Rabu, 28 Januari 2015

Kenapa Harus Selalu PNS?

Diposting oleh Prily Harsiani di 1/28/2015 01:47:00 PM
Catatan kali ini aku buat sebagai pembelaan terhadap PNS (Pegawai Negeri Sipil) yang di cap sebagai pekerjaan yang menghabiskan anggaran Negara dan semua yang ada di catatan ini aku buat berdasarkan pandangan pribadiku sendiri plus merupakan pembelaan terhadap kedua orang tuaku yang notabene memang bekerja sebagai PNS.


Sejak awal aku memang kurang suka dengan bapak presiden kita sekarang ini, karena aku memang tidak suka dengan orang yang terlalu digembor-gemborkan ataupun terlalu menunjukkan pencitraan diri (kita tidak pernah tahu isi hati seseorang), aku gak akan mengatakan sebab-sebabnya secara keseluruhan, tapi yang jelas semenjak beliau menjabat sebagai presiden aku seringkali membaca berita tentang kebijakan-kebijakan yang diterapkan untuk PNS dan hal itu semakin membuatku geram. (Tapi, ingat! Jangan anggap aku belum move on terhadap hasil PEMILU kemarin!).

Berikut aku cantumkan “sedikit” dari sekian banyak berita-berita di media massa online yang menyangkut tentang kebijakan baru yang diterapkan bapak presiden kepada PNS, yaitu:
1.       Inilah Derita PNS pada Era Jokowi-JK
Artikel dapat dilihat pada link ini: http://www.gurusd.net/2014/10/inilah-derita-pns-pada-era-jokowi-jk.html
2.      Melihat Nasib PNS di Era Pemerintahan Jokowi-JK Mendatang
Artikel dapat dilihat pada link ini: http://www.radarpekalonganonline.com/45138/melihat-nasib-pns-di-era-pemerintahan-jokowi-jk-mendatang/
3.      Tunjangan Anak-Istri dan Tunjangan Jabatan PNS dihapus
Artikel dapat dilihat pada link ini: http://www.herlinbima.com/2015/01/26/tunjangan-anak-istri-dan-tunjangan-jabatan-pns-dihapus/

Okelah, mungkin bapak presiden memiliki alasan, pandangan (sudut pandang) lain yang berbeda denganku. Dalam pandanganku, boleh saja jika bapak presiden berpikir bahwa PNS menghabiskan banyak anggaran, tapi tidak semua PNS seperti itu, mayoritas  PNS yang seperti itu sebut saja mereka itu oknum. Aku tekankan sekali lagi tidak semua PNS seperti itu, itu hanya oknum terselubung.

Menurut kehidupan pribadiku yang memiliki kedua orang tua yang PNS, aku selalu merasa tertekan dengan pemberitaan-pemberitaan seperti diatas, bagaimana tidak? Aku tahu sekali kehidupan keluargaku itu seperti apa. Kedua orang tuaku memiliki 3 orang anak yang masih harus dibiayai kehidupannya termasuk aku yang masih kuliah dan melakukan perantauan (jelas sekali biaya kuliah dan biaya kehidupan sehari-sehari membutuhkan biaya yang tidak sedikit, hingga aku juga memilih melakukan kerja sampingan), belum lagi kedua adikku yang usianya hanya terpaut satu tahun dan biaya yang dikeluarkan untuk pendidikan mereka juga tak tanggung-tanggung.

Aku sendiri juga tahu berapa gaji bersih yang diterima kedua orang tuaku tiap bulannya dan aku rasa itu hanya sekadar cukup untuk kehidupan anggota keluargaku, bukannya kami tidak bersyukur atas gaji tersebut, tapi apa tak bisa kerja keras kedua orang tuaku diganjar dengan setimpal? Misalnya saja papaku, sekarang aku memang sedang ada di kota perantauan dan jauh dari mereka, tapi sewaktu aku pulang ke kampung halamanku aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, papaku selalu lembur dengan tugas-tugas kantor yang dibawanya pulang ke rumah, kehidupannya hanya monoton di depan layar laptop sambil mengolah data ataupun membuat laporan-laporan yang aku sendiri juga malas melihat laporan-laporan yang menumpuk itu, belum lagi lembaran-lembaran data yang harus diolah secara manual plus secara komputerisasi. Halooooo… Papaku sudah mengorbankan waktunya untuk bersama keluarga hanya demi tugas PNS-nya! Belum lagi mamaku, PNS yang bekerja di lapangan dan beliau juga punya tugas sebagai ibu rumah tangga, dari subuh beliau sudah terbangun, mengurus pekerjaan rumah ini-itu dan pukul 06.30 wib beliau sudah harus berangkat ke kantor untuk absen dan menyiapkan berkas-berkas ataupun melakukan pekerjaan yang harus dilakukannya, setelah itu mendapatkan tugas untuk melakukan survey atau memantau kerja lapangan secara langsung. Tidak sedikit uang yang harus dikeluarkan untuk melakukan perjalanan survey kesana kemari, bahkan mamaku sering sekali mengeluarkan uang pribadinya untuk urusan kantor karena dirasa tunjangan untuk kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan memang kurang. Mungkin penjelasanku disini belum cukup untuk menggambarkan apa yang ada di dalam pikiranku, bagi kalian mungkin ada yang menganggap bahwa ini wajar dan biasa saja, tapi bagiku ini tidak seperti yang kalian bayangkan. Intinya aku disini mengungkapkan antara input dan proses yang dilakukan tidak sesuai dengan hasil yang didapat.

Dari sekian kerja keras yang dilakukan kedua orang tuaku masih saja dibilang PNS itu seperti inilah… Seperti itulah… Blablablaa…. Coba dipikir sebelum berbicara ataupun menganggap semua itu sepele! Tidak semua PNS itu hanya bersenang-senang dalam pekerjaannya, Tidak semua PNS bergaji besar, dan yang paling penting TIDAK SEMUA PNS KORUPSI. Kenapa aku berkata seperti ini? Karena, aku tahu kehidupan keluarga, jika saja kedua orang tuaku hanya bersenang-senang, bergaji besar, ataupun korupsi aku tidak mungkin akan seperti ini, aku pasti akan memilih hidup bermewah-mewahan, keluargaku juga akan menjadi orang terkaya di kampung halamanku, tapi nyatanya tidak seperti itu!

Mengenai pemberitaan tentang tunjangan anak-istri akan dihapuskan hal itu sungguh mengecewakan. Jika tunjangan dihapuskan apa yang didapat sebagai balasan jasa profesi PNS (Jangan mengatakan seperti ini,”Kalau begitu ya gak usah jadi PNS-lah…”). PNS dimata khalayak ramai dianggap sebagai orang kaya, nyatanya itu hanya sebagian (boleh saja kalian menyebut itu hasil permainan kotor). Jika anak-istri tidak mendapatkan tunjangan apalagi yang diharapakan, apa hanya mengandalkan gaji saja? Contoh kecil yang terjadi di masyarakat, masalah beasiswa pendidikan untuk anak, kebanyakan di Indonesia yang menjadi syarat untuk mendapatkan beasiswa adalah dengan melampirkan SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu), oke… Yang aku tahu kebanyakan masyarakat bisa dengan mudah memanipulasi data kekayaan untuk bisa mendapatkan SKTM (aku sering melihat ini di daerahku), tapi bagi PNS hal itu tidak bisa dilakukan, jika dilakukan pasti hanya akan mendapatkan cemoohan ataupun gunjing-gunjing tetangga,”PNS kok minta SKTM!”. Jadi… Dalam pemikiran sebagian PNS (termasuk keluargaku), tunjangan adalah salah satu pegangan yang harus tetap ada untuk biaya pendidikan anak-anaknya sampai pada tahap pendidikan yang layak dan bagus, selain harus berebutan beasiswa.

Sekian saja yang ingin aku sampaikan dalam catatan ini, sebenarnya msih banyak yang ingin aku ungkapkan, tapi hatiku mulai lelah…

(Uneg-uneg yang ada dalam catatan ini adalah merupakan salah satu sudut pandang kecilku, yang memang benar terasa. Jadi, jika kalian berpikiran dewasa kalian juga tidak akan menyalahkan ini, jangan pernah menyalahkan perasaan seseorang jika kalian sendiri tidak pernah mengalaminya  :)). Byeee…




0 komentar:

 

Prysia's Note Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea