Sabtu, 27 Juni 2015

Bleeding Heart

Diposting oleh Prily Harsiani di 6/27/2015 12:01:00 PM
Bayu semakin mempercepat laju larinya, sementara itu Radit pun semakan berusaha untuk jadi yang pertama. Sesekali tawa mereka berdua terdengar memecah udara pagi yang cerah.
“Hei, Broo! Udah deh nyerah aja! Loe nggak bakalan menang!”seru Radit disela-sela nafasnya yang memburu.
“Gak! Gua gak bakalan kalah! Masa gua harus kalah ama loe? Apa kata dunia?” sambung bayu.
“Loe gak bakalan menang lawan gua, udah nyerah aja! Pokoknya siapa yang bisa sampai di Pelabuhan duluan boleh dapat sunnya Ana!” teriak Radit kencang seraya berlari kencang.
“Hooee kunyukk!! Apaan tuh? Gak bisa gitu! Ana pacar gue! Mana bisa dijadiin taruhan! Hei monyong! Tunggu…!”teriak bayu.

Bayu dan Radit adalah sepasang sahabat karib, mereka berdua sudah menjadi teman baik semenjak kecil. Jadi, tidaklah mengherankan jika mereka sangat akrab bahkan sudah seperti adik kakak sendiri, dimana ada Bayu pasti disitu ada Radit begitu juga sebaliknya hingga mereka beranjak dewasa. Mereka memang memiliki banyak sifat yang sama, mereka bahkan jatuh cinta pada gadis yang sama. Ana memang merupakan gadis yang sempurna, baik fisik maupun sifat. Sehingga, tidak heran jika mereka menaruh hati kepadanya, walaupun pada akhirnya Ana menjatuhkan pilihannya kepada Bayu, tapi itu tidak membuat persahabatan mereka menjadi renggang ataupun terpecah. Radit adalah sosok pemuda yang dewasa dan penuh pengertian. Dia bisa menerima kenyataan dan mendukung pilihan sahabatnya tersebut.

Bayu dan Radit merupakan anggota Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut, jadi merekapun seringkali bertugas keluar kota. Seperti halnya bulan ini mereka mendapat tugas di daerah perbatasan Kalimantan dan Malaysia. Namun, kali ini sepertinya waktu tugas mereka akan lebih lama lagi, kalau sebelumnya waktu tugas mereka hanya berkisar 2-4 bulan saja di suatu daerah, kemudian berpindah lagi kedaerah lain. Kali ini bisa cukup lama karena saat ini banyak perompak maupun pembajak yang berusaha masuk ke Wilayah NKRI.

Hari itu suasana di pelabuhan sangat ramai dan diantara kerumunan orang yang lalu lalang terlihat sosok seorang gadis. Wajahnya selalu terlihat tertunduk. Sesekali terlihat bulir bening menetes diantara kedua pipinya.
“Dasar….!” Gadis itu berujar pelan sambil berusaha menyeka berkas air matanya. Dari mana aja sih! Gue udah nunggu lama tau!” bentak Ana.

Bayu dan Radit yang masih ngos ngosan langsung nyengir.

“Wah broo, gue ngaku kalah ajalah! Jahat banget cewek loe! Udah mau pergi masih dibentak juga!”seloroh Radit sambil berusaha mengatur nafasnya.
“Iya nih! Kok marah marah mulu, sayang lagi dapet? “sambung bayu yang langsung dibalas pelototan mata oleh Ana.
“Dapet…Dapet… Nih dapet!” ujar Ana sambil menjitak keras kepala Bayu yang tentunya membuatnya berteriak kesakitan.
“Aduuuuhhhh! Tega banget sih.” Bayu hendak melanjutkan omelannya, tapi akhirnya diurungkan kala terlihat kedua mata Ana berkaca kaca.
“Sayang? Kenapa?” Tanya Bayu pelan.

Sementara itu Ana bukannya menjawab  pertanyaan yang diajukan, air matanya justru semakin deras mengalir. Karena sepertinya sudah tidak dapat dibendung lagi air matanya itu langsunglah ditumpahkannya semua air matanya di dada bidang Bayu.
“Gue... Gue… Gue nggak pengen loe pergi, gue nggak ikhlas, gue takut, Bay! Gue Takut kehilangan Loe!” Isak Ana dipelukan lelaki itu.

Bayupun tidak kuasa untuk berbicara, yang bisa dilakukan hanyalah membelai rambut gadis itu dan berharap dia segera tenang. Sementara itu, Radit hanya bisa tersenyum kecil dan berjalan menjauh berusaha memberikan waktu kepada mereka untuk melepaskan rasa sayang Mereka tuk yang terakhir kali sebelum kepergian yang cukup lama ini. Setelah sekian lama terdiam akhirnya dengan perlahan Bayu mengeluarkan setangkai bunga mawar dari ranselnya.
”An… Gue nggak punya apa apa buat loe, gue cuma punya mawar merah ini.” Ujar Bayu.

Lalu Ana yang melihat kuntum mawar tersebut tidak dapat lagi menahan senyumnya. Bayu yang melihat senyuman Ana langsung menghela nafas lega.
“Kamu nggak suka ya?” ujarnya memelas.

Ana langsung menggelengkan kepalanya,
“Bukan… Bukan begitu! Ada yang buat gue ngerasa lucu…” Sahut Ana sambil mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
“Gue juga hanya punya ini buat Loe.” sambung Ana sambil mengeluarkan kuntum mawar merah yang juga serupa.

Melihat kedua mawar tersebut terjadilah tawa renyah yang terdengar dari kedua mulut mereka. Beberapa saat kemudian Tawa mereka terhenti oleh suara peluit kapal yang hendak membawa para penumpangnya pergi, dari seberang terlihat Radit memberikan tanda kepada Bayu untuk segera menyusulnya ke dalam dek kapal. Bayu memalingkan wajahnya dan ditatapnya wajah Ana. Wajah manis tersebut terlihat mulai berlinang air mata.

“Ana sayang, sunguh berat gue ninggalin loe, gue tahu loe pun begitu, tapi gue janji, selama mawar ini selalu merah gue pasti akan datang buat loe, gue janji gue bakal kembali apapun yang terjadi! Ana gue cinta dan sayang banget sama loe! Berjanjilah! Loe bakal nunggu gue.”Bayu berujar sambil mengecup kening gadis itu.
”Gue janji Gue….Gue janji…Gue akan nunggu loe!” ucap Ana.

Di tengah isak tangis mereka. Bayu segera berlalu dan naik ke atas kapal yang hampir mulai berjalan.
”Jaga diri baiik-baik sayang.” Ucapnya sambil melambaikan tangan pada gadis itu.
”Berjanjilah! Loe bakal balik sama kayak keadaan loe sekarang ini!” Teriak Ana dari bawah kapal.
“Gue janji An, Gue akan kembali!”

Sementara itu Kapal telah bergerak perlahan meninggalkan Pelabuhan tersebut. Meninggalkan kepedihan di antara dua hati yang saling mencinta.


Deru speed boat seakan memecah keheningan dan ketenangan laut. Sementara itu perompak yang tetap memaksa masuk NKRI semakin banyak.
“Kalian pikir kalian bisa menang! Kalian salah!” seru pengendara motor boat tersebut yang tak lain adalah Radit.

Secepat kilat dikemudikannya speed boat tersebut berusaha menghindari kumpulan perompak yang ada di kapal mesin mereka, para perompak pun mulai mengeluarkan senjata-senjata canggihnya.
Dead you!” Radit berteriak kencang saat salah satu perompak yang ada yang dibidik tembakannya berhasil dijatuhkan. Tapi kegembiraanya hanya berlangsung sekejap. Dari arah belakang muncul tiga kapal perompak yang lain yang berhasil mengunci posisinya.
Shit!”Radit memaki keras kala dilihatnya para perompak hendak membidiknya.

Dengan lincah dikemudikannya speed boat miliknya diantara kapal-kapal perompak tersebut. Strategi miliknya berhasil. Dua dari enam kapal yang mengejarnya berhasil menghantam Kapal lainnya, tapi sisanya tetap melaju hendak speed boat tempurnya. Radit mulai panik, kala dilihatnya bahwa dia sudah tidak peluru lagi, kecemasannya kian menjadi. Tembakan granat perompak-perompak itu akan menghantam dirinya.
“Radit! Fast down!” mendengar suara itu mata Radit langsung berbinar.

Sedetik sebelum granat tersebut meluluhlantakan dirinya dan speed boat nya, Radit melakukan gerakan fast down gerakan strategi khusus miliknya dan bayu. Namun, dari arah depan speed boat nya secara tiba tiba muncul sebuah kapal lainnya yang  langsung menembakan rudal rapid fire kearah Radit dan motornya.
“Bayu! You are the best!” Radit berteriak kencang kala melihat rudal yang ditembakan Bayu mampu menghalau rudal-rudal milik perompak tersebut.
“Bacot loe! Akhirnya loe ngakuin hal itu juga!” balas bayu.”

Belum sempat Radit membalas gurauan dari Bayu, tiba tiba dilihatnya Bayu berteriak kencang.
“Radit gue kena! Arrrggghhhh…!” teriak Bayu, sesaat peluru laras panjang perompak berhasil mengenai tubuhnya.
“Bertahan, Bay!!!” balas Radit kencang.

Tapi, dirinya terperanjat kala dilihatnya ada dua kapal perompak yang berhasil mengunci posisinya. Radit benar benar terperanjat, dia benar benar kehabisan akal, dia harus menolong sahabatnya yang terlihat terkulai diatas speed boat nya yang tetap berjalan. Namun, satu rudal pun tak dimilikinya lagi, disisi lain ada dua kapal yang telah mengunci posisinya dan berusaha untuk menjatuhkannya.
“Radit! Dengerin gue! Sampai kapanpun gue adalah sahabat loe! Loe harus bahagiain Ana! Loe berhutang sama gue! Loe harus nepati itu!” Suara Bayu terdengar bergetar diantara sisa-sisa tenaganya.
”Jaga Ana baik baik Dit! Bahagiakan dia! Gue bakal selalu mendoakan kalian!” ujar Bayu pelan dari seberang.
“Maksud loe apa? Loe jangan berpikir yang macam macam!” bentak Radit. Namun Bayu tidak membalas. Radit terperanjat kala dilihatnya speed boat  yang ditumpangi sahabatnya itu meluncur kencang kearah kapal musuh.
“Hidup NKRI!” teriak Bayu kencang sebelum kapal yang dikemudikannya meledak menghantam kapal lawan, terdengarlah suara hantaman yang begitu keras, kobaran apipun terlihat menjilat-jilat. Kapal perompak yang lain pun segera kabur namun akhirnya berhasil dihadang oleh anggota yang lain.
“Bayu jangan!” teriak Radit kencang saat melihat Bayu mengacungkan jempol kearahnya, dan terjadilah hantaman yang keras itu.
“Bayu…. Loe bodoh!! Bayuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu…!”Sentak Radit sekuatnya.

Belum sempat hilang rasa terkejutnya, Radit terperanjat kala salah satu bagian dari kapal musuh yang meledak terbang dan menghantam bagian belakang speed boatnya. Tanpa ampun lagi speed boat yang dikemudikan oleh Raditpun oleng.
”Maafin gue, An!” teriakan Radit melengking merobek angkasa.

Tubuhnya ikut tenggelam bersama speed boatnya yang terbakar.

***
Ana tersentak dari tidurnya, keringat mengalir membasahi tubuhnya. Dengan nafas memburu Ana menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
“Bayu….” Ana mendesah pelan.

Wajahnya memancarkan kekhawatiran. Didalam mimpi dilihatnya Bayu terjatuh didalam jurang hitam yang amat dalam. Tubuhnya penuh luka dan darah, dan dilihatnya tangan Bayu menggenggam erat sekuntum mawar yang telah layu dan pucat. Mengingat hal itu Ana tersentak, secepatnya diambilnya tas yang berisi kuntum mawar pemberian Bayu saat di pelabuhan. Ketika dibukanya tas tersebut, matanya membeliak besar. Dilihatnya mawar yang diberikan Bayu telah berubah sesuai dengan mimpinya. Telah berubah menjadi layu dan hitam pucat tidak lagi kemerahan.
“Nggak! Bayu nggak! Loe udah janji bakal  kembali! Loe nggak boleh tinggalin Gue, loe harus penuhi janji loe” Ana berteriak histeris.

Digelengkan kepalanya tuk menahan air mata yang telah membekas, tapi itu percuma. Air matanya sudah terlanjur keluar. Ana benar benar terpukul melihat mawar itu.
“Gue harus! Gue harus nglakuin sesuatu!”ucap Ana seolah kehilangan kesadarannya.

Ana bangkit dari duduknya dan bergerak sempoyongan kearah laci meja riasnya. Setelah beberapa saat mencari akhirnya Ana mengambil jarum jahit yang tersimpan dilacinya. Ana akhirnya menusukan jarum tersebut kearah jemarinya, perlahan darah merembes dari luka dijarinya, Ana menggigit bibirnya menahan sakit yang mendera jemarinya. Kemudian, perlahan diarahkannya jarinya yang terluka kearah kuntum mawar yang telah layu tersebut. Perlahan namun pasti tetesan darah dan tetesan air mata yang menetes di kelopak bunga mawar tersebut membuat warna bunga yang sudah pucat tersebut memerah. Setelah warna mawar tersebut memerah, Ana pun jatuh bersimpuh dilantai dipegangnya tangannya yang telah mulai berhenti mengucurkan darah. Bibirnya terus berucap.
”Bayu tepatin janji loe! Gue bakal tetep nunggu loe”

***
Bayu membuka matanya, seluruh tubuhnya terasa sakit. Disekanya darah yang merembes dari bibirnya. Sesaat kemudian Bayu terbatuk keras, darah merembes membasahi ruangan kokpit. Nafasnya terengah.
“Ana… Maafin Gue… Gue.. Udah nggak  kuat!”Bayu berujar lirih.

Kala ditutup matanya terbayang wajah Ana yang berlinang air mata.
”Loe udah janji! Loe udah janji! Demi mawar yang kau berikan, loe udah  janji! tepati janji itu!” suara Ana terdengar mengiang di telinganya.
”Ana…” ucap bayu pelan.

Diraihnya handle laci kokpit. Matanya membesar kala dilihatnya kuntum mawar yang tergeletak disana bersemi berwarna merah dan memancarkan wangi yang semerbak.
“Astaga ini mustahil!”Bayu berujar keras.

Bayu benar benar tidak habis pikir bagaimana sekuntum mawar yang telah sebulan disimpannya yang harusnya  layu bisa menjadi mekar dan memancarkan wangi yang semerbak. Melihat mawar itu air mata Bayu menetes, dia teringat janjinya pada Ana.
“Gue harus kuat! Gue harus pulang, gue udah janji sama Ana, gue harus nepatin itu.”

***
Bagaikan mendapatkan kekuatan baru, Bayu berusaha bangkit. Tidak dipedulikan lagi tubuhnya yang terasa sakit, satu hal yang diketahuinya dan diinginkannya adalah memenuhi janji kepada orang yang disayanginya. Tiga bulan telah berlalu sejak Ana mengalami mimpi tersebut. Sejak hari itu setiap hari Ana hanya mengunci diri dikamarnya. Tubuhnya menjadi kurus akibat kurang makan dan akibat seringnya Ana mencurahkan darahnya ke kuntum mawar pemberian Bayu. Ibu Ana yang melihat tingkah anaknya jelas saja merasa sedih segala cara dicobanya untuk mengembalikan keceriaan putrinya namun semuanya tidak mendatangkan hasil yang menggembirakan.

Pagi itu udara sangatlah dingin. Kabut terlihat menggantung diatas permukaan tanah. Dari seberang jendela terlihat seorang gadis menatap nanar dikejauhan. Pagi itu tidak seperti biasanya. Setelah meneteskan darahnya untuk yang kesekian kalinya kearah kuntum mawar pemberian Bayu, gadis tersebut memilih untuk duduk merenung di pinggiran jendela rumahnya. Kembali teringat saat saat indah yang dilaluinya bersama sama dengan Bayu. Keceriaan, senda gurau, dan canda tawa Bayu, bahkan saat-saat terakhir dia harus berpisah dengan Bayu, semua kenangan itu tergambar jelas di benaknya. Perlahan air bening kembali mengalir dari sudut matanya. Ana tersadar kala didengarnya suara kicau burung-burung pipit yang bersahut-sahutan. Disekanya air matanya perlahan, suara kicau tersebut terdengar sangat indah ditelinganya. Benar benar menenangkan hati. Secara tak sengaja Ana melihat sekilas ke luar jendela, Ana terperanjat kala menyadari ada seseorang yang berdiri di luar rumahnya. Saat itu udara sangat mendung dan berkabut, sehingga sosok orang yang berdiri didepan rumahnya terlihat agak samar. Ana mengucak matanya berulangkali berusaha untuk menjernihkan pandangannya, setelah yakin atas apa yang dilihatnya, seketika itupun ana langsung berlari kedepan untuk memastikan sosok yang diharapkannya memang nyata kembali. Kicau burung saat itu seakan semakin membahana, keajaiban pun terjadi. Langit sontak berubah cerah, awan mendung perlahan menjauh, kabut pun perlahan sirna hanya tertinggal sinar hangat mentari pagi yang menimpa tubuh orang yang berdiri didepan rumahnya. Lelaki tersebut perlahan mengangkat wajahnya. Kondisi lelaki tersebut sangat memprihatinkan. Janggut tebal dan kumis lebat tumbuh tak terpelihara. Perban putih terlihat menutupi dahi dan sebagian lengannya, sementara itu terlihat sebilah tongkat menyanggah tubuhnya. Walaupun keadaannya sangat mengenaskan, namun senyum kebahagiaan terlukis indah dibibirnya.
“Ba… Bayu! “ serunya tak percaya.

Sementara itu lelaki tersebut hanya menyunggingkan senyum kecilnya. Perlahan dimasukannya tangannya kebalik kemejanya, saat tangan tersebut keluar tampak sekuntum mawar merah tergenggam di tangannya.
“Gue… kembali!“ ucap lelaki yang tidak lain Bayu adanya.

Tak terlukiskan apa yang terjadi dalam diri Ana. Gejolak jiwanya meledak saat itu juga, serasa ada jiwa yang menambah semangatnya lagi. Untuk sesaat kemudian, Ana terdiam mematung disana, air mata perlahan kembali menetes di pipinya.

Saat dilihatnya Bayu merentangkan sebelah tangannya, Ana pun tidak memperdulikan keadaannya lagi. Ana langsung memeluk lelaki tersebut. Akhirnya, dibarengi dengan tangisan keduanya, Ana dan Bayu melepaskan rindu yang selama ini tertahan. Ana memeluk tubuh lelaki itu dengan eratnya, air matanya merembes demikian derasnya di seragam lelaki itu. Demikian juga dengan Bayu, air mata yang meleleh dipipinya disekanya di sela sela rambut gadis itu. Setelah beberapa saat akhirnya Gue melepaskan pelukannya. Ditatapnya wajah sendu gadis itu.
“Terima kasih sayang, mawar ini udah  ngejaga gue, kini izinkan raga dan mawar ini yang ngejaga loe selamanya.” ucap Bayu mesra, sambil berucap Bayu menyematkan mawar tersebut ke belahan rambut gadis itu.

Sementara gadis itu hanya dapat terisak manja. Diseka air matanya perlahan, kuncup-kuncup mawar telah bersemi didalam hatinya. Seketika langit saat itu membawa senyum kebahagiaan seorang sahabat yang turut merasakan suka duka kebahagiaan mereka berdua.



0 komentar:

 

Prysia's Note Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea