“Sellyyyyyy…
Jadilah pacarku! Aku pengen kamu jadi pacar aku!”, teriaknya dari tengah
lapangan,
“Haaaaa?
Apa? Gak dengar, hujannya terlalu deras, aku gak bisa dengar apa-apa, aku masuk
kelas dulu ya!”, teriakku membalas teriakkannya. Sebenarnya aku sudah
mendengarnya, tapi aku lebih baik berpura-pura tidak mendengarnya,
“Tunggu! Sellyyy!”
Aku memilih untuk masuk kelas kembali,
sambil menunggu hujan reda. Saat ini hujan turun begitu deras, didalam kelas hanya
tinggal aku dan Rhena, seperti biasa seusai jam sekolah kami tidak memilih
langsung pulang, kami lebih senang menghabiskan waktu untuk berselancar di dunia maya dengan menghandalkan wi-fi yang notabene memang dipasang
khusu dikelas kami dan gratis! Itu yang penting. Mengenai kejadian tadi aku
sudah bosan dan gak mau ambil pusing, dia adalah kakak kelasku, Bayu.
Dia
selalu pulang setelah aku pulang, entah kenapa dia selalu menungguku pulang
terlebih dahulu, namun seringkali ada kesempatan dia untuk mendekatiku justru
dia tak melakukannya, dia sama sekali tak pernah mendekatiku, bahkan untuk
bertegur sapapun sangat jarang dilakukannya, tapi jika sudah menyangkut
perasaannya kenapa dia begitu berani dan seblak-blakan itu. Ini sudah kesekian
kalinya dia menyatakan perasaannya padaku sejak aku pertama kali masuk SMA,
mulai dari bernyanyi didepan umum menyanyikan lagu yang diteriakkannya khusus
untuk aku disaat hujan deras dan petir yang bersahutan, menyanyi di podium yang
biasanya digunakan pada saat upacara hari senin disaat hujan gerimis hingga
muncul pelangi dilangit yang tiba-tiba cerah, menuliskan namaku dan namanya di
pagar sekolah, berteriak memanggil-manggil namaku sambil mengelilingi lapangan
pada saat hujan dan sangat ku ingat kejadian konyol itu dimana dia jatuh
terpeleset karena menyebut namaku sambil melompat-lompat, menuliskan
surat-surat kaleng yang diselipkannya di barang-barangku, hingga kejadian tadi
berteriak ditengah hujan. Dalam hati kecilku aku tersenyum, sekuat apa dia
bertahan? Sebenarnya Bayu adalah sosok yang sempurna dimata cewek lain, facenya oke, otaknya encer, sering ikut
lomba-lomba dan olimpiade dalam mata pelajaran, tapi ya sudahlah… Dimataku dia
hanya seseorang yang freak.
“Ly,
kenapa kamu tega banget ngebiarin kak Bayu menggila seperti itu?”, ujar Rhena
yang membuyarkan lamunanku didepan layar laptop,
“Entahlah,
Rhe… Aku cuma pengen tahu aja seberapa kuat dia bertahan buat dapatin aku,
walaupun aku gak pernah nguji cowok sampe segitunya, tapi biarlah ini menjadi
pelajaran buat dia, bahwa sosok yang dianggap sempurna gak akan selalu bisa
mendapatkan apapun semaunya dan kapanpun dengan mudah”,
“Awas,
Ly! Kualat kamu nanti, banyak tau yang ngiri sama kamu dikejar-kejar sama kak Bayu
sampe segitunya, kalau dia udah pergi baru tahu rasa kamu! Kamu yang bakalan
ngerasa kehilangan.”,
“Itu
urusan nanti, Rhee… Yang penting kau nikmati dulu kesenangan ini.”,
“Sampai kapan, Ly?”,
Aku hanya terdiam, pertanyaan terakhir Rhena
tak bisa ku jawab, aku selama ini hanya seperti mengulur-ulur waktu. Seharusnya
aku bersikap lebih manusiawi dan seharusnya aku sadar bahwa aku harus membuat
keputusan.
Keesokan paginya, hujan deras tiba-tiba
mengguyur, aku berusaha untuk tetap bangkit dan tidak malas pergi ke sekolah.
Aku mulai bersiap-siap seperti biasanya. Sampai saat aku sudah selesai
berpakaian mama berteriak dari ruang tamu.
“Lyyy…
Ada temanmu jemput kamu.”
“Siapa
maa?”, aku heran tumben-tumbennya ada yang datang menghampiri aku, boro-boro
teman-temanku, mereka paling malas kalau berangkat sekolah bareng aku, pasti
isinya hanya omelan mereka yang mengatakan aku ini leletlah, lemotlah, dan lain
sebagainya.
“Udah, kamu buruan keluar aja, mama gak sempat nanyain, mama mau balik ke
dapur”,
Sontak
aku langsung buru-buru keluar sambil membawa tas sekolahku. Akupun langsung
tercengang melihat siapa yang ada dirumahku.
“Kak Bayu?”
“Udah
siap ly? Ayo berangkat, aku udah nyiapin jas hujan buat kamu pakai kok, mau kan
bareng sama aku?”
“Kok bisa
ada disini?”, omongan kami terasa tak tentu arah, aku berusaha menyadarkan
pikiranku dari perilaku tak terduga lainnya dari si freak ini.
“Kamu gak
pengen telat kan? Ayo gak usah malu, santai aja yaa”, ujarnya sambil tersenyum
dan menyodorkan jas hujan yang sepertinya baru dibelinya,
“Ini baru
ya jas hujannya? Gak apa-apa aku pakai?”
“Iya itu
memang buat kamu”, ucapnya sambil tersenyum kembali.
Kamipun
berangkat dalam keadaan hujan, tapi semenjak kedatangan Bayu hujan sudah tak
begitu deras, baiklah setidaknya hari ini aku menjadi gadis baik yang membuka
hati untuk membuat orang berperilaku baik. Itu yang aku pikirkan. Sesampainya
ditempat parkir, dia menahanku sebentar sambil mengucapkan kalimat indah yang
selalu ku ingat.
“Kita itu seperti payung dan air hujan, yang hanya dipertemukan pada saat-saat
tertentu,”.
Setelah
itu akupun berlalu dan menuju kelas kami masing-masing.
Sesampainya
dikelas, ku lihat ponsel berdering tanda sms masuk, ku lihat nama pengirimnya,
tak lain lagi adalah Bayu. “Selly? Adakah
hal yang kamu suka? Katakan padaku satu hal yang kamu ingin aku lakukan
untukmu, karena aku ingin itu menjadi jurus terakhir yang harus aku lakukan”
Aku
bertanya-tanya, apa maksud smsnya barusan? Apa dia sudah lelah mengejarku? Apa
memberi harapan palsu padanya hingga dia memerlukan jurus terakhir? Dalam hati
kecilku aku tak ingin dia menghentikan aksinya untuk mendapatkanku, tapi aku
juga tak akan setega itu membiarkannya berlarut-larut dalam “pengejaran” yang
baginya takkan berujung. Ku balas smsnya seperti sedang memberikannya
sayembara. “Aku suka katak. Besokkan Minggu, jika besok pagi hujan
maka besok adalah hari keberuntunganmu, bawakan aku satu katak di saat hujan
datang, jika hujan tidak datang berarti kamu memang gak beruntung.”.
Aku
terasa ingin tertawa dalam hati, ini gak seharusnya aku lakukan karena ini
bukan sinetron yang mengharuskan laki-laki yang menyukaimu melakukan apa saja
yang kamu inginkan. Kita lihat saja besok.
Sampai
jam istirahat kedua tiba hujan masih belum berhenti, ku lihat dari sebrang
kelasku Bayu dan teman-temannya justru asyik bermain bola di lapangan dalam
tengah hujan, aku tak bisa membayangkan ekspresi guru dikelasnya saat masuk
kelas nanti apabila melihat penampilan mereka yang benar-benar berantakan
setelah main hujan. Ku pandangi sosok Bayu yang sangat hyper dalam bermain bola, badannya yang pas untuk seukuran cowok
memang keren, rambut yang basah tersibak air membuatnya terlihat menawan. Hati
kecilku berdesir, aku mulai merasakan kehangatan saat memandanginya, lelaki
yang begitu tangguh itu berusaha mendobrak pintu hatiku. Hujan siang hari ini
seakan memberi efek segar terhadap pemikiranku, aku mulai memikirkan hal-hal
positif dari sosok Bayu. Aku bahkan berpikir kenapa dia selalu muncul disaat
hujan juga muncul, atau hujan yang selalu muncul disaat dia juga muncul? Segala
hal yang dilakukannya saat menyatakan cinta yang berulang-ulang kali selalu
dilakukannya saat hujan, aku baru menyadarinya, mungkin energinya selama ini
bersumber dari air hujan, bahkan aku mulai memikirkannya dan berpikiran tidak-tidak
karenanya. Tanpa ku sadari aku menyunggingkan senyumku dan bertepatan saat ku
lihat sosok Bayu melambai-lambaikan kaos yang dilepasnya dari tubuhnya ke
arahku, aku tersipu malu dan langsung berjalan tanpa tujuan, akhirnya aku
memutuskan masuk ke toilet.
Hari
Minggu tepat pukul 04.00, aku sudah terbangun, ku dengar hujan memang turun,
tak ku sangka aku justru tersenyum lagi, aku menanti saat dimana Bayu akan
membawakan apa yang aku minta, walaupun aku sendiri merasa itu konyol.
Tepat
pukul 07.00 disaat hujan mulai reda, aku membuka pintu rumahku, ku lihat Bayu
sudah berdiri didepan pintu dengan tampilan kacau dimana seluruh badannya
tertempel lumpur, dan sangkalnya dia mengetuk didahiku. Aku terkaget lagi.
“Kak Bayu?
Pintunya udah dibuka, jadi gak perlu ngetuk.”, sambil memegangi dahiku,
“Hehe,
maaf ya, gak bisa bedain jidat sama pintu.”
“Jahatnyaa…”
“Udah
jangan cemberut gitu, ini aku bawain apa yang kamu suka, di dalamnya ini ada
aku sama kamu”, ujarnya sambil menyerahkan kotak kaca berisi 2 katak,
“Makasih
yaa kak”,
“Jadi???”
Aku menjawabnya
dengan senyum lebar dan termanis yang pernah ku berikan padanya. Terima kasih Bayu,
kamu seperti lembaran pelangi yang hadir setelah hujan badai dan petir
berkilat-kilat. Tapi, jika aku
bersama kamu, kita memang seperti hujan
dan payung yang dipertemukan pada saat-saat penuh keindahan.
0 komentar:
Posting Komentar