Sang fajar mulai
menampakkan diri, ku buka jendela kamar dan ku rasakan sejuknya embun yang
merayap di tubuhku. Aku berpikir dalam lamunanku,”Apakah jika aku sudah tiada
nanti dunia pagi akan merindukan aku seperti aku merindukan mereka? Apakah aku
akan menemukan keindahan lagi yang seperti ini kelak?”.
Tiba-tiba kepalaku terasa
pening dan berat, ku rasakan ada yang merembes keluar dari dalam hidung, aku
sudah menduganya dan hanya tersenyum ketika aku melihat darah itu. Hal ini
sudah sering terjadi sejak 3 bulan lalu dan bermula dari rasa sakit kepala dan
pusing yang sering ku rasakan, awalnya aku hanya mengira bahwa itu hanyalah
efek dari aku yang terlalu sering begadang, jadi aku hanya memberi pereda nyeri
sakit kepala saja. Namun, lambat laun rasa sakit kepala semakin sering datang
dan diiringi dengan mimisan, bahkan tiba-tiba aku merasa seperti akan pingsan
karena hilang keseimbangan. Akhirnya aku memutuskn untuk memeriksakan diri di
rumah sakit tanpa diketahui oleh siapapun. Aku akhirnya menjalani serangkaian
tes mulai dari tes CT Scan (Computerizd Tomography), tes
MRI (Magnetic Resonance Imaging),
dan Uji fisik, alhasil setelah melihat hasil tes dari pihak radiologi dokter
memberi diagnosa secara jelas dan terperinci dan akhirnya dokter memvonis bahwa
aku menderita kanker otak stadium 3.
Dokter yang telah memberi diagnosis dan vonis penyakitku ini
memberi saran untuk melakukan pengobatan lebih lanjut. Melihat kondisi kanker
otak yang ku derita biasanya untuk Stadium 3, pengobatan dilakukan dengan cara
kombinasi atau campuran. Pengobatan campuran yaitu menggabungkan lebih dari
satu cara pengobatan. Selain operasi, pengobatan–pengobatan jenis lainnya
adalah Radiotherapy, Radiosurgery,
Chemotheraphy. Hyperthermia, dan Immunotherapy. Aku benar-benar tak bergeming,
rasanya ingin menangis tapi aku tak sanggup, aku berkata kepada dokter itu
bahwa aku akan memikirkannya dulu. Setelah itu aku lebih memilih pulang dan
sesampainya aku langsung memilih tidur.
Saat
itu aku hanya ingin bangun dengan melupakan semunya harapanku apa yang ku
dengar sebelumnya hanyalah bagian dari mimpi burukku, tapi apalah dayaku, aku
benar-benar tak berdaya dan hingga saat ini aku lebih memilih untuk
menyimpannya sendiri.
Handphoneku berdering
ditengah lamunanku, seperti biasa diseberang telepon itu ada seseorang yang
datang untuk menerangi jalanku,
“Halooo…”
sambutku
“Lagi
apa, Yaa?” tanyanya
“Jalan
yuk! Sekali aja kita bolos kerja, kapan lagi kita bolos kerja selama ini aku
dan kamu gak pernah kan bolos bareng? Yaa… Walaupun selama ini aku emang sering
bolos dan kamu gak pernah bolos, ayolahhh… Uangmu ditabungan juga gak pernah
berkurang kan, gak usah takut uangmu habis.”
“Tapi….”
Aku hendak memotong pembicaraanku dengannya dan mengatakan bahwa aku sedang
tidak enak badan, namun aku lebih memilih untuk mengurungkannya, dalam lubuk
hatiku inilah kesempatanku untuk bersenang-senang dengannya dibalik dukaku,
“Udah,
mandi sana! Dandan yang cantik ya kayak biasanya, pokoknya hari ini kamu jadi
ratuku, sejam lagi aku jemput deh!”
“Hufftthh…
Dasar pemaksa! Yelahh, pokoknya bawa aku ke tempat yang bagus yaa”
“Siippp…
Byee…”
“Bye”
Setidaknya
Rio sudah mencerahkan hatiku, aku langsung bergegas membersihkan diri, selesai
mandi aku memperhatikan seisi lemariku, baru kali ini aku bingung dengan pakaian
yang akan ku pakai, akhirnya aku menetapkan hati untuk memilih dress selutut warna biru muda dengan
motif bunga-bunga, lalu ku padukan dengan cardigan
warna peach, inilah style-ku hanya simple dan chic, lalu
seperti biasa hanya menggunakan riasan senatural mungkin. Lalala~ Hatiku mulai bernyanyi-nyanyi tak pernah aku merasakan
hal yang membahagiakan aku seperti ini. Ku lirik jam ternyata aku masih
memiliki 30 menit tersisa sebelum Rio menjemputku, aku memutuskan untuk membuka
laptop dan menuliskan kelanjutan novel yang aku buat, disini aku mulai
menceritakan tentangnya… Rio…
Rio
mengajakku ke sebuah tempat yang benar-benar indah, selama ini walaupun aku
sering menuliskan cerita tentang tempat-tempat yang indah, tapi aku tak
menyangka aku akan menemukan tempat seindah ini...
“Rio…
Aku gak mimpi kan? Kita ada dimana?”
“Hahaha…
Kamu ini, Ya… Memang penulis fiksi, beneran kamu baru tahu tempat ini?”
“Aku
gak pernah ngelihat danau seindah ini, coba kamu lihat dari atas sini! Air
danaunya tenang dan memancarkan bias cahaya fatamorgana seperti pelangi,
dikelilingi dengan bunga mawar dan bunga matahari yang tumbuh merata, coba kamu
lihat! Masih banyak kupu-kupu berterbangan, dan kamu tahu ditempat kita berdiri
sekarang masih banyak pohon-pohon besar yang menambah kesejukan tempat ini,
ditambah dengan jalan setapak dari bebatuan, dan kamu lihat itu Rio… Ada sungai
kecil dengan air jernih yang mengalir, ahhhhhhh.. Sepertinya aku akan mulai
histeris, Hahahaha… Aku pengen ke bawah ke danau itu Rio! Ayooo kita kesana…!”
Ujarku dengan riang sambil aku mulai menuruni tangga kecil yang sengaja dibuat
agar orang dapat merasakan keindahan
danau secara langsung.
“Hati-hati,
Yaaa… Hahaha” ujarnya sambil menyusulku
“Rio,
tapi kenapa tempat ini begitu sepi? Padahal ini tempat bagus kan, ada
bangku-bangku kecil yang disediakan untuk duduk pula.”
“Hmm…
Entahlah, Ya… Mungkin timing kita
tepat.”
“Makasih
ya, Rio” ujarku sambil ku tersenyum padanya, sepertinya aku mulai bisa
mensyukuri hidup ini, entah umurku tinggal hitungan jari atau mungkin bisa
lebih setidaknya aku tidak akan menyesal setelah mengetahui Kuasa Tuhan yang
kecilpun terasa sangat indah, aku akan ikhlas dengan kepergianku kelak
“Kata
orang sekitar sini kalau kita mencuci muka dengan air danau tersebut segala
keinginan kita bisa terkabul lho…”
“Serius?”
Tanpa aba-aba aku langsung menuju pinggiran danau tersebut dn aku membasuh
mukaku dengan air yang ku ambil menggunakan telapak tangan
“Astaga,
Ya… Hati-hati…” sambil mengikuti apa yang ku lakukan,”Kamu pengen apa memangnya?”
Aku tersenyum lagi padanya,”Aku hanya pengen kehadiranku didunia membawa
segelintir kebahagiaan yang bisa membekas di hati orang-orang disekelilingku,
kalau kamu?”
“Ada
deh… Mau tahu aja… Kita tunggu sampe senja yuk, kali aja kita bisa lihat sunset dari sini”
Senja
pun tiba, cahaya matahari dengan warna keemasan yang anggun muncul dengan
keindahan yang dibawanya, sekali lagi aku harus bersyukur atas apa yang telah
aku terima di dunia ini. Tiba-tiba aku merasakan pusing yang luar biasa hebat
aku mencoba berdiri dan brukkkk...
Saat
aku tersadar keesokan harinya, aku sudah berada diruangan serba putih yang
sudah tak asing bagiku, ku rasakan ada kepala seseorang yang bersandar
dilenganku, ku elus rambutnya, namun dia justru terbangun.
“Aya…
Kamu sudah sadar? Dimana yang sakit?”
“Ini
sudah sembuh kok, nih… Rio, kamu liat kan aku bisa gerakin badanku” Ujarku
sambil berusaha untuk duduk bersandar
“Stop…
Stopp… Mulai sekarang aku yang bantu kamu duduk, apapun yang mau kamu lakuin
bilang aja, aku bakal siap sedia buat kamu!”
Aku
hanya bisa tersenyum mendengar perkataannya,
“Sejak
kapan, Ya? Kenapa kamu gak pernah cerita?” sambil mulai meneteskan air matanya
“Kok
kamu nangis, alasan inilah yang bikin aku gak mau cerita ke siapa-siapa”
kuusapkan air matanya, sedangkan aku sendiri juga tak kuasa menahan tangisku.
“Yaudah,
aku bakal bikin kamu seneng terus sampai sekarang, apapun yang terjadi kamu
harus percaya dan punya kemauan untuk sembuh…”
“Siappp
bos” walaupun dalam hati kecil aku sudah tahu dengan segala kemungkinan
terburuk
“Sudah,
kamu harus kerja, jangan disini terus nanti pak bos marah lho, aku juga mau
istirahat dulu”
“Aku
pengen disini, Ya!”
“Gini
aja kamu kerja, habis itu kamu mampir ke rumahku ya ambil laptopku, aku ada project disitu, hitung-hitung buat hiburan
aku juga ya, please...”
“Baiklah,
tapi kamu janji harus istirahat, aku janji bakal kesini terus” Ucapnya sambil
mengelus kepalaku
“Yapss,
hati-hati, jangan lupa makan”
“Bye…”
Sedari
Rio pergi aku mulai memikirkan segala hal yang harus ku lakukan, aku memutuskan
untuk menjalani operasi pengangkatan kanker, saat aku berbincang dengan dokter,
dia mengatakan bahwa kemungkinan berhasilnya operasi ini tidak bisa lebih dari
30%, aku memang sudah menyiapkan diri atas segala kemungkinan baik dan buruk,
aku tidak ingin menghabiskan waktuku hanya untuk bersedih, setidaknya aku punya
Rio yang akan selalu ada disisiku dan mendukung apapun keputusan yang ku ambil,
selanjutnya dokter mulai mempersiapkan segalanya mulai dari menentukan hari
kapan aku akan dioperasi, tim dokter yang akan mengoperasiku, dan segala
keperluan operasi yang harus dipersiapkan secara matang.
Sorepun
tiba, aku sungguh menanti kedatangan Rio, tok
tok tok…
“Cahaaaaaaayyyyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaaaa…”
terdengar teriakan histeris dari teman-temanku yang datang bersama Rio,
“Kalian...
Datang…” aku sesenggukan dan mulai menangis melihat mereka datang, sekali lagi terima kasih Rio…
“Cepet
sembuh, Ayaaaa… Aku kangen kamu berat banget pokoknya” Ujar Meta, teman
seredaksiku
“Lekas
masuk kerja, Ya! Aku capek dengerin Meta ngoceh mulu sepanjang hari, selama ini
kan cuma kamu yang mau dengerin dia ngoceh, jadi tolong cepat sembuh ya,
selamatkan aku dari Meta!” celoteh Budi
“Kalian
berdua itu ya, ingat ini dirumah sakit bukan hotel, dimana-mana kelahi terus” gusar
Sinta
“Hahahaha,
makasih ya kalian udah jengukin aku yang lemah kayak gini”
“Makanya,
Ya, aku pengen kamu bersinar lagi, jadi kamu harus kuat dan jangan merasa kamu
lemah” Dion menyemangatiku
“Aku
gak suka kalau gak punya saingan, Ya! Kamu harus segera masuk!” cerca Siska
“Lain
kali kalau ada apa-apa cerita ya, jangan disimpan aja, kami semua disini sudah
nganggap kamu lebih dari teman, kamu bahkan udah kayak keluarga kita sendiri,
kalau kamu sedih kami pasti ikut sedih, kalau kamu sakit pasti kita juga bakal
ngerasa sakit, yang pasti ingat yaa… Kalau kami bakal selalu ada buat kamu” Putri
menambahi
“Aku speechless… Pokoknya makasih banyak buat
kalian, hmmm… Sini dong peluk aku…”
Akhirnya
mereka memelukku dengan eratnya, dari sisi lain aku sekilas melihat Rio
tersenyum, tapi air matanya justru keluar, akupun baru menyadari kalau sejak
tadi Rio hanya memilih diam duduk di kursi yang ada dikamar rumah sakit ini.
Setelah
puas berbincang-bincang teman-temanku langsung berpamitan dan pulang, sedangkan
Rio memilih untuk tetap berada dikamarku,
“Gimana
perasaanmu saat ini?” rio memulai pembicaraan
“Baik
kok, berkat kamu badan dan perasaanku jadi segar lagi”
“Oh
iya, ini laptopmu sudah ku bawa sekalian”
“Thanks banget dehhh pokoknya buat kamu,
aku pengen ngelanjutin projectku tapi
kayaknya gak bakal selesai deh”
“Emang
project apa? Siapa tau aku bisa bantu
kamu”
“Project kecil aja sih, bolehhlah, nanti
kalau aku dah gak sanggup mungkin kamu bisa bantu aku, untuk sementara ini aku
bakal nyicil dikit-dikit”
“Jangan
sampai kamu terlalu capek yaa…”
“Siippp…
Kan aku professional, hehe… Oh yaa… btw, aku
mutusin buat ngejalani operasi pengangkatan kanker ini”
“Kamu
serius, Ya?”
“He’em”
“Feelingku gak enak, Ya, kapan itu? Kenapa
gak kemo aja?”
“Kok
kamu jadi pesimis, bukannya kamu yang bilang aku harus tetep optimis apapun
yang terjadi, gak apa-apa kok, Rio, aku yakin Tuhan akan selalu kasih takdir
yang terbaik, untuk masalah waktu dokter masih cari jadwal, kalau udah waktunya
operasi aku bakal kasih tahu kamu kok”
“Tapi…”
“Sudahlah, Ya… Apapun yang terjadi kamu bakal tetep sayang sama aku kan…
Sebagai sahabat”
“Jangan ditanya lagi itu sudah pasti” walaupun jauh didalam hati Rio terbesit
perasaan yang tak karuan
Seminggu
kemudian keputusan operasi sudah keluar dan Rio benar menepati janjinya tetap
setia berada di sisiku, walaupun terkadang dia harus bekerja tapi seusainya dia
masih menyempatkan diri untukku, sedangkan aku saat dia tak ada aku tetap
menyempatkan untuk mengerjakan novelku.
Hari
ini aku akan memulai operasi pengangkatan kanker ini, siap tidak siap aku harus
siap dengan segala kemungkinan terbaik hingga terburuk aku sudah ikhlas.
“Cahaya…
Yang kuat yaa… Aku hanya bisa mendo’akanmu”
“Pasti…
Makasih ya Rio, kamu tetep disisiku hingga didetik-detik ini, maaf aku gak bisa
balas apa-apa, aku harus balas apa? Maafin aku kalau aku masih jadi teman yang
buruk, maafin aku yang lemah ini, maafin aku Rio…” Akupun mulai menangis
terisak
“Jangan
bilang gitu, Ya! Yang penting operasi ini harus berhasil dulu, baru kamu bilang
kayak gitu… Ada yang hal penting yang harus ku katakan padamu setelah operasi,
apapun yang terjadi, apapun yang ku lakukan karena kamu memang selalu dihatiku”
Belum
sempat aku menjawab kata-kata Rio tim dokter masuk dan akan membawaku ke ruang
operasi. Disamping ranjang Rio mengikuti, ku lihat tatapan matanya yang nanar
dan akhirnya dia meneteskan air mata, akupun begitu.
“Rio…
Lanjutkan cerita yang ku buat di laptopku ya, filenya ada di desktop di dalam folder “last project”, aku pengen kamu yang
nyelesain itu, karena aku rasa aku udah gak sanggup, tolong yaa… Anggap aja ini
permintaan terakhirku”
“Kamu
yang harus nyelesain itu, Ya…”
“Sekali
ini saja yaa… Aku sayang kamu” Aku mulai menangis
Akhirnya
Cahaya masuk ke ruang operasi dan Rio hanya bisa menunggu diluar ruangan. Rio
memutuskan untuk kembali ke kamar Cahaya mengambil laptop yang terdapat
dikamarnya dan kembali ke ruang tunggu operasi. Dia mulai ragu apakah dia harus
menuruti permintaan terakhir gadis yang selalu ditemaninya, tapi apalah
dayannya dia tak pernah bisa menolak permintaan gadis itu. Lambat laun dia mulai
menyalakan laptop itu, mencari file dimaksud
Cahaya, dan dia memutuskan untuk membaca project
novel yang dibuat Cahaya.
Rio
hanya terdiam dengan tatapan yang tak pasti, perasaannya mulai tak karuan, dia
mulai bingung menunjukkan apa yang dirasakannya, bahkan tanpa sadar dia sudah
menangis. Setelah 5 jam lamanya dokter keluar dengan ekspresi yang menunjukkan
penyesalan, bahkan belum sampai mengucapkan kata “maaf”, Rio yang tadinya terdiam,
akhirnya menangis sejadi-jadinya, dia juga merasakan penyesalan yang terdalam.
“Maafkan
aku yang bodoh ini… Cahaya! Ku mohon kembalilah Cahaya… Dokter tolong dokkk jangan
kayak gini… Tolong dokkk, ada yang belum saya sampaikan sama Cahaya… Tuhan,
tolong balikkin lagi Cahaya…” Rio menangis dengan penyesalan terdalam dari
penyesalan-penyesalan yang pernah dialaminya sebelumnya.
Rio
memeluk laptop berisi cerita yang Cahaya buat khusus untuk dirinya, selama ini
Rio benar-benar tidak tahu tentang apa yang dirasakan Cahaya, dia hanya tahu
Cahaya dari sekilas yang tampak saja. Dia tidak tahu bagaimana Cahaya
benar-benar menjalani hidupnya selama ini yang dia tahu Cahaya adalah sosok
yang memang selalu bersinar terlebih lagi dia tidak tahu bahwa Cahaya menyimpan
perasaan yang dalam terhadap dirinya.
Lalu,
dia membuka cerita tersebut dan menambahkan tentang apa yang dirasakannya saat
itu juga sambil terisak-isak.
“Andai kamu tahu, aku sudah menyimpan lama
perasaan ini untukmu, aku selalu menunggu saat-saat spesial untuk bisa
menyatakannya padamu, namun aku salah aku selalu melewatkan waktu-waktu yang
begitu berharga untukmu, kini aku menyesali semuanya. Waktu itu aku sengaja
berpacaran dengan wanita-wanita lain dan aku selalu menceritakannya padamu,
kamu tahu kenapa aku melakukannya? Aku hanya ingin membuatmu cemburu, aku ingin
tahu bagaimana perasaanmu yang sebenarnya untukku, ternyata semakin aku seperti
itu justru aku yang tersakiti, bahkan kamu juga harus merasakan sakit karena
tak bisa jujur atas perasaanmu. Waktu kamu memenangkan penghargaan dan naik ke
atas podium saat itu aku sebenarnya benar-benar ingin memeluk dan mengucapkan
selamat kepadamu, tapi aku terlalu rikuh, apa aku pantas melakukannya kepada
seseorang yang hebat sepertimu? Apa aku pantas untuk seseorang sepertimu? Aku
hanya bisa merasakan kebanggaan tersendiri melihatmu tersenyum manis diatas
podium, yaa… Aku bangga bisa memiliki perasaan sayang ini untukmu. Waktu itu
saat aku mengajakmu membolos, kamu ingat? Dalam hati aku ingin menyebutnya
kencan, berminggu-minggu aku merencanakan semua itu bahkan dihari itu aku
merasakan bingung luar biasa, aku harus pakai pakaian apa? Sepatu apa yang
harus ku pakai? Dan akhirnya kita memakai baju dengan warna yang sama. Waktu
itu saat aku menjemputmu dihari kita berkencan, aku melihatmu berjalan dari
dalam rumah yang ku lihat saat itu adalah sesosok bidadari cantik tanpa sayap
yang menggetarkan hatiku. Di hari kita berkencan, kamu bertanya kenapa tempat
itu begitu sepi, aku sengaja melakukannya, jauh-jauh hari aku memesan tempat
itu spesial untuk kita berdua, saat itu aku merasakan kebahagiaan tersendiri
melihatmu tersenyum dengan indahnya, bahkan diam-diam aku mengambil gambar
ekspresi kebahagiaanmu, satu persatu gambarmu lihat setiap harinya, yang aku
tahu kamu adalah wanita tercantik yang hadir dihidupku. Di hari kita berkencan
aku menceritakan mitos yang entah benar adanya atau tidak, aku hanya ingin tahu
apa keinginanmu sebenarnya, apakah aku ada terlintas dalam keinginanmu? Dan
kamu tahu apa keinginanku? Aku hanya ingin bersamamu selalu dan aku ingin
keberanian yang lebih saat itu karena sebenarnya di momen itu aku benar-benar
ingin menyatakan perasaanku padamu. Disaat itu aku hanya menunggu matahari akan
mulai terbenam di keindahan itulah aku ingin kamu tahu perasaanku yang
sebenarnya, tapi Tuhan berkata lain, mungkin inilah cara Tuhan mengajarkan aku
agar tak selalu menyia-nyiakan waktu yang seharusnya ku lakukan sejak dulu.
Kini aku hanya bisa menyesal, kamu telah pergi ditempat yang tak bisa ku raih,
bagaimana aku bisa tersenyum seperti saat kamu selalu ada disampingku? Aku
benar-benar kehilangan kamu…”.
Langitpun
ikut menangis saat itu juga…..
0 komentar:
Posting Komentar