Jumat, 26 Juni 2015

Halaman yang Tertinggal (Part-2 selesai)

Diposting oleh Prily Harsiani di 6/26/2015 03:10:00 PM
Sang fajar mulai menampakkan diri, ku buka jendela kamar dan ku rasakan sejuknya embun yang merayap di tubuhku. Aku berpikir dalam lamunanku,”Apakah jika aku sudah tiada nanti dunia pagi akan merindukan aku seperti aku merindukan mereka? Apakah aku akan menemukan keindahan lagi yang seperti ini kelak?”.


Tiba-tiba kepalaku terasa pening dan berat, ku rasakan ada yang merembes keluar dari dalam hidung, aku sudah menduganya dan hanya tersenyum ketika aku melihat darah itu. Hal ini sudah sering terjadi sejak 3 bulan lalu dan bermula dari rasa sakit kepala dan pusing yang sering ku rasakan, awalnya aku hanya mengira bahwa itu hanyalah efek dari aku yang terlalu sering begadang, jadi aku hanya memberi pereda nyeri sakit kepala saja. Namun, lambat laun rasa sakit kepala semakin sering datang dan diiringi dengan mimisan, bahkan tiba-tiba aku merasa seperti akan pingsan karena hilang keseimbangan. Akhirnya aku memutuskn untuk memeriksakan diri di rumah sakit tanpa diketahui oleh siapapun. Aku akhirnya menjalani serangkaian tes mulai dari tes CT Scan (Computerizd Tomography), tes MRI (Magnetic Resonance Imaging), dan Uji fisik, alhasil setelah melihat hasil tes dari pihak radiologi dokter memberi diagnosa secara jelas dan terperinci dan akhirnya dokter memvonis bahwa aku menderita kanker otak stadium 3.

Dokter yang telah memberi diagnosis dan vonis penyakitku ini memberi saran untuk melakukan pengobatan lebih lanjut. Melihat kondisi kanker otak yang ku derita biasanya untuk Stadium 3, pengobatan dilakukan dengan cara kombinasi atau campuran. Pengobatan campuran yaitu menggabungkan lebih dari satu cara pengobatan. Selain operasi, pengobatan–pengobatan jenis lainnya adalah Radiotherapy, Radiosurgery, Chemotheraphy. Hyperthermia, dan Immunotherapy. Aku benar-benar tak bergeming, rasanya ingin menangis tapi aku tak sanggup, aku berkata kepada dokter itu bahwa aku akan memikirkannya dulu. Setelah itu aku lebih memilih pulang dan sesampainya aku langsung memilih tidur.

Saat itu aku hanya ingin bangun dengan melupakan semunya harapanku apa yang ku dengar sebelumnya hanyalah bagian dari mimpi burukku, tapi apalah dayaku, aku benar-benar tak berdaya dan hingga saat ini aku lebih memilih untuk menyimpannya sendiri.

Handphoneku berdering ditengah lamunanku, seperti biasa diseberang telepon itu ada seseorang yang datang untuk menerangi jalanku,
“Halooo…” sambutku
“Lagi apa, Yaa?” tanyanya
“Jalan yuk! Sekali aja kita bolos kerja, kapan lagi kita bolos kerja selama ini aku dan kamu gak pernah kan bolos bareng? Yaa… Walaupun selama ini aku emang sering bolos dan kamu gak pernah bolos, ayolahhh… Uangmu ditabungan juga gak pernah berkurang kan, gak usah takut uangmu habis.”
“Tapi….” Aku hendak memotong pembicaraanku dengannya dan mengatakan bahwa aku sedang tidak enak badan, namun aku lebih memilih untuk mengurungkannya, dalam lubuk hatiku inilah kesempatanku untuk bersenang-senang dengannya dibalik dukaku,
“Udah, mandi sana! Dandan yang cantik ya kayak biasanya, pokoknya hari ini kamu jadi ratuku, sejam lagi aku jemput deh!”
“Hufftthh… Dasar pemaksa! Yelahh, pokoknya bawa aku ke tempat yang bagus yaa”
“Siippp… Byee…”
“Bye”

Setidaknya Rio sudah mencerahkan hatiku, aku langsung bergegas membersihkan diri, selesai mandi aku memperhatikan seisi lemariku, baru kali ini aku bingung dengan pakaian yang akan ku pakai, akhirnya aku menetapkan hati untuk memilih dress selutut warna biru muda dengan motif bunga-bunga, lalu ku padukan dengan cardigan warna peach, inilah style-ku hanya simple dan chic, lalu seperti biasa hanya menggunakan riasan senatural mungkin. Lalala~ Hatiku mulai bernyanyi-nyanyi tak pernah aku merasakan hal yang membahagiakan aku seperti ini. Ku lirik jam ternyata aku masih memiliki 30 menit tersisa sebelum Rio menjemputku, aku memutuskan untuk membuka laptop dan menuliskan kelanjutan novel yang aku buat, disini aku mulai menceritakan tentangnya… Rio…

Rio mengajakku ke sebuah tempat yang benar-benar indah, selama ini walaupun aku sering menuliskan cerita tentang tempat-tempat yang indah, tapi aku tak menyangka aku akan menemukan tempat seindah ini...
“Rio… Aku gak mimpi kan? Kita ada dimana?”
“Hahaha… Kamu ini, Ya… Memang penulis fiksi, beneran kamu baru tahu tempat ini?”
“Aku gak pernah ngelihat danau seindah ini, coba kamu lihat dari atas sini! Air danaunya tenang dan memancarkan bias cahaya fatamorgana seperti pelangi, dikelilingi dengan bunga mawar dan bunga matahari yang tumbuh merata, coba kamu lihat! Masih banyak kupu-kupu berterbangan, dan kamu tahu ditempat kita berdiri sekarang masih banyak pohon-pohon besar yang menambah kesejukan tempat ini, ditambah dengan jalan setapak dari bebatuan, dan kamu lihat itu Rio… Ada sungai kecil dengan air jernih yang mengalir, ahhhhhhh.. Sepertinya aku akan mulai histeris, Hahahaha… Aku pengen ke bawah ke danau itu Rio! Ayooo kita kesana…!” Ujarku dengan riang sambil aku mulai menuruni tangga kecil yang sengaja dibuat agar orang dapat merasakan keindahan  danau secara langsung.
“Hati-hati, Yaaa… Hahaha” ujarnya sambil menyusulku
“Rio, tapi kenapa tempat ini begitu sepi? Padahal ini tempat bagus kan, ada bangku-bangku kecil yang disediakan untuk duduk pula.”
“Hmm… Entahlah, Ya… Mungkin timing kita tepat.”
“Makasih ya, Rio” ujarku sambil ku tersenyum padanya, sepertinya aku mulai bisa mensyukuri hidup ini, entah umurku tinggal hitungan jari atau mungkin bisa lebih setidaknya aku tidak akan menyesal setelah mengetahui Kuasa Tuhan yang kecilpun terasa sangat indah, aku akan ikhlas dengan kepergianku kelak
“Kata orang sekitar sini kalau kita mencuci muka dengan air danau tersebut segala keinginan kita bisa terkabul lho…”
“Serius?” Tanpa aba-aba aku langsung menuju pinggiran danau tersebut dn aku membasuh mukaku dengan air yang ku ambil menggunakan telapak tangan
“Astaga, Ya… Hati-hati…” sambil mengikuti apa yang ku lakukan,”Kamu pengen apa memangnya?”
Aku tersenyum lagi padanya,”Aku hanya pengen kehadiranku didunia membawa segelintir kebahagiaan yang bisa membekas di hati orang-orang disekelilingku, kalau kamu?”
“Ada deh… Mau tahu aja… Kita tunggu sampe senja yuk, kali aja kita bisa lihat sunset dari sini”

Senja pun tiba, cahaya matahari dengan warna keemasan yang anggun muncul dengan keindahan yang dibawanya, sekali lagi aku harus bersyukur atas apa yang telah aku terima di dunia ini. Tiba-tiba aku merasakan pusing yang luar biasa hebat aku mencoba berdiri dan brukkkk...
Saat aku tersadar keesokan harinya, aku sudah berada diruangan serba putih yang sudah tak asing bagiku, ku rasakan ada kepala seseorang yang bersandar dilenganku, ku elus rambutnya, namun dia justru terbangun.
“Aya… Kamu sudah sadar? Dimana yang sakit?”
“Ini sudah sembuh kok, nih… Rio, kamu liat kan aku bisa gerakin badanku” Ujarku sambil berusaha untuk duduk bersandar
“Stop… Stopp… Mulai sekarang aku yang bantu kamu duduk, apapun yang mau kamu lakuin bilang aja, aku bakal siap sedia buat kamu!”
Aku hanya bisa tersenyum mendengar perkataannya,
“Sejak kapan, Ya? Kenapa kamu gak pernah cerita?” sambil mulai meneteskan air matanya
“Kok kamu nangis, alasan inilah yang bikin aku gak mau cerita ke siapa-siapa” kuusapkan air matanya, sedangkan aku sendiri juga tak kuasa menahan tangisku.
“Yaudah, aku bakal bikin kamu seneng terus sampai sekarang, apapun yang terjadi kamu harus percaya dan punya kemauan untuk sembuh…”
“Siappp bos” walaupun dalam hati kecil aku sudah tahu dengan segala kemungkinan terburuk
“Sudah, kamu harus kerja, jangan disini terus nanti pak bos marah lho, aku juga mau istirahat dulu”
“Aku pengen disini, Ya!”
“Gini aja kamu kerja, habis itu kamu mampir ke rumahku ya ambil laptopku, aku ada project disitu, hitung-hitung buat hiburan aku juga ya, please...”
“Baiklah, tapi kamu janji harus istirahat, aku janji bakal kesini terus” Ucapnya sambil mengelus kepalaku
“Yapss, hati-hati, jangan lupa makan”
Bye…”

Sedari Rio pergi aku mulai memikirkan segala hal yang harus ku lakukan, aku memutuskan untuk menjalani operasi pengangkatan kanker, saat aku berbincang dengan dokter, dia mengatakan bahwa kemungkinan berhasilnya operasi ini tidak bisa lebih dari 30%, aku memang sudah menyiapkan diri atas segala kemungkinan baik dan buruk, aku tidak ingin menghabiskan waktuku hanya untuk bersedih, setidaknya aku punya Rio yang akan selalu ada disisiku dan mendukung apapun keputusan yang ku ambil, selanjutnya dokter mulai mempersiapkan segalanya mulai dari menentukan hari kapan aku akan dioperasi, tim dokter yang akan mengoperasiku, dan segala keperluan operasi yang harus dipersiapkan secara matang.

Sorepun tiba, aku sungguh menanti kedatangan Rio, tok tok tok
“Cahaaaaaaayyyyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaaaa…” terdengar teriakan histeris dari teman-temanku yang datang bersama Rio,
“Kalian... Datang…” aku sesenggukan dan mulai menangis melihat mereka datang, sekali lagi terima kasih Rio…
“Cepet sembuh, Ayaaaa… Aku kangen kamu berat banget pokoknya” Ujar Meta, teman seredaksiku
“Lekas masuk kerja, Ya! Aku capek dengerin Meta ngoceh mulu sepanjang hari, selama ini kan cuma kamu yang mau dengerin dia ngoceh, jadi tolong cepat sembuh ya, selamatkan aku dari Meta!” celoteh Budi
“Kalian berdua itu ya, ingat ini dirumah sakit bukan hotel, dimana-mana kelahi terus” gusar Sinta
“Hahahaha, makasih ya kalian udah jengukin aku yang lemah kayak gini”
“Makanya, Ya, aku pengen kamu bersinar lagi, jadi kamu harus kuat dan jangan merasa kamu lemah” Dion menyemangatiku
“Aku gak suka kalau gak punya saingan, Ya! Kamu harus segera masuk!” cerca Siska
“Lain kali kalau ada apa-apa cerita ya, jangan disimpan aja, kami semua disini sudah nganggap kamu lebih dari teman, kamu bahkan udah kayak keluarga kita sendiri, kalau kamu sedih kami pasti ikut sedih, kalau kamu sakit pasti kita juga bakal ngerasa sakit, yang pasti ingat yaa… Kalau kami bakal selalu ada buat kamu” Putri menambahi
“Aku speechless… Pokoknya makasih banyak buat kalian, hmmm… Sini dong peluk aku…”

Akhirnya mereka memelukku dengan eratnya, dari sisi lain aku sekilas melihat Rio tersenyum, tapi air matanya justru keluar, akupun baru menyadari kalau sejak tadi Rio hanya memilih diam duduk di kursi yang ada dikamar rumah sakit ini.

Setelah puas berbincang-bincang teman-temanku langsung berpamitan dan pulang, sedangkan Rio memilih untuk tetap berada dikamarku,
“Gimana perasaanmu saat ini?” rio memulai pembicaraan
“Baik kok, berkat kamu badan dan perasaanku jadi segar lagi”
“Oh iya, ini laptopmu sudah ku bawa sekalian”
Thanks banget dehhh pokoknya buat kamu, aku pengen ngelanjutin projectku tapi kayaknya gak bakal selesai deh”
“Emang project apa? Siapa tau aku bisa bantu kamu”
Project kecil aja sih, bolehhlah, nanti kalau aku dah gak sanggup mungkin kamu bisa bantu aku, untuk sementara ini aku bakal nyicil dikit-dikit”
“Jangan sampai kamu terlalu capek yaa…”
“Siippp… Kan aku professional, hehe… Oh yaa… btw, aku mutusin buat ngejalani operasi pengangkatan kanker ini”
“Kamu serius, Ya?”
“He’em”
Feelingku gak enak, Ya, kapan itu? Kenapa gak kemo aja?”
“Kok kamu jadi pesimis, bukannya kamu yang bilang aku harus tetep optimis apapun yang terjadi, gak apa-apa kok, Rio, aku yakin Tuhan akan selalu kasih takdir yang terbaik, untuk masalah waktu dokter masih cari jadwal, kalau udah waktunya operasi aku bakal kasih tahu kamu kok”
“Tapi…”
“Sudahlah, Ya… Apapun yang terjadi kamu bakal tetep sayang sama aku kan… Sebagai sahabat”
“Jangan ditanya lagi itu sudah pasti” walaupun jauh didalam hati Rio terbesit perasaan yang tak karuan

Seminggu kemudian keputusan operasi sudah keluar dan Rio benar menepati janjinya tetap setia berada di sisiku, walaupun terkadang dia harus bekerja tapi seusainya dia masih menyempatkan diri untukku, sedangkan aku saat dia tak ada aku tetap menyempatkan untuk mengerjakan novelku.

Hari ini aku akan memulai operasi pengangkatan kanker ini, siap tidak siap aku harus siap dengan segala kemungkinan terbaik hingga terburuk aku sudah ikhlas.
“Cahaya… Yang kuat yaa… Aku hanya bisa mendo’akanmu”
“Pasti… Makasih ya Rio, kamu tetep disisiku hingga didetik-detik ini, maaf aku gak bisa balas apa-apa, aku harus balas apa? Maafin aku kalau aku masih jadi teman yang buruk, maafin aku yang lemah ini, maafin aku Rio…” Akupun mulai menangis terisak
“Jangan bilang gitu, Ya! Yang penting operasi ini harus berhasil dulu, baru kamu bilang kayak gitu… Ada yang hal penting yang harus ku katakan padamu setelah operasi, apapun yang terjadi, apapun yang ku lakukan karena kamu memang selalu dihatiku”

Belum sempat aku menjawab kata-kata Rio tim dokter masuk dan akan membawaku ke ruang operasi. Disamping ranjang Rio mengikuti, ku lihat tatapan matanya yang nanar dan akhirnya dia meneteskan air mata, akupun begitu.

“Rio… Lanjutkan cerita yang ku buat di laptopku ya, filenya ada di desktop di dalam folder “last project”, aku pengen kamu yang nyelesain itu, karena aku rasa aku udah gak sanggup, tolong yaa… Anggap aja ini permintaan terakhirku”
“Kamu yang harus nyelesain itu, Ya…”
“Sekali ini saja yaa… Aku sayang kamu” Aku mulai menangis

Akhirnya Cahaya masuk ke ruang operasi dan Rio hanya bisa menunggu diluar ruangan. Rio memutuskan untuk kembali ke kamar Cahaya mengambil laptop yang terdapat dikamarnya dan kembali ke ruang tunggu operasi. Dia mulai ragu apakah dia harus menuruti permintaan terakhir gadis yang selalu ditemaninya, tapi apalah dayannya dia tak pernah bisa menolak permintaan gadis itu. Lambat laun dia mulai menyalakan laptop itu, mencari file dimaksud Cahaya, dan dia memutuskan untuk membaca project novel yang dibuat Cahaya.

Rio hanya terdiam dengan tatapan yang tak pasti, perasaannya mulai tak karuan, dia mulai bingung menunjukkan apa yang dirasakannya, bahkan tanpa sadar dia sudah menangis. Setelah 5 jam lamanya dokter keluar dengan ekspresi yang menunjukkan penyesalan, bahkan belum sampai mengucapkan kata “maaf”, Rio yang tadinya terdiam, akhirnya menangis sejadi-jadinya, dia juga merasakan penyesalan yang terdalam.
“Maafkan aku yang bodoh ini… Cahaya! Ku mohon kembalilah Cahaya… Dokter tolong dokkk jangan kayak gini… Tolong dokkk, ada yang belum saya sampaikan sama Cahaya… Tuhan, tolong balikkin lagi Cahaya…” Rio menangis dengan penyesalan terdalam dari penyesalan-penyesalan yang pernah dialaminya sebelumnya.

Rio memeluk laptop berisi cerita yang Cahaya buat khusus untuk dirinya, selama ini Rio benar-benar tidak tahu tentang apa yang dirasakan Cahaya, dia hanya tahu Cahaya dari sekilas yang tampak saja. Dia tidak tahu bagaimana Cahaya benar-benar menjalani hidupnya selama ini yang dia tahu Cahaya adalah sosok yang memang selalu bersinar terlebih lagi dia tidak tahu bahwa Cahaya menyimpan perasaan yang dalam terhadap dirinya.

Lalu, dia membuka cerita tersebut dan menambahkan tentang apa yang dirasakannya saat itu juga sambil terisak-isak.
Andai kamu tahu, aku sudah menyimpan lama perasaan ini untukmu, aku selalu menunggu saat-saat spesial untuk bisa menyatakannya padamu, namun aku salah aku selalu melewatkan waktu-waktu yang begitu berharga untukmu, kini aku menyesali semuanya. Waktu itu aku sengaja berpacaran dengan wanita-wanita lain dan aku selalu menceritakannya padamu, kamu tahu kenapa aku melakukannya? Aku hanya ingin membuatmu cemburu, aku ingin tahu bagaimana perasaanmu yang sebenarnya untukku, ternyata semakin aku seperti itu justru aku yang tersakiti, bahkan kamu juga harus merasakan sakit karena tak bisa jujur atas perasaanmu. Waktu kamu memenangkan penghargaan dan naik ke atas podium saat itu aku sebenarnya benar-benar ingin memeluk dan mengucapkan selamat kepadamu, tapi aku terlalu rikuh, apa aku pantas melakukannya kepada seseorang yang hebat sepertimu? Apa aku pantas untuk seseorang sepertimu? Aku hanya bisa merasakan kebanggaan tersendiri melihatmu tersenyum manis diatas podium, yaa… Aku bangga bisa memiliki perasaan sayang ini untukmu. Waktu itu saat aku mengajakmu membolos, kamu ingat? Dalam hati aku ingin menyebutnya kencan, berminggu-minggu aku merencanakan semua itu bahkan dihari itu aku merasakan bingung luar biasa, aku harus pakai pakaian apa? Sepatu apa yang harus ku pakai? Dan akhirnya kita memakai baju dengan warna yang sama. Waktu itu saat aku menjemputmu dihari kita berkencan, aku melihatmu berjalan dari dalam rumah yang ku lihat saat itu adalah sesosok bidadari cantik tanpa sayap yang menggetarkan hatiku. Di hari kita berkencan, kamu bertanya kenapa tempat itu begitu sepi, aku sengaja melakukannya, jauh-jauh hari aku memesan tempat itu spesial untuk kita berdua, saat itu aku merasakan kebahagiaan tersendiri melihatmu tersenyum dengan indahnya, bahkan diam-diam aku mengambil gambar ekspresi kebahagiaanmu, satu persatu gambarmu lihat setiap harinya, yang aku tahu kamu adalah wanita tercantik yang hadir dihidupku. Di hari kita berkencan aku menceritakan mitos yang entah benar adanya atau tidak, aku hanya ingin tahu apa keinginanmu sebenarnya, apakah aku ada terlintas dalam keinginanmu? Dan kamu tahu apa keinginanku? Aku hanya ingin bersamamu selalu dan aku ingin keberanian yang lebih saat itu karena sebenarnya di momen itu aku benar-benar ingin menyatakan perasaanku padamu. Disaat itu aku hanya menunggu matahari akan mulai terbenam di keindahan itulah aku ingin kamu tahu perasaanku yang sebenarnya, tapi Tuhan berkata lain, mungkin inilah cara Tuhan mengajarkan aku agar tak selalu menyia-nyiakan waktu yang seharusnya ku lakukan sejak dulu. Kini aku hanya bisa menyesal, kamu telah pergi ditempat yang tak bisa ku raih, bagaimana aku bisa tersenyum seperti saat kamu selalu ada disampingku? Aku benar-benar kehilangan kamu…”.


Langitpun ikut menangis saat itu juga…..


Lanjutan dari part sebelumnya... Ini linknya http://prysia.blogspot.com/2015/01/halaman-yang-tertinggal-part-1.html :)

0 komentar:

 

Prysia's Note Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea