati jl. S. Parman, setelah sampai pada persimpangan 4 Mall Lembuswana harusnya aku lebih memilih jalur yang mengarah ke jl. Muh Yamin dimana kosku searah dengan jalan tersebut, namun hatiku terus memaksa untuk tetap berjalan lurus mengarah ke arah jl. Juanda. Yang benar saja, hatiku benar-benar menuntunku untuk melewati jl. Juanda. Di jalan inilah aku menemukan segelintir kisah dari sekian banyak orang yang bernasib sama.

Tepat di depan kantor KPU (Komisi Pemilihan Umum) Samarinda yang bertempat di jl. Juanda, aku melihat seorang anak kecil laki-laki (dugaan awalku dia masih berumur sekitar 10 tahun), berperawakan kurus, rambut ikal, dengan bajunya yang lusuh, mukanya yang juga kusut sedang duduk di trotoar sambil memegang 1 kotak plastik besar yang awalnya aku tak tahu apa isi di dalamnya. Aku-pun memilih untuk berhenti, setelah aku berhenti dan memperhatikan sekeliling aku baru menyadari ternyata anak ini berjualan kue (awalnya aku juga tak tahu kue apa yang dijualnya). Hati siapa yang tak tergugah melihat anak kecil seperti dia duduk di trotoar seperti itu disaat jam-jam anak seumurannya sudah tertidur lelap dirumahnya masing-masing. Akupun duduk disampingnya dan sedikit bertanya kepadanya (pertanyaan awalku saat itu ku rasakan sendiri memang gak masuk akal). Blaa… Blaa… Blaa… Aku berniat memberinya sedikit uang yang ku punya, tapi aku sungguh kaget dengan sopan dia menjawab,”Maaf ya mbak, anu… Saya gak ngemis kok, saya ini jualan kue… Kalau mau mbak beli saja kue saya.”, sambil dibukanya kotak kue tersebut, Astagfirullah… Ternyata kue yang dijualnya masih banyak! Saat itu aku bertanya,”Kan ini sudah malam kenapa adek gak buruan pulang aja?”, dia menjawab,”Dagangan saya belum habis mbak, saya pulangnya kalau ini sudah habis.”.”Jam segini dengan dagangan kue yang masih banyak seperti itu???”, hatiku bertanya-tanya, untuk menghargainya aku membeli kue itu semampuku, bahkan yang ku rasakan sendiri dagangannya seperti tidak berkurang. Dalam hati aku bingung harus bagaimana lagi, aku beranjak dari tempat dudukku dan berpamitan padanya,”Makasih ya dek kuenya, adek jualannya hati-hati yaa!”, tapi saat itu aku hanya duduk diam di motorku, aku tak lekas dan tak tega meninggalkannya sendirian, yang ada di bayanganku adalah bagaimana yang ada di posisinya itu adalah adek-adekku sendiri, cukup sakit membayangkannya.

Dari kaca spion motorku aku tetap mengawasinya dan memperhatikan sekeliling. Aku yang tak berada diposisinya justru merasa pesimis, bagaimana bisa jualan yang masih banyak seperti itu akan habis dalam semalam? Bagaimana jika dia tak lekas pulang karena dagangannya belum habis? Aku merasa seperti ditampar begitu saja, bagaimana aku bisa punya pemikiran yang pesimis seperti itu, sedangkan anak kecil tersebut masih optimis untuk tetap berada disitu sambil berharap dagangannya habis dibeli orang-orang. Selang lama aku menunggu sambil memainkan ponsel, bahkan aku sempat menghubungi beberapa temanku untuk melewati jalan Juanda dan membeli dagangan anak kecil tersebut nyatanya nihil.

Allah selalu punya jalan lain untuk membahagiakan hati seseorang. Setelah sekian lama menunggu aku melihat ada seseorang yang juga bermotor berhenti tepat di depannya, aku tak begitu tahu orang itu seperti apa, dia menggunakan slayer, helm, dan jaket sehingga aku tak begitu jelas meliha seperti apa sosok tersebut. Ku lihat dari kaca spionku ternyata dia membeli kue dari anak tersebut. Setelah si misterius itu pergi, tak lama ku lihat anak kecil tersebut beranjak, Allahu Akbar! Orang tadi membeli semua kue anak tersebut yang jelas-jelas tadi masih banyak sekali. Aku sendiri juga merasa sangat berterima kasih kepada orang tersebut karena hatinya terbuka untuk membeli kue yang dijajakan si adek.

Aku yang masih duduk diatas motor, melihatnya berjalan searah denganku, saat dia hendak melewatiku, aku menghentikannya,”Sudah habis ya dek?”,
“Sudah mbak ini sudah bisa pulang”, jawabnya sambil tersenyum,
“Adek rumahnya mana? Ayo bareng mbak aja, mbak antar pulang ke rumah adek, adek capek kan?”, sebisaku menawarkan diri untuk membantunya,
“Gak usah mbak, nanti saya dijemput kok, rumah saya sana mbak.”, sambil menunjuk ke arah jl. Suryanata,
“Emang adek biasanya dijemput dimana? Gak disini kan?”
“Gak mbak disana saya dijemputnya”, sambil menunjuk ke arah lampu merah (sepertinya), menurutku cukup jauh juga jika dipakai untuk berjalan kaki,
“Ayoo dek mbak antar aja, gak apa-apa kok, tenang… Mbak gak akan ngapa-ngapain adek, mbak cuma gak mau adek tambah capek”
“Yaudah mbak, makasih ya”, akhirnya dia mengiyakan ajakanku, sambil naik ke motorku.

Sepanjang jalanku bersamanya aku memanfaatkan waktuku untuk lebih tahu lagi tentang dirinya,
“Biasanya yang jemput adek siapa?”, tanyaku memulai pembicaraan lagi,
“Bapak saya mbak yang biasanya jemputin”,
“Rumahnya di daerah mana dek?”
“Bukit pinang mbak”
“Adek masih sekolah?”
“Sudah enggak sekolah mbak”
“Sejak kapan adek nggak sekolah”, tanyaku meyakinkan karena aku benar-benar kaget dengan jawabannya,
“Habis kelas 4 SD saya berhenti sekolah mbak”
“Maaf ya dek mbak tanya-tanya, kalau boleh tahu sekarang adek seharusnya sudah kelas berapa?”
“Seharusnya kelas 1 SMP mbak”

Jawabannya benar-benar membuatku merinding, aku sudah kalah banyak dibandingkan dengannya, aku seperti manusia yang sangat rendah dan tak pernah bersyukur. Selama ini aku bersekolah di sekolah-sekolah yang sangat layak, bahkan masuk ke kelas-kelas yang bisa dianggap sangat lebih baik dibandingkan dengan kelas yang lain. Tapi, saat aku berhadapan dengan anak laki-laki ini aku merasa tak punya apa-apa yang bisa dibanggakan dibandingkan dia yang harus berhenti sekolah dan berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan berjualan kue keliling dengan tubuhnya yang sangat kurus tersebut.

Aku melanjutkan lagi pertanyaanku sebelum kami berpisah.
“Adek ini berapa saudara sebenarnya? Punya kakak? Punya adek?”
“Saya ini anak pertama mbak, adek tiri saya X, adek kandung saya X (aku lupa dia menjawab apa, pikiranku mulai gak fokus setelah mengetahui kehidupannya)”
“Adek jualan dari jam berapa?”, tanyaku saat hampir sampai di lampu merah simpang Juanda-Antasari-Suryanata-Arah Karang Paci (lupa nama jalannya),
“Dari jam 5 sore mbak”,
“Adek hati-hati ya kalau jualan, ini bapaknya adek biasanya dimana jemputinnya?”
“Di masjid sana mbak, tapi saya turun sini aja gapapa mbak”, sambil menunjuk masjid yang ada di dekat simpang yang mengarah kearah jl. Suryanata,
“Yaudah mbak antar aja kesana ya…”, tanpa menunggu jawabannya aku langsung membawanya ke depan masjid yang dia maksud.

Sesampainya di depan masjid aku masih tak tega meninggalkannya sendirian, tapi dia memintaku untuk segera pulang saja, aku-pun mau tak mau meninggalkannya sendiri menunggu untuk dijemput. Aku-pun baru menyadari bahwa aku lupa menanyakan namanya, saat aku menanyakan namanya dia menyebutkan namanya,”Nama saya Joko mbak.”. Aku-pun melambaikan tangan padanya dan pergi berlalu.

Saat di jalan aku menyadari bahwa air mataku sudah keluar, anak sekecil itu sudah mencari nafkah sendiri. Sesampainya di kos ku buka kantong kresek yang berisi kue yang ku beli dari dek Joko, ternyata itu adalah kue kacang hijau (aku tak tahu nama sebenarnya apa, tapi yang pasti ini adalah kacang hijau yang digoreng dalam balutan tepung), rasanya-pun enak, semoga aku bisa bertemu dengannya lagi (kebetulan aku sangat suka dengan kacang hijau), dan semoga akan ada orang-orang yang juga mau membantunya. Jadi, siapapun orang Samarinda yang melintasi jalan Juanda atau Antasari atau Suryanata jika bertemu Joko anak kecil yang menurutku sangat tangguh ini, belilah dagangannya setidaknya 1-2 biji, tidak ada salahnya kita membantunya dengan cara sekecil apapun. In sha Allah, Tuhan YME akan memperlancar rezeki kita.

Pastinya aku juga tak tahu kehidupannya sebenarnya seperti apa, tapi yang jelas ini menjadi sebuah tamparan besar untukku dan untuk kita semua bahwa kita harus lebih bersyukur atas apa yang telah Allah titipkan kepada kita. Allah selalu bersama kita dan melindungi kita, Dia tidak selalu memberi apa yang kita inginkan, tapi Dia selalu memberikan apa yang kita butuhkan.

Catatanku kali ini semoga bisa menjadi pelajaran untuk kita semua agar senantiasa bersyukut atas segala sesuatu, masih banyak yang berada di bawah kita, jangan selalu memandang ke atas dimana kita akan selalu merasa kekurangan atas apa yang sudah kita miliki. Berjuanglah selagi mampu dan hargailah sekecil apapun perjuangan yang dilakukan orang lain. :) See yaa… Let’s be respect to each other!
 
Kue Kacang Hijau Dek Joko :)



0 komentar:

 

Prysia's Note Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea