Rabu, 17 Juni 2015

Haruskah Ada Air Mata?

Diposting oleh Prily Harsiani di 6/17/2015 08:13:00 PM
Terkadang aku bertanya-tanya, apakah jatah air mata yang diberikan Tuhan kepada setiap manusia itu sama? Kenapa hingga saat ini, aku merasa bahwa air mataku jumlahnya tak terbatas, saat bahagia aku menangis, saat terharu aku menangis, saat sedih aku menangis, saat marah akupun menangis, bahkan saat aku diam aku menangis. Apakah ada yang juga merasakan seperti yang aku rasakan? Rasanya aku justru tak pernah melihat orang lain merasakan seperti yang aku rasakan, atau mungkin aku hanya tak pernah melihat kehidupan orang lain yang sebenarnya? Hahahaha… Aku merasa lucu…

Aku bosan kalau harus ngeluarin air mata terus, aku bĂȘte harus mewek-mewek gak jelas. Semakin air mata keluar semakin banyak macam-macam pikiran yang terselubung, mulai dari penyesalan A, penyesalan B, penyesalan C, dan semuanya. Jangan ditanya kenapa! Akupun bingung, akupun lelah menjadi diriku yang seperti ini, selalu merasa sedih tak berkesudahan. Orang lain mungkin beranggapan aku lebay jika aku terus seperti ini, selalu merasa aku yang ada dibawah, selalu merasa jikalau aku yang diuji, selalu merasa hidup ini tak berarti, terkadang ku bayangkan bagaimana jika aku memilih mengakhiri hidupku saja, yaa… Itu saat aku benar-benar merasakan frustasi, tapi aku tak sejahat dan sepicik itu, aku masih harus membayar hutang budi kepada kedua orang tuaku.

Aku frustasi. Mungkin ini karena kesendirianku, setiap waktu aku selalu merasa kesepian, setiap saat aku selalu merindukan kehidupan bahagiaku yang dulu, masa-masa dimana tak pernah ada air mata berarti yang benar-benar terbawa hingga perasaanku terombang-ambing seperti ini. Dulu yang aku tahu aku hanya tertawa haha-hihi kesana kemari, pergi sesuka hati, tak kenal letih dan perih, berbeda dengan kini dimana setiap langkahku seperti aku melangkah diatas pecahan kaca, dimana setiap aku berpikir rasanya seperti kepalaku tertembak peluru pistol, dimana setiap aku merasakan apa yang dirasakan hatiku rasanya seperti hatiku ditikam menggunakan pisau.

Sekali lagi, aku tahu kenapa aku begini, tapi yang selalu terlintas ketika aku sedih adalah keluargaku, aku terlalu merindukan mereka, aku baru merasakan betapa menakutkannya hidup sendiri tanpa mereka, aku takut tak bisa membalas jasa mereka kelak, aku takut tak bisa melakukan apa-apa, aku takut lumpuh saat ini. Andai orang lain berada diposisiku hal ini akan sama adanya, jadi jangan menganggapku lemah, lebay, gak pernah bersyukur, selalu melihat keatas, mudah putus asa, dsb, jangan seperti itu, aku sudah terlalu sakit untuk mendengar kata-kata seperti itu, cobalah tahu isi hatiku dulu baru kalian akan mengerti. Sekali lagi ku tak tahu diriku ini seperti apa.

Aku lemah. Aku adalah orang yang selalu melupakan kebahagiaan yang aku dapatkan, jelas itu semua terjadi juga karena kesedihan itu datang, aku hanya berharap setidaknya tak ada orang-orang yang justru menambah kesedihanku, tak ada lagi orang-orang yang tidak mengerti aku, aku sudah terlalu lemah untuk mengalah, aku sudah terlalu lemah untuk menunggu kapan pesakitan ini berakhir, iyaaa… Aku mengakuinya bahwa aku yang sekarang bukanlah aku yang dulu, bukanlah aku yang kuat seperti dulu, bukan lagi… Aku sekarang ada dititik dimana aku mulai meleleh, rasanya ingin menangis ketika membayangkannya.

Argggghhhh… Sudahlah aku mulai merasa lelah, kepribadian introvert ini mungkin memberatkan, tapi akupun tak tahu bagaimana untuk merubahnya. Sosok introvert, seperti aku ini adalah dimana aku merasakan hal-hal yang labil pada didiriku, aku takut sendiri tapi aku juga tak ingin diusik, aku tak suka bercerita tapi aku begitu sakit memendamnya sendiri, aku tak ingin melihat dunia luar tapi aku butuh udara segar, entahlah… Sudahlah… Rasanya aku tak bisa lagi kembali ke kebahagiaanku dulu, tapi aku berharap Allah akan tetap melindungi aku selemah-lemahnya keadaan yang harus aku lewati, setidaknya aku percaya akan ada kebahagiaan yang harus dibayarkan atas kepedihan dan kesedihan yang selalu ku lalui.

Baiklah sedikit uneg-uneg di awal Ramadhan tanpa keluarga, belum lagi tidak bisa menikmati puasa dan tarawih pertama, semoga aku selalu baik-baik saja dan semoga aku mendapatkan kebahagiaan (harus-selalu) setelah ini. Aamiin. Byeee~



0 komentar:

 

Prysia's Note Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea