Catatan
kali ini aku buat sebagai pembelaan terhadap PNS (Pegawai Negeri Sipil) yang di
cap sebagai pekerjaan yang menghabiskan anggaran Negara dan semua yang ada di
catatan ini aku buat berdasarkan pandangan pribadiku sendiri plus merupakan
pembelaan terhadap kedua orang tuaku yang notabene memang bekerja sebagai PNS.
Sejak
awal aku memang kurang suka dengan bapak presiden kita sekarang ini, karena aku
memang tidak suka dengan orang yang terlalu digembor-gemborkan ataupun terlalu
menunjukkan pencitraan diri (kita tidak pernah tahu isi hati seseorang), aku
gak akan mengatakan sebab-sebabnya secara keseluruhan, tapi yang jelas semenjak
beliau menjabat sebagai presiden aku seringkali membaca berita tentang
kebijakan-kebijakan yang diterapkan untuk PNS dan hal itu semakin membuatku
geram. (Tapi, ingat! Jangan anggap aku belum move on terhadap hasil PEMILU kemarin!).
Berikut
aku cantumkan “sedikit” dari sekian banyak berita-berita di media massa online yang menyangkut tentang kebijakan
baru yang diterapkan bapak presiden kepada PNS, yaitu:
1.
Inilah
Derita PNS pada Era Jokowi-JK
Artikel
dapat dilihat pada link ini: http://www.gurusd.net/2014/10/inilah-derita-pns-pada-era-jokowi-jk.html
2. Melihat Nasib PNS di Era Pemerintahan Jokowi-JK Mendatang
Artikel dapat dilihat pada link ini: http://www.radarpekalonganonline.com/45138/melihat-nasib-pns-di-era-pemerintahan-jokowi-jk-mendatang/
3.
Tunjangan
Anak-Istri dan Tunjangan Jabatan PNS dihapus
Artikel dapat dilihat pada link ini: http://www.herlinbima.com/2015/01/26/tunjangan-anak-istri-dan-tunjangan-jabatan-pns-dihapus/
Okelah,
mungkin bapak presiden memiliki alasan, pandangan (sudut pandang) lain yang
berbeda denganku. Dalam pandanganku, boleh saja jika bapak presiden berpikir
bahwa PNS menghabiskan banyak anggaran, tapi tidak semua PNS seperti itu, mayoritas
PNS yang seperti itu sebut saja mereka itu
oknum. Aku tekankan sekali lagi tidak semua PNS seperti itu, itu hanya oknum
terselubung.
Menurut
kehidupan pribadiku yang memiliki kedua orang tua yang PNS, aku selalu merasa
tertekan dengan pemberitaan-pemberitaan seperti diatas, bagaimana tidak? Aku
tahu sekali kehidupan keluargaku itu seperti apa. Kedua orang tuaku memiliki 3
orang anak yang masih harus dibiayai kehidupannya termasuk aku yang masih
kuliah dan melakukan perantauan (jelas sekali biaya kuliah dan biaya kehidupan
sehari-sehari membutuhkan biaya yang tidak sedikit, hingga aku juga memilih
melakukan kerja sampingan), belum lagi kedua adikku yang usianya hanya terpaut
satu tahun dan biaya yang dikeluarkan untuk pendidikan mereka juga tak
tanggung-tanggung.
Aku
sendiri juga tahu berapa gaji bersih yang diterima kedua orang tuaku tiap
bulannya dan aku rasa itu hanya sekadar cukup untuk kehidupan anggota
keluargaku, bukannya kami tidak bersyukur atas gaji tersebut, tapi apa tak bisa
kerja keras kedua orang tuaku diganjar dengan setimpal? Misalnya saja papaku,
sekarang aku memang sedang ada di kota perantauan dan jauh dari mereka, tapi sewaktu
aku pulang ke kampung halamanku aku melihat dengan mata kepalaku sendiri,
papaku selalu lembur dengan tugas-tugas kantor yang dibawanya pulang ke rumah,
kehidupannya hanya monoton di depan layar laptop sambil mengolah data ataupun
membuat laporan-laporan yang aku sendiri juga malas melihat laporan-laporan
yang menumpuk itu, belum lagi lembaran-lembaran data yang harus diolah secara
manual plus secara komputerisasi.
Halooooo… Papaku sudah mengorbankan waktunya untuk bersama keluarga hanya demi
tugas PNS-nya! Belum lagi mamaku, PNS yang bekerja di lapangan dan beliau juga
punya tugas sebagai ibu rumah tangga, dari subuh beliau sudah terbangun,
mengurus pekerjaan rumah ini-itu dan pukul 06.30 wib beliau sudah harus
berangkat ke kantor untuk absen dan menyiapkan berkas-berkas ataupun melakukan
pekerjaan yang harus dilakukannya, setelah itu mendapatkan tugas untuk
melakukan survey atau memantau kerja lapangan
secara langsung. Tidak sedikit uang yang harus dikeluarkan untuk melakukan
perjalanan survey kesana kemari,
bahkan mamaku sering sekali mengeluarkan uang pribadinya untuk urusan kantor
karena dirasa tunjangan untuk kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan memang
kurang. Mungkin penjelasanku disini belum cukup untuk menggambarkan apa yang
ada di dalam pikiranku, bagi kalian mungkin ada yang menganggap bahwa ini wajar
dan biasa saja, tapi bagiku ini tidak seperti yang kalian bayangkan. Intinya
aku disini mengungkapkan antara input
dan proses yang dilakukan tidak sesuai dengan hasil yang didapat.
Dari sekian
kerja keras yang dilakukan kedua orang tuaku masih saja dibilang PNS itu
seperti inilah… Seperti itulah… Blablablaa…. Coba dipikir sebelum berbicara
ataupun menganggap semua itu sepele! Tidak semua PNS itu hanya bersenang-senang
dalam pekerjaannya, Tidak semua PNS bergaji besar, dan yang paling penting
TIDAK SEMUA PNS KORUPSI. Kenapa aku berkata seperti ini? Karena, aku tahu
kehidupan keluarga, jika saja kedua orang tuaku hanya bersenang-senang, bergaji
besar, ataupun korupsi aku tidak mungkin akan seperti ini, aku pasti akan
memilih hidup bermewah-mewahan, keluargaku juga akan menjadi orang terkaya di
kampung halamanku, tapi nyatanya tidak seperti itu!
Mengenai
pemberitaan tentang tunjangan anak-istri akan dihapuskan hal itu sungguh
mengecewakan. Jika tunjangan dihapuskan apa yang didapat sebagai balasan jasa
profesi PNS (Jangan mengatakan seperti ini,”Kalau begitu ya gak usah jadi
PNS-lah…”). PNS dimata khalayak ramai dianggap sebagai orang kaya, nyatanya itu
hanya sebagian (boleh saja kalian menyebut itu hasil permainan kotor). Jika
anak-istri tidak mendapatkan tunjangan apalagi yang diharapakan, apa hanya
mengandalkan gaji saja? Contoh kecil yang terjadi di masyarakat, masalah
beasiswa pendidikan untuk anak, kebanyakan di Indonesia yang menjadi syarat untuk
mendapatkan beasiswa adalah dengan melampirkan SKTM (Surat Keterangan Tidak
Mampu), oke… Yang aku tahu kebanyakan masyarakat bisa dengan mudah memanipulasi
data kekayaan untuk bisa mendapatkan SKTM (aku sering melihat ini di daerahku),
tapi bagi PNS hal itu tidak bisa dilakukan, jika dilakukan pasti hanya akan
mendapatkan cemoohan ataupun gunjing-gunjing tetangga,”PNS kok minta SKTM!”.
Jadi… Dalam pemikiran sebagian PNS (termasuk keluargaku), tunjangan adalah
salah satu pegangan yang harus tetap ada untuk biaya pendidikan anak-anaknya
sampai pada tahap pendidikan yang layak dan bagus, selain harus berebutan
beasiswa.
Sekian
saja yang ingin aku sampaikan dalam catatan ini, sebenarnya msih banyak yang
ingin aku ungkapkan, tapi hatiku mulai lelah…
(Uneg-uneg
yang ada dalam catatan ini adalah merupakan salah satu sudut pandang kecilku,
yang memang benar terasa. Jadi, jika kalian berpikiran dewasa kalian juga tidak
akan menyalahkan ini, jangan pernah menyalahkan perasaan seseorang jika kalian
sendiri tidak pernah mengalaminya :)). Byeee…
0 komentar:
Posting Komentar