Senin, 26 Januari 2015

Bayu Dalam Hujan

Diposting oleh Prily Harsiani di 1/26/2015 12:41:00 PM
“Sellyyyyyy… Jadilah pacarku! Aku pengen kamu jadi pacar aku!”, teriaknya dari tengah lapangan,
“Haaaaa? Apa? Gak dengar, hujannya terlalu deras, aku gak bisa dengar apa-apa, aku masuk kelas dulu ya!”, teriakku membalas teriakkannya. Sebenarnya aku sudah mendengarnya, tapi aku lebih baik berpura-pura tidak mendengarnya,
“Tunggu! Sellyyy!”


Aku memilih untuk masuk kelas kembali, sambil menunggu hujan reda. Saat ini hujan turun begitu deras, didalam kelas hanya tinggal aku dan Rhena, seperti biasa seusai jam sekolah kami tidak memilih langsung pulang, kami lebih senang menghabiskan waktu untuk berselancar di  dunia maya dengan menghandalkan wi-fi yang notabene memang dipasang khusu dikelas kami dan gratis! Itu yang penting. Mengenai kejadian tadi aku sudah bosan dan gak mau ambil pusing, dia adalah kakak kelasku, Bayu. 

Dia selalu pulang setelah aku pulang, entah kenapa dia selalu menungguku pulang terlebih dahulu, namun seringkali ada kesempatan dia untuk mendekatiku justru dia tak melakukannya, dia sama sekali tak pernah mendekatiku, bahkan untuk bertegur sapapun sangat jarang dilakukannya, tapi jika sudah menyangkut perasaannya kenapa dia begitu berani dan seblak-blakan itu. Ini sudah kesekian kalinya dia menyatakan perasaannya padaku sejak aku pertama kali masuk SMA, mulai dari bernyanyi didepan umum menyanyikan lagu yang diteriakkannya khusus untuk aku disaat hujan deras dan petir yang bersahutan, menyanyi di podium yang biasanya digunakan pada saat upacara hari senin disaat hujan gerimis hingga muncul pelangi dilangit yang tiba-tiba cerah, menuliskan namaku dan namanya di pagar sekolah, berteriak memanggil-manggil namaku sambil mengelilingi lapangan pada saat hujan dan sangat ku ingat kejadian konyol itu dimana dia jatuh terpeleset karena menyebut namaku sambil melompat-lompat, menuliskan surat-surat kaleng yang diselipkannya di barang-barangku, hingga kejadian tadi berteriak ditengah hujan. Dalam hati kecilku aku tersenyum, sekuat apa dia bertahan? Sebenarnya Bayu adalah sosok yang sempurna dimata cewek lain, facenya oke, otaknya encer, sering ikut lomba-lomba dan olimpiade dalam mata pelajaran, tapi ya sudahlah… Dimataku dia hanya seseorang yang freak.

“Ly, kenapa kamu tega banget ngebiarin kak Bayu menggila seperti itu?”, ujar Rhena yang membuyarkan lamunanku didepan layar laptop,
“Entahlah, Rhe… Aku cuma pengen tahu aja seberapa kuat dia bertahan buat dapatin aku, walaupun aku gak pernah nguji cowok sampe segitunya, tapi biarlah ini menjadi pelajaran buat dia, bahwa sosok yang dianggap sempurna gak akan selalu bisa mendapatkan apapun semaunya dan kapanpun dengan mudah”,
“Awas, Ly! Kualat kamu nanti, banyak tau yang ngiri sama kamu dikejar-kejar sama kak Bayu sampe segitunya, kalau dia udah pergi baru tahu rasa kamu! Kamu yang bakalan ngerasa kehilangan.”,
“Itu urusan nanti, Rhee… Yang penting kau nikmati dulu kesenangan ini.”,
“Sampai kapan, Ly?”,

Aku hanya terdiam, pertanyaan terakhir Rhena tak bisa ku jawab, aku selama ini hanya seperti mengulur-ulur waktu. Seharusnya aku bersikap lebih manusiawi dan seharusnya aku sadar bahwa aku harus membuat keputusan.

Keesokan paginya, hujan deras tiba-tiba mengguyur, aku berusaha untuk tetap bangkit dan tidak malas pergi ke sekolah. Aku mulai bersiap-siap seperti biasanya. Sampai saat aku sudah selesai berpakaian mama berteriak dari ruang tamu.
“Lyyy… Ada temanmu jemput kamu.”
“Siapa maa?”, aku heran tumben-tumbennya ada yang datang menghampiri aku, boro-boro teman-temanku, mereka paling malas kalau berangkat sekolah bareng aku, pasti isinya hanya omelan mereka yang mengatakan aku ini leletlah, lemotlah, dan lain sebagainya.
“Udah, kamu buruan keluar aja, mama gak sempat nanyain, mama mau balik ke dapur”,

Sontak aku langsung buru-buru keluar sambil membawa tas sekolahku. Akupun langsung tercengang melihat siapa yang ada dirumahku.
“Kak Bayu?”
“Udah siap ly? Ayo berangkat, aku udah nyiapin jas hujan buat kamu pakai kok, mau kan bareng sama aku?”
“Kok bisa ada disini?”, omongan kami terasa tak tentu arah, aku berusaha menyadarkan pikiranku dari perilaku tak terduga lainnya dari si freak ini.
“Kamu gak pengen telat kan? Ayo gak usah malu, santai aja yaa”, ujarnya sambil tersenyum dan menyodorkan jas hujan yang sepertinya baru dibelinya,
“Ini baru ya jas hujannya? Gak apa-apa aku pakai?”
“Iya itu memang buat kamu”, ucapnya sambil tersenyum kembali.
Kamipun berangkat dalam keadaan hujan, tapi semenjak kedatangan Bayu hujan sudah tak begitu deras, baiklah setidaknya hari ini aku menjadi gadis baik yang membuka hati untuk membuat orang berperilaku baik. Itu yang aku pikirkan. Sesampainya ditempat parkir, dia menahanku sebentar sambil mengucapkan kalimat indah yang selalu ku ingat.
“Kita itu seperti payung dan air hujan, yang hanya dipertemukan pada saat-saat tertentu,”.
Setelah itu akupun berlalu dan menuju kelas kami masing-masing.

Sesampainya dikelas, ku lihat ponsel berdering tanda sms masuk, ku lihat nama pengirimnya, tak lain lagi adalah Bayu. “Selly? Adakah hal yang kamu suka? Katakan padaku satu hal yang kamu ingin aku lakukan untukmu, karena aku ingin itu menjadi jurus terakhir yang harus aku lakukan”

Aku bertanya-tanya, apa maksud smsnya barusan? Apa dia sudah lelah mengejarku? Apa memberi harapan palsu padanya hingga dia memerlukan jurus terakhir? Dalam hati kecilku aku tak ingin dia menghentikan aksinya untuk mendapatkanku, tapi aku juga tak akan setega itu membiarkannya berlarut-larut dalam “pengejaran” yang baginya takkan berujung. Ku balas smsnya seperti sedang memberikannya sayembara. “Aku suka  katak. Besokkan Minggu, jika besok pagi hujan maka besok adalah hari keberuntunganmu, bawakan aku satu katak di saat hujan datang, jika hujan tidak datang berarti kamu memang gak beruntung.”.

Aku terasa ingin tertawa dalam hati, ini gak seharusnya aku lakukan karena ini bukan sinetron yang mengharuskan laki-laki yang menyukaimu melakukan apa saja yang kamu inginkan. Kita lihat saja besok.

Sampai jam istirahat kedua tiba hujan masih belum berhenti, ku lihat dari sebrang kelasku Bayu dan teman-temannya justru asyik bermain bola di lapangan dalam tengah hujan, aku tak bisa membayangkan ekspresi guru dikelasnya saat masuk kelas nanti apabila melihat penampilan mereka yang benar-benar berantakan setelah main hujan. Ku pandangi sosok Bayu yang sangat hyper dalam bermain bola, badannya yang pas untuk seukuran cowok memang keren, rambut yang basah tersibak air membuatnya terlihat menawan. Hati kecilku berdesir, aku mulai merasakan kehangatan saat memandanginya, lelaki yang begitu tangguh itu berusaha mendobrak pintu hatiku. Hujan siang hari ini seakan memberi efek segar terhadap pemikiranku, aku mulai memikirkan hal-hal positif dari sosok Bayu. Aku bahkan berpikir kenapa dia selalu muncul disaat hujan juga muncul, atau hujan yang selalu muncul disaat dia juga muncul? Segala hal yang dilakukannya saat menyatakan cinta yang berulang-ulang kali selalu dilakukannya saat hujan, aku baru menyadarinya, mungkin energinya selama ini bersumber dari air hujan, bahkan aku mulai memikirkannya dan berpikiran tidak-tidak karenanya. Tanpa ku sadari aku menyunggingkan senyumku dan bertepatan saat ku lihat sosok Bayu melambai-lambaikan kaos yang dilepasnya dari tubuhnya ke arahku, aku tersipu malu dan langsung berjalan tanpa tujuan, akhirnya aku memutuskan masuk ke toilet.

Hari Minggu tepat pukul 04.00, aku sudah terbangun, ku dengar hujan memang turun, tak ku sangka aku justru tersenyum lagi, aku menanti saat dimana Bayu akan membawakan apa yang aku minta, walaupun aku sendiri merasa itu konyol.

Tepat pukul 07.00 disaat hujan mulai reda, aku membuka pintu rumahku, ku lihat Bayu sudah berdiri didepan pintu dengan tampilan kacau dimana seluruh badannya tertempel lumpur, dan sangkalnya dia mengetuk didahiku. Aku terkaget lagi.
“Kak Bayu? Pintunya udah dibuka, jadi gak perlu ngetuk.”, sambil memegangi dahiku,
“Hehe, maaf ya, gak bisa bedain jidat sama pintu.”
“Jahatnyaa…”
“Udah jangan cemberut gitu, ini aku bawain apa yang kamu suka, di dalamnya ini ada aku sama kamu”, ujarnya sambil menyerahkan kotak kaca berisi 2 katak,
“Makasih yaa kak”,
“Jadi???”

Aku menjawabnya dengan senyum lebar dan termanis yang pernah ku berikan padanya. Terima kasih Bayu, kamu seperti lembaran pelangi yang hadir setelah hujan badai dan petir berkilat-kilat. Tapi, jika  aku bersama  kamu, kita memang seperti hujan dan payung yang dipertemukan pada saat-saat penuh keindahan.






0 komentar:

 

Prysia's Note Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea