Don’t judge something just by the cover!
(untuk kali ini aku ganti dengan don’t judge something just by the title!).
Disini aku tidak akan bercerita tentang ksatria zaman dulu layaknya Joko
Tingkir, Joko Tarub, dan sejenisnya. Joko… Si kecil yang malam ini telah
membuatku merenungi kehidupanku selama ini.
Jam telah
menunjukkan pukul 22:00 WITA, waktu yang selalu ku tunggu-tunggu, ini adalah
waktu dimana aku telah menyelesaikan waktu kerjaku yang ku mulai sejak sore
hari. Setelah menyelesaikan dan membereskan apa saja yang perlu dibereskan aku
segera menaiki motorku untuk segera pulang ke kos.
Malam ini
(29 Januari 2015) tidak sama seperti malam-malam sebelumnya, (orang Samarinda
mungkin bisa membayangkan ini) biasanya aku pulang kerja selalu memilih untuk
lewat jl. Gelatik, tapi hatiku lebih memilih untuk melewati jl. Cenderawasih,
setelah melewati jl. Cenderawasih aku melewati jl. S. Parman, setelah sampai
pada persimpangan 4 Mall Lembuswana harusnya aku lebih memilih jalur yang
mengarah ke jl. Muh Yamin dimana kosku searah dengan jalan tersebut, namun hatiku
terus memaksa untuk tetap berjalan lurus mengarah ke arah jl. Juanda. Yang
benar saja, hatiku benar-benar menuntunku untuk melewati jl. Juanda. Di jalan
inilah aku menemukan segelintir kisah dari sekian banyak orang yang bernasib
sama.
Tepat di
depan kantor KPU (Komisi Pemilihan Umum) Samarinda yang bertempat di jl. Juanda,
aku melihat seorang anak kecil laki-laki (dugaan awalku dia masih berumur
sekitar 10 tahun), berperawakan kurus, rambut ikal, dengan bajunya yang lusuh,
mukanya yang juga kusut sedang duduk di trotoar sambil memegang 1 kotak plastik
besar yang awalnya aku tak tahu apa isi di dalamnya. Aku-pun memilih untuk
berhenti, setelah aku berhenti dan memperhatikan sekeliling aku baru menyadari
ternyata anak ini berjualan kue (awalnya aku juga tak tahu kue apa yang
dijualnya). Hati siapa yang tak tergugah melihat anak kecil seperti dia duduk
di trotoar seperti itu disaat jam-jam anak seumurannya sudah tertidur lelap
dirumahnya masing-masing. Akupun duduk disampingnya dan sedikit bertanya
kepadanya (pertanyaan awalku saat itu ku rasakan sendiri memang gak masuk
akal). Blaa… Blaa… Blaa… Aku berniat memberinya sedikit uang yang ku punya,
tapi aku sungguh kaget dengan sopan dia menjawab,”Maaf ya mbak, anu… Saya gak
ngemis kok, saya ini jualan kue… Kalau mau mbak beli saja kue saya.”, sambil
dibukanya kotak kue tersebut, Astagfirullah… Ternyata kue yang dijualnya masih
banyak! Saat itu aku bertanya,”Kan ini sudah malam kenapa adek gak buruan
pulang aja?”, dia menjawab,”Dagangan saya belum habis mbak, saya pulangnya
kalau ini sudah habis.”.”Jam segini dengan dagangan kue yang masih banyak
seperti itu???”, hatiku bertanya-tanya, untuk menghargainya aku membeli kue itu
semampuku, bahkan yang ku rasakan sendiri dagangannya seperti tidak berkurang. Dalam
hati aku bingung harus bagaimana lagi, aku beranjak dari tempat dudukku dan
berpamitan padanya,”Makasih ya dek kuenya, adek jualannya hati-hati yaa!”, tapi
saat itu aku hanya duduk diam di motorku, aku tak lekas dan tak tega
meninggalkannya sendirian, yang ada di bayanganku adalah bagaimana yang ada di
posisinya itu adalah adek-adekku sendiri, cukup sakit membayangkannya.
Dari kaca
spion motorku aku tetap mengawasinya dan memperhatikan sekeliling. Aku yang tak
berada diposisinya justru merasa pesimis, bagaimana bisa jualan yang masih
banyak seperti itu akan habis dalam semalam? Bagaimana jika dia tak lekas
pulang karena dagangannya belum habis? Aku merasa seperti ditampar begitu saja,
bagaimana aku bisa punya pemikiran yang pesimis seperti itu, sedangkan anak
kecil tersebut masih optimis untuk tetap berada disitu sambil berharap
dagangannya habis dibeli orang-orang. Selang lama aku menunggu sambil memainkan
ponsel, bahkan aku sempat menghubungi beberapa temanku untuk melewati jalan
Juanda dan membeli dagangan anak kecil tersebut nyatanya nihil.
Allah
selalu punya jalan lain untuk membahagiakan hati seseorang. Setelah sekian lama
menunggu aku melihat ada seseorang yang juga bermotor berhenti tepat di
depannya, aku tak begitu tahu orang itu seperti apa, dia menggunakan slayer, helm, dan jaket sehingga aku tak
begitu jelas meliha seperti apa sosok tersebut. Ku lihat dari kaca spionku
ternyata dia membeli kue dari anak tersebut. Setelah si misterius itu pergi,
tak lama ku lihat anak kecil tersebut beranjak, Allahu Akbar! Orang tadi
membeli semua kue anak tersebut yang jelas-jelas tadi masih banyak sekali. Aku
sendiri juga merasa sangat berterima kasih kepada orang tersebut karena hatinya
terbuka untuk membeli kue yang dijajakan si adek.
Aku yang
masih duduk diatas motor, melihatnya berjalan searah denganku, saat dia hendak
melewatiku, aku menghentikannya,”Sudah habis ya dek?”,
“Sudah
mbak ini sudah bisa pulang”, jawabnya sambil tersenyum,
“Adek
rumahnya mana? Ayo bareng mbak aja, mbak antar pulang ke rumah adek, adek capek
kan?”, sebisaku menawarkan diri untuk membantunya,
“Gak usah
mbak, nanti saya dijemput kok, rumah saya sana mbak.”, sambil menunjuk ke arah
jl. Suryanata,
“Emang
adek biasanya dijemput dimana? Gak disini kan?”
“Gak mbak
disana saya dijemputnya”, sambil menunjuk ke arah lampu merah (sepertinya),
menurutku cukup jauh juga jika dipakai untuk berjalan kaki,
“Ayoo dek
mbak antar aja, gak apa-apa kok, tenang… Mbak gak akan ngapa-ngapain adek, mbak
cuma gak mau adek tambah capek”
“Yaudah
mbak, makasih ya”, akhirnya dia mengiyakan ajakanku, sambil naik ke motorku.
Sepanjang
jalanku bersamanya aku memanfaatkan waktuku untuk lebih tahu lagi tentang
dirinya,
“Biasanya
yang jemput adek siapa?”, tanyaku memulai pembicaraan lagi,
“Bapak saya
mbak yang biasanya jemputin”,
“Rumahnya
di daerah mana dek?”
“Bukit
pinang mbak”
“Adek
masih sekolah?”
“Sudah
enggak sekolah mbak”
“Sejak
kapan adek nggak sekolah”, tanyaku meyakinkan karena aku benar-benar kaget
dengan jawabannya,
“Habis
kelas 4 SD saya berhenti sekolah mbak”
“Maaf ya
dek mbak tanya-tanya, kalau boleh tahu sekarang adek seharusnya sudah kelas
berapa?”
“Seharusnya
kelas 1 SMP mbak”
Jawabannya
benar-benar membuatku merinding, aku sudah kalah banyak dibandingkan dengannya,
aku seperti manusia yang sangat rendah dan tak pernah bersyukur. Selama ini aku
bersekolah di sekolah-sekolah yang sangat layak, bahkan masuk ke kelas-kelas
yang bisa dianggap sangat lebih baik dibandingkan dengan kelas yang lain. Tapi,
saat aku berhadapan dengan anak laki-laki ini aku merasa tak punya apa-apa yang
bisa dibanggakan dibandingkan dia yang harus berhenti sekolah dan berjuang
memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan berjualan kue keliling dengan tubuhnya
yang sangat kurus tersebut.
Aku
melanjutkan lagi pertanyaanku sebelum kami berpisah.
“Adek ini
berapa saudara sebenarnya? Punya kakak? Punya adek?”
“Saya ini
anak pertama mbak, adek tiri saya X, adek kandung saya X (aku lupa dia menjawab
apa, pikiranku mulai gak fokus setelah mengetahui kehidupannya)”
“Adek
jualan dari jam berapa?”, tanyaku saat hampir sampai di lampu merah simpang
Juanda-Antasari-Suryanata-Arah Karang Paci (lupa nama jalannya),
“Dari jam
5 sore mbak”,
“Adek
hati-hati ya kalau jualan, ini bapaknya adek biasanya dimana jemputinnya?”
“Di
masjid sana mbak, tapi saya turun sini aja gapapa mbak”, sambil menunjuk masjid
yang ada di dekat simpang yang mengarah kearah jl. Suryanata,
“Yaudah
mbak antar aja kesana ya…”, tanpa menunggu jawabannya aku langsung membawanya ke
depan masjid yang dia maksud.
Sesampainya
di depan masjid aku masih tak tega meninggalkannya sendirian, tapi dia memintaku
untuk segera pulang saja, aku-pun mau tak mau meninggalkannya sendiri menunggu
untuk dijemput. Aku-pun baru menyadari bahwa aku lupa menanyakan namanya, saat
aku menanyakan namanya dia menyebutkan namanya,”Nama saya Joko mbak.”. Aku-pun
melambaikan tangan padanya dan pergi berlalu.
Saat di
jalan aku menyadari bahwa air mataku sudah keluar, anak sekecil itu sudah
mencari nafkah sendiri. Sesampainya di kos ku buka kantong kresek yang berisi
kue yang ku beli dari dek Joko, ternyata itu adalah kue kacang hijau (aku tak
tahu nama sebenarnya apa, tapi yang pasti ini adalah kacang hijau yang digoreng
dalam balutan tepung), rasanya-pun enak, semoga aku bisa bertemu dengannya lagi
(kebetulan aku sangat suka dengan kacang hijau), dan semoga akan ada orang-orang
yang juga mau membantunya. Jadi, siapapun orang Samarinda yang melintasi jalan
Juanda atau Antasari atau Suryanata jika bertemu Joko anak kecil yang menurutku
sangat tangguh ini, belilah dagangannya setidaknya 1-2 biji, tidak ada salahnya
kita membantunya dengan cara sekecil apapun. In sha Allah, Tuhan YME akan
memperlancar rezeki kita.
Pastinya
aku juga tak tahu kehidupannya sebenarnya seperti apa, tapi yang jelas ini
menjadi sebuah tamparan besar untukku dan untuk kita semua bahwa kita harus
lebih bersyukur atas apa yang telah Allah titipkan kepada kita. Allah selalu
bersama kita dan melindungi kita, Dia tidak selalu memberi apa yang kita
inginkan, tapi Dia selalu memberikan apa yang kita butuhkan.
Catatanku
kali ini semoga bisa menjadi pelajaran untuk kita semua agar senantiasa
bersyukut atas segala sesuatu, masih banyak yang berada di bawah kita, jangan
selalu memandang ke atas dimana kita akan selalu merasa kekurangan atas apa yang
sudah kita miliki. Berjuanglah selagi mampu dan hargailah sekecil apapun
perjuangan yang dilakukan orang lain. :) See
yaa… Let’s be respect to each other!
 |
| Kue Kacang Hijau Dek Joko :) |
0 komentar:
Posting Komentar