Bayu semakin mempercepat
laju larinya, sementara itu Radit pun semakan berusaha untuk jadi yang pertama.
Sesekali tawa mereka berdua terdengar memecah udara pagi yang cerah.
“Hei, Broo! Udah deh nyerah
aja! Loe nggak bakalan menang!”seru Radit disela-sela nafasnya yang memburu.
“Gak! Gua gak bakalan kalah!
Masa gua harus kalah ama loe? Apa kata dunia?” sambung bayu.
“Loe gak bakalan menang
lawan gua, udah nyerah aja! Pokoknya siapa yang bisa sampai di Pelabuhan duluan
boleh dapat sunnya Ana!” teriak Radit
kencang seraya berlari kencang.
“Hooee kunyukk!! Apaan tuh?
Gak bisa gitu! Ana pacar gue! Mana bisa dijadiin taruhan! Hei monyong! Tunggu…!”teriak
bayu.
Bayu dan Radit adalah sepasang sahabat karib, mereka berdua sudah
menjadi teman baik semenjak kecil. Jadi, tidaklah mengherankan jika mereka
sangat akrab bahkan sudah seperti adik kakak sendiri, dimana ada Bayu pasti
disitu ada Radit begitu juga sebaliknya hingga mereka beranjak dewasa. Mereka
memang memiliki banyak sifat yang sama, mereka bahkan jatuh cinta pada gadis
yang sama. Ana memang merupakan gadis yang sempurna, baik fisik maupun sifat.
Sehingga, tidak heran jika mereka menaruh hati kepadanya, walaupun pada
akhirnya Ana menjatuhkan pilihannya kepada Bayu, tapi itu tidak membuat
persahabatan mereka menjadi renggang ataupun terpecah. Radit adalah sosok
pemuda yang dewasa dan penuh pengertian. Dia bisa menerima kenyataan dan
mendukung pilihan sahabatnya tersebut.
Bayu dan Radit merupakan anggota Tentara Nasional Indonesia
Angkatan Laut, jadi merekapun seringkali bertugas keluar kota. Seperti halnya
bulan ini mereka mendapat tugas di daerah perbatasan Kalimantan dan Malaysia.
Namun, kali ini sepertinya waktu tugas mereka akan lebih lama lagi, kalau
sebelumnya waktu tugas mereka hanya berkisar 2-4 bulan saja di suatu daerah,
kemudian berpindah lagi kedaerah lain. Kali ini bisa cukup lama karena saat ini
banyak perompak maupun pembajak yang berusaha masuk ke Wilayah NKRI.
Hari itu suasana di pelabuhan sangat ramai dan diantara kerumunan
orang yang lalu lalang terlihat sosok seorang gadis. Wajahnya selalu terlihat
tertunduk. Sesekali terlihat bulir bening menetes diantara kedua pipinya.
“Dasar….!” Gadis itu
berujar pelan sambil berusaha menyeka berkas air matanya. Dari mana aja sih! Gue
udah nunggu lama tau!” bentak Ana.
Bayu dan Radit yang masih
ngos ngosan langsung nyengir.
“Wah broo, gue ngaku kalah ajalah! Jahat banget cewek loe! Udah
mau pergi masih dibentak juga!”seloroh Radit sambil berusaha mengatur nafasnya.
“Iya nih! Kok marah marah mulu, sayang lagi dapet? “sambung bayu
yang langsung dibalas pelototan mata oleh Ana.
“Dapet…Dapet… Nih dapet!” ujar Ana sambil menjitak keras kepala
Bayu yang tentunya membuatnya berteriak kesakitan.
“Aduuuuhhhh! Tega banget sih.” Bayu hendak melanjutkan omelannya,
tapi akhirnya diurungkan kala terlihat kedua mata Ana berkaca kaca.
“Sayang? Kenapa?” Tanya Bayu pelan.
Sementara itu Ana bukannya menjawab pertanyaan yang diajukan, air matanya justru
semakin deras mengalir. Karena sepertinya sudah tidak dapat dibendung lagi air
matanya itu langsunglah ditumpahkannya semua air matanya di dada bidang Bayu.
“Gue... Gue… Gue nggak
pengen loe pergi, gue nggak ikhlas, gue takut, Bay! Gue Takut kehilangan Loe!” Isak
Ana dipelukan lelaki itu.
Bayupun tidak kuasa untuk berbicara, yang bisa dilakukan hanyalah
membelai rambut gadis itu dan berharap dia segera tenang. Sementara itu, Radit hanya
bisa tersenyum kecil dan berjalan menjauh berusaha memberikan waktu kepada mereka
untuk melepaskan rasa sayang Mereka tuk yang terakhir kali sebelum kepergian
yang cukup lama ini. Setelah sekian lama terdiam akhirnya dengan perlahan Bayu
mengeluarkan setangkai bunga mawar dari ranselnya.
”An… Gue nggak punya apa
apa buat loe, gue cuma punya mawar merah ini.” Ujar Bayu.
Lalu Ana yang melihat kuntum mawar tersebut tidak dapat lagi
menahan senyumnya. Bayu yang melihat senyuman Ana langsung menghela nafas lega.
“Kamu nggak suka ya?” ujarnya
memelas.
Ana langsung menggelengkan
kepalanya,
“Bukan… Bukan begitu! Ada yang buat gue ngerasa lucu…” Sahut Ana sambil
mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
“Gue juga hanya punya ini buat Loe.” sambung Ana sambil
mengeluarkan kuntum mawar merah yang juga serupa.
Melihat kedua mawar tersebut terjadilah tawa renyah yang terdengar
dari kedua mulut mereka. Beberapa saat kemudian Tawa mereka terhenti oleh suara
peluit kapal yang hendak membawa para penumpangnya pergi, dari seberang terlihat
Radit memberikan tanda kepada Bayu untuk segera menyusulnya ke dalam dek kapal.
Bayu memalingkan wajahnya dan ditatapnya wajah Ana. Wajah manis tersebut
terlihat mulai berlinang air mata.
“Ana sayang, sunguh berat
gue ninggalin loe, gue tahu loe pun begitu, tapi gue janji, selama mawar ini
selalu merah gue pasti akan datang buat loe, gue janji gue bakal kembali apapun
yang terjadi! Ana gue cinta dan sayang banget sama loe! Berjanjilah! Loe bakal
nunggu gue.”Bayu berujar sambil mengecup kening gadis itu.
”Gue janji Gue….Gue janji…Gue akan nunggu loe!” ucap Ana.
Di tengah isak tangis mereka.
Bayu segera berlalu dan naik ke atas kapal yang hampir mulai berjalan.
”Jaga diri baiik-baik sayang.”
Ucapnya sambil melambaikan tangan pada gadis itu.
”Berjanjilah! Loe bakal
balik sama kayak keadaan loe sekarang ini!” Teriak Ana dari bawah kapal.
“Gue janji An, Gue akan
kembali!”
Sementara itu Kapal telah
bergerak perlahan meninggalkan Pelabuhan tersebut. Meninggalkan kepedihan di
antara dua hati yang saling mencinta.
Deru speed boat seakan memecah keheningan dan ketenangan laut. Sementara
itu perompak yang tetap memaksa masuk NKRI semakin banyak.
“Kalian pikir kalian bisa
menang! Kalian salah!” seru pengendara motor boat tersebut yang tak lain adalah
Radit.
Secepat kilat dikemudikannya
speed boat tersebut berusaha
menghindari kumpulan perompak yang ada di kapal mesin mereka, para perompak pun
mulai mengeluarkan senjata-senjata canggihnya.
”Dead you!” Radit berteriak kencang saat salah satu perompak yang
ada yang dibidik tembakannya berhasil dijatuhkan. Tapi kegembiraanya hanya
berlangsung sekejap. Dari arah belakang muncul tiga kapal perompak yang lain
yang berhasil mengunci posisinya.
”Shit!”Radit memaki keras kala dilihatnya para perompak hendak
membidiknya.
Dengan lincah
dikemudikannya speed boat miliknya
diantara kapal-kapal perompak tersebut. Strategi miliknya berhasil. Dua dari
enam kapal yang mengejarnya berhasil menghantam Kapal lainnya, tapi sisanya
tetap melaju hendak speed boat
tempurnya. Radit mulai panik, kala dilihatnya bahwa dia sudah tidak peluru lagi,
kecemasannya kian menjadi. Tembakan granat perompak-perompak itu akan
menghantam dirinya.
“Radit! Fast
down!” mendengar suara itu mata Radit langsung berbinar.
Sedetik sebelum granat
tersebut meluluhlantakan dirinya dan speed
boat nya, Radit melakukan gerakan fast
down gerakan strategi khusus miliknya dan bayu. Namun, dari arah depan speed boat nya secara tiba tiba muncul
sebuah kapal lainnya yang langsung
menembakan rudal rapid fire kearah Radit dan motornya.
“Bayu! You are the best!” Radit berteriak kencang kala melihat rudal yang
ditembakan Bayu mampu menghalau rudal-rudal milik perompak tersebut.
“Bacot loe! Akhirnya loe
ngakuin hal itu juga!” balas bayu.”
Belum sempat Radit membalas
gurauan dari Bayu, tiba tiba dilihatnya Bayu berteriak kencang.
“Radit gue kena!
Arrrggghhhh…!” teriak Bayu, sesaat peluru laras panjang perompak berhasil
mengenai tubuhnya.
“Bertahan, Bay!!!” balas Radit
kencang.
Tapi, dirinya terperanjat
kala dilihatnya ada dua kapal perompak yang berhasil mengunci posisinya. Radit
benar benar terperanjat, dia benar benar kehabisan akal, dia harus menolong
sahabatnya yang terlihat terkulai diatas speed
boat nya yang tetap berjalan. Namun, satu rudal pun tak dimilikinya lagi,
disisi lain ada dua kapal yang telah mengunci posisinya dan berusaha untuk
menjatuhkannya.
“Radit! Dengerin gue! Sampai
kapanpun gue adalah sahabat loe! Loe harus bahagiain Ana! Loe berhutang sama
gue! Loe harus nepati itu!” Suara Bayu terdengar bergetar diantara sisa-sisa
tenaganya.
”Jaga Ana baik baik Dit!
Bahagiakan dia! Gue bakal selalu mendoakan kalian!” ujar Bayu pelan dari
seberang.
“Maksud loe apa? Loe jangan
berpikir yang macam macam!” bentak Radit. Namun Bayu tidak membalas. Radit
terperanjat kala dilihatnya speed boat
yang ditumpangi sahabatnya itu meluncur
kencang kearah kapal musuh.
“Hidup NKRI!” teriak Bayu
kencang sebelum kapal yang dikemudikannya meledak menghantam kapal lawan,
terdengarlah suara hantaman yang begitu keras, kobaran apipun terlihat
menjilat-jilat. Kapal perompak yang lain pun segera kabur namun akhirnya
berhasil dihadang oleh anggota yang lain.
“Bayu jangan!” teriak Radit
kencang saat melihat Bayu mengacungkan jempol kearahnya, dan terjadilah
hantaman yang keras itu.
“Bayu…. Loe bodoh!!
Bayuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu…!”Sentak Radit sekuatnya.
Belum sempat hilang rasa
terkejutnya, Radit terperanjat kala salah satu bagian dari kapal musuh yang
meledak terbang dan menghantam bagian belakang speed boatnya. Tanpa ampun lagi speed
boat yang dikemudikan oleh Raditpun oleng.
”Maafin gue, An!” teriakan Radit
melengking merobek angkasa.
Tubuhnya ikut tenggelam
bersama speed boatnya yang terbakar.
***
Ana tersentak dari
tidurnya, keringat mengalir membasahi tubuhnya. Dengan nafas memburu Ana
menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
“Bayu….” Ana mendesah
pelan.
Wajahnya memancarkan
kekhawatiran. Didalam mimpi dilihatnya Bayu terjatuh didalam jurang hitam yang
amat dalam. Tubuhnya penuh luka dan darah, dan dilihatnya tangan Bayu menggenggam
erat sekuntum mawar yang telah layu dan pucat. Mengingat hal itu Ana tersentak,
secepatnya diambilnya tas yang berisi kuntum mawar pemberian Bayu saat di
pelabuhan. Ketika dibukanya tas tersebut, matanya membeliak besar. Dilihatnya
mawar yang diberikan Bayu telah berubah sesuai dengan mimpinya. Telah berubah
menjadi layu dan hitam pucat tidak lagi kemerahan.
“Nggak! Bayu nggak! Loe
udah janji bakal kembali! Loe nggak
boleh tinggalin Gue, loe harus penuhi janji loe” Ana berteriak histeris.
Digelengkan kepalanya tuk
menahan air mata yang telah membekas, tapi itu percuma. Air matanya sudah
terlanjur keluar. Ana benar benar terpukul melihat mawar itu.
“Gue harus! Gue harus
nglakuin sesuatu!”ucap Ana seolah kehilangan kesadarannya.
Ana bangkit dari duduknya
dan bergerak sempoyongan kearah laci meja riasnya. Setelah beberapa saat mencari
akhirnya Ana mengambil jarum jahit yang tersimpan dilacinya. Ana akhirnya
menusukan jarum tersebut kearah jemarinya, perlahan darah merembes dari luka
dijarinya, Ana menggigit bibirnya menahan sakit yang mendera jemarinya.
Kemudian, perlahan diarahkannya jarinya yang terluka kearah kuntum mawar yang
telah layu tersebut. Perlahan namun pasti tetesan darah dan tetesan air mata
yang menetes di kelopak bunga mawar tersebut membuat warna bunga yang sudah
pucat tersebut memerah. Setelah warna mawar tersebut memerah, Ana pun jatuh
bersimpuh dilantai dipegangnya tangannya yang telah mulai berhenti mengucurkan
darah. Bibirnya terus berucap.
”Bayu tepatin janji loe! Gue
bakal tetep nunggu loe”
***
Bayu membuka matanya, seluruh tubuhnya terasa sakit. Disekanya
darah yang merembes dari bibirnya. Sesaat kemudian Bayu terbatuk keras, darah
merembes membasahi ruangan kokpit. Nafasnya terengah.
“Ana… Maafin
Gue… Gue.. Udah nggak kuat!”Bayu berujar
lirih.
Kala ditutup matanya
terbayang wajah Ana yang berlinang air mata.
”Loe udah janji! Loe udah janji! Demi mawar yang kau
berikan, loe udah janji! tepati janji itu!”
suara Ana terdengar mengiang di telinganya.
”Ana…” ucap bayu pelan.
Diraihnya handle laci
kokpit. Matanya membesar kala dilihatnya kuntum mawar yang tergeletak disana
bersemi berwarna merah dan memancarkan wangi yang semerbak.
“Astaga
ini mustahil!”Bayu berujar keras.
Bayu benar benar tidak habis pikir bagaimana sekuntum mawar yang
telah sebulan disimpannya yang harusnya layu bisa menjadi mekar dan memancarkan wangi
yang semerbak. Melihat mawar itu air mata Bayu menetes, dia teringat janjinya
pada Ana.
“Gue harus kuat! Gue harus pulang, gue udah janji sama Ana, gue
harus nepatin itu.”
***
Bagaikan mendapatkan
kekuatan baru, Bayu berusaha bangkit. Tidak dipedulikan lagi tubuhnya yang
terasa sakit, satu hal yang diketahuinya dan diinginkannya adalah memenuhi
janji kepada orang yang disayanginya. Tiga bulan telah berlalu sejak Ana
mengalami mimpi tersebut. Sejak hari itu setiap hari Ana hanya mengunci diri
dikamarnya. Tubuhnya menjadi kurus akibat kurang makan dan akibat seringnya Ana
mencurahkan darahnya ke kuntum mawar pemberian Bayu. Ibu Ana yang melihat
tingkah anaknya jelas saja merasa sedih segala cara dicobanya untuk
mengembalikan keceriaan putrinya namun semuanya tidak mendatangkan hasil yang
menggembirakan.
Pagi itu udara sangatlah
dingin. Kabut terlihat menggantung diatas permukaan tanah. Dari seberang
jendela terlihat seorang gadis menatap nanar dikejauhan. Pagi itu tidak seperti
biasanya. Setelah meneteskan darahnya untuk yang kesekian kalinya kearah kuntum
mawar pemberian Bayu, gadis tersebut memilih untuk duduk merenung di pinggiran
jendela rumahnya. Kembali teringat saat saat indah yang dilaluinya bersama sama
dengan Bayu. Keceriaan, senda gurau, dan canda tawa Bayu, bahkan saat-saat
terakhir dia harus berpisah dengan Bayu, semua kenangan itu tergambar jelas di
benaknya. Perlahan air bening kembali mengalir dari sudut matanya. Ana tersadar
kala didengarnya suara kicau burung-burung pipit yang bersahut-sahutan.
Disekanya air matanya perlahan, suara kicau tersebut terdengar sangat indah
ditelinganya. Benar benar menenangkan hati. Secara tak sengaja Ana melihat
sekilas ke luar jendela, Ana terperanjat kala menyadari ada seseorang yang
berdiri di luar rumahnya. Saat itu udara sangat mendung dan berkabut, sehingga
sosok orang yang berdiri didepan rumahnya terlihat agak samar. Ana mengucak matanya
berulangkali berusaha untuk menjernihkan pandangannya, setelah yakin atas apa
yang dilihatnya, seketika itupun ana langsung berlari kedepan untuk memastikan
sosok yang diharapkannya memang nyata kembali. Kicau burung saat itu seakan
semakin membahana, keajaiban pun terjadi. Langit sontak berubah cerah, awan
mendung perlahan menjauh, kabut pun perlahan sirna hanya tertinggal sinar
hangat mentari pagi yang menimpa tubuh orang yang berdiri didepan rumahnya.
Lelaki tersebut perlahan mengangkat wajahnya. Kondisi lelaki tersebut sangat
memprihatinkan. Janggut tebal dan kumis lebat tumbuh tak terpelihara. Perban
putih terlihat menutupi dahi dan sebagian lengannya, sementara itu terlihat
sebilah tongkat menyanggah tubuhnya. Walaupun keadaannya sangat mengenaskan,
namun senyum kebahagiaan terlukis indah dibibirnya.
“Ba… Bayu! “ serunya tak
percaya.
Sementara itu lelaki
tersebut hanya menyunggingkan senyum kecilnya. Perlahan dimasukannya tangannya
kebalik kemejanya, saat tangan tersebut keluar tampak sekuntum mawar merah
tergenggam di tangannya.
“Gue… kembali!“ ucap lelaki
yang tidak lain Bayu adanya.
Tak terlukiskan apa yang
terjadi dalam diri Ana. Gejolak jiwanya meledak saat itu juga, serasa ada jiwa
yang menambah semangatnya lagi. Untuk sesaat kemudian, Ana terdiam mematung
disana, air mata perlahan kembali menetes di pipinya.
Saat dilihatnya Bayu
merentangkan sebelah tangannya, Ana pun tidak memperdulikan keadaannya lagi.
Ana langsung memeluk lelaki tersebut. Akhirnya, dibarengi dengan tangisan
keduanya, Ana dan Bayu melepaskan rindu yang selama ini tertahan. Ana memeluk
tubuh lelaki itu dengan eratnya, air matanya merembes demikian derasnya di
seragam lelaki itu. Demikian juga dengan Bayu, air mata yang meleleh dipipinya
disekanya di sela sela rambut gadis itu. Setelah beberapa saat akhirnya Gue
melepaskan pelukannya. Ditatapnya wajah sendu gadis itu.
“Terima kasih sayang, mawar
ini udah ngejaga gue, kini izinkan raga
dan mawar ini yang ngejaga loe selamanya.” ucap Bayu mesra, sambil berucap Bayu
menyematkan mawar tersebut ke belahan rambut gadis itu.
Sementara gadis itu hanya
dapat terisak manja. Diseka air matanya perlahan, kuncup-kuncup mawar telah
bersemi didalam hatinya. Seketika langit saat itu membawa senyum kebahagiaan seorang sahabat yang turut merasakan suka duka kebahagiaan mereka berdua.
0 komentar:
Posting Komentar