Terkadang aku
bertanya-tanya, apakah jatah air mata yang diberikan Tuhan kepada setiap
manusia itu sama? Kenapa hingga saat ini, aku merasa bahwa air mataku jumlahnya
tak terbatas, saat bahagia aku menangis, saat terharu aku menangis, saat sedih
aku menangis, saat marah akupun menangis, bahkan saat aku diam aku menangis.
Apakah ada yang juga merasakan seperti yang aku rasakan? Rasanya aku justru tak
pernah melihat orang lain merasakan seperti yang aku rasakan, atau mungkin aku hanya
tak pernah melihat kehidupan orang lain yang sebenarnya? Hahahaha… Aku merasa
lucu…
Aku bosan kalau harus
ngeluarin air mata terus, aku bĂȘte harus mewek-mewek gak jelas. Semakin air
mata keluar semakin banyak macam-macam pikiran yang terselubung, mulai dari
penyesalan A, penyesalan B, penyesalan C, dan semuanya. Jangan ditanya kenapa!
Akupun bingung, akupun lelah menjadi diriku yang seperti ini, selalu merasa
sedih tak berkesudahan. Orang lain mungkin beranggapan aku lebay jika aku terus
seperti ini, selalu merasa aku yang ada dibawah, selalu merasa jikalau aku yang
diuji, selalu merasa hidup ini tak berarti, terkadang ku bayangkan bagaimana
jika aku memilih mengakhiri hidupku saja, yaa… Itu saat aku benar-benar merasakan
frustasi, tapi aku tak sejahat dan sepicik itu, aku masih harus membayar hutang
budi kepada kedua orang tuaku.
Aku frustasi. Mungkin
ini karena kesendirianku, setiap waktu aku selalu merasa kesepian, setiap saat
aku selalu merindukan kehidupan bahagiaku yang dulu, masa-masa dimana tak
pernah ada air mata berarti yang benar-benar terbawa hingga perasaanku
terombang-ambing seperti ini. Dulu yang aku tahu aku hanya tertawa haha-hihi
kesana kemari, pergi sesuka hati, tak kenal letih dan perih, berbeda dengan
kini dimana setiap langkahku seperti aku melangkah diatas pecahan kaca, dimana
setiap aku berpikir rasanya seperti kepalaku tertembak peluru pistol, dimana
setiap aku merasakan apa yang dirasakan hatiku rasanya seperti hatiku ditikam
menggunakan pisau.
Sekali lagi, aku tahu
kenapa aku begini, tapi yang selalu terlintas ketika aku sedih adalah
keluargaku, aku terlalu merindukan mereka, aku baru merasakan betapa
menakutkannya hidup sendiri tanpa mereka, aku takut tak bisa membalas jasa
mereka kelak, aku takut tak bisa melakukan apa-apa, aku takut lumpuh saat ini.
Andai orang lain berada diposisiku hal ini akan sama adanya, jadi jangan
menganggapku lemah, lebay, gak pernah bersyukur, selalu melihat keatas, mudah
putus asa, dsb, jangan seperti itu, aku sudah terlalu sakit untuk mendengar
kata-kata seperti itu, cobalah tahu isi hatiku dulu baru kalian akan mengerti.
Sekali lagi ku tak tahu diriku ini seperti apa.
Aku lemah. Aku adalah
orang yang selalu melupakan kebahagiaan yang aku dapatkan, jelas itu semua
terjadi juga karena kesedihan itu datang, aku hanya berharap setidaknya tak ada
orang-orang yang justru menambah kesedihanku, tak ada lagi orang-orang yang
tidak mengerti aku, aku sudah terlalu lemah untuk mengalah, aku sudah terlalu
lemah untuk menunggu kapan pesakitan ini berakhir, iyaaa… Aku mengakuinya bahwa
aku yang sekarang bukanlah aku yang dulu, bukanlah aku yang kuat seperti dulu,
bukan lagi… Aku sekarang ada dititik dimana aku mulai meleleh, rasanya ingin
menangis ketika membayangkannya.
Argggghhhh… Sudahlah
aku mulai merasa lelah, kepribadian introvert
ini mungkin memberatkan, tapi akupun tak tahu bagaimana untuk merubahnya.
Sosok introvert, seperti aku ini
adalah dimana aku merasakan hal-hal yang labil pada didiriku, aku takut sendiri
tapi aku juga tak ingin diusik, aku tak suka bercerita tapi aku begitu sakit
memendamnya sendiri, aku tak ingin melihat dunia luar tapi aku butuh udara
segar, entahlah… Sudahlah… Rasanya aku tak bisa lagi kembali ke kebahagiaanku
dulu, tapi aku berharap Allah akan tetap melindungi aku selemah-lemahnya
keadaan yang harus aku lewati, setidaknya aku percaya akan ada kebahagiaan yang
harus dibayarkan atas kepedihan dan kesedihan yang selalu ku lalui.
Baiklah sedikit
uneg-uneg di awal Ramadhan tanpa keluarga, belum lagi tidak bisa menikmati
puasa dan tarawih pertama, semoga aku selalu baik-baik saja dan semoga aku
mendapatkan kebahagiaan (harus-selalu) setelah ini. Aamiin. Byeee~
0 komentar:
Posting Komentar