Selasa, 27 Januari 2015

Halaman yang Tertinggal (Part-1)

Diposting oleh Prily Harsiani di 1/27/2015 01:04:00 AM
Mungkin bagi sebagian seseorang banyak yang menganggap bahwa kesempurnaan hidup seseorang bisa dilihat dari luar, akulah sebagian dari beberapa orang yang selalu di anggap begitu, aku hanya bisa berharap menjadi sosok yang sempurna.   

Hari  yang ku tunggu-tunggu sudah di depan mata, aku sudah tidak sabar menanti detik-detik yang serasa berharga dihidupku. Ku pandangi jam dinding di kamarku masih jam 3 sore, berarti masih 2 jam lagi yang harus aku lalui, aku sudah menyiapkan semuanya, akupun sudah mandi dan berdandan sejak jam 2 tadi. Seperti biasalah dandananku kali ini tampak natural dan santai. Walaupun simple, Aku tetap ingin terlihat fresh dan menarik, tak akan ku lewati penantian ini dengan sebuah kesalahan kecil yang mungkin saja bisa menghancurkan semuanya. Alarm HP-ku sudah berdering tepat menunjukkan jam 5 sore! Aku siap berangkat, kuraih ransel coklat kesayangan yang sudah setia bersamaku mulai kelas 3 SMA, ku dapatkan itu dari orang yang paling terkasih, yaitu bundaku, ransel itu merupakan pemberiannya dihari ulang tahun terindah bahkan juga terburukku. Aku ingat betul kejadian itu, 03 Maret 2008 tepat usiaku 17 tahun. Walaupun aku tidak merayakannya dengan pesta bermewah-mewah aku cukup bahagia, karena bunda ingat sekali dengan hari ulang tahunku itu, dialah yang pertama kali membangunkanku di pagi itu dan mengecup manis keningku, bahkan hingga sekarang masih terasa manis kecupan itu, dibelainya rambutku hingga suaranya yang lembut benar-benar membangunkanku dan diletakkanlah disampingku hadiah sederhana tapi sangat bermakna bagiku berupa tas ransel coklat itu.
“Selamat ulang tahun sayang, semoga kamu benar-benar menjadi cahaya didunia ini.”kenangku.

Maklumlah, dulu aku hanya tinggal berdua dengannya, ayah sudah meninggalkan kami demi wanita lain dan akupun tak mau membahasnya. Namun, disaat aku merasa bahagia atas usia 17 tahun ataupun “Sweet Seventeen (Seperti yang orang-orang bilang)” yang kudapat aku benar-benar merasa kehilangan sosok terkasih itu, tepat pukul 12 siang, dia menghembuskan nafas untuk yang terakhir kalinya. Aku benar-benar terpuruk saat itu. Kanker itu sudah mengegerogoti tubuhnya.

“Ananda Cahaya Althamyra silahkan maju ke podium untuk menerima penghargaan dari tim Produksi media cetak terbesar di Indonesia yaitu PT. Maha Cipta Karya. Kepada wakil dari tim Produksi dipersilakan maju ke atas podium untuk menyerahkan penghargaan beserta sejumlah hadiah kepada peraih penghargaan.”Ucap sang pembawa acara.

Suara pembawa acara terdengar lantang hingga aku merinding dibuatnya, suara gemuruh tepuk tangan memenuhi ruangan itu. Terharu, bangga, senang, bahkan sedih karena orang tuaku tak melihat aku yang sekarang ini, semua rasanya berkecamuk menjadi satu dalam hatiku. Penghargaan ini merupakan ke-7 kalinya yang aku dapat dalam 7 tahun terakhir setelah aku memulai debutku sebagai seorang cerpenis dan novelis. Sudah 5 novel yang berhasil diterbitkan, dan lebih dari 100 cerpen yang sudah beredar dimana-mana. Aku biasa membuat suatu cerpen itu terinspirasi dari yang aku alami maupun dari apa yang memang terjadi dalam kehidupan ini. Rio sahabatku yang juga seorang penulis dialah rekan terbaikku dan seperti biasa dia selalu berada di sisiku, saat ini dialah yang begitu berarti untukku, dari dulu hingga sekarang perasaanku tak pernah berubah untuknya,  aku tetap mencintainya. Inilah cinta bertepuk sebelah tanganku, dia sudah memilih menjalin hubungan bersama dengan wanita lain. Jujur aku ingin sekali mengungkapkan bahwa aku sayang dia, namun kadang aku berpikir apa aku harus menghancurkan hubungan persahabatan ini, ya sudahlah ku jalani saja hidup ini, lagipula aku bukan sosok yang sempurna untuk orang seperti Rio.

Terdengar alunan merdu suara Britney Spears dengan singlenya Sometimes  dari laptopku. Lagu itu selalu menemaniku disaat aku merasa sepi seperti malam ini, aku ingat atas semua yang aku alami, perenunganlah yang selalu ada dalam hari-hariku. Aku ingat atas semua kejadian pahit yang dulu selalu membayangi kehidupanku. Kepalaku terasa pening, seperti biasa pula aku langsung mengambil obat yang sudah setia menemaniku, entah sampai kapan akan berhenti meminumnya. Banyak orang menganggap aku sempurna. Aku berbakat, aku mandiri, setelah ibuku meninggal aku memang tinggal dengan bibiku, tapi  aku tak pernah menuntut ini itu, dia hanya membiayai sekolahku dan kebutuhan panganku sehari-hari hingga umurku 20 tahun dimana aku sudah mulai berkarya dan bekerja di Perusahaan penerbitan buku akupun juga mulai mencari tempat tinggal untukku sendiri. Kemudian tak sedikit pula dari rekan kerjaku yang mengatakan kalau aku cantik, tak sedikit  cowok yang selalu datang menghampiriku dan mengharapkan aku untuk jadi kekasihnya, tapi aku tak pernah menambatkan hatiku pada seseorang. Aku lebih memilih menyimpan rasaku untuk Rio. Aku mengerti bagaimana cinta harus berjalan.

Kumainkan jari-jariku di keyboard laptopku,“Gelombang Dalam Rangkaian Kata”, itulah kalimat pertama yang ku tuliskan, kali ini aku akan membuat novel tentang kehidupanku sendiri, inilah impianku membuat kisah tentang pahit manis yang aku alami berbagai kisah akan aku turut sertakan dalam novelku kali ini. Pikiranku benar-benar sudah melayang kemana-mana aku mencoba mengingat semua kejadian yang pernah aku alami, jari-jariku terasa seperti menari-nari. Aku membuat target malam ini setidaknya lebih dari 20 halaman harus terselesaikan. Sungguh menyenangkan bagi orang sepertiku, penyakit insomnia yang ada ditubuhku ini justru sangat membantuku, inilah yang membuat aku betah untuk tidur semalaman, jujur aku takut untuk tidur karena aku takut tak bisa membuka mataku lagi.

Pukul 02.00 dini hari. Kudengar HP-ku berdering memanggilku, aku tahu siapa yang menelepon, Rio seperti biasa dia mengecekku apa aku sudah tidur atau belum. Kuangkat HPku yang sudah berteriak-teriak tersebut.
“Halo … “
“Aya … Belum tidur yahhh?”
“Seperti biasalah sob, kali ini ngecek doang ato ada yang pengen kamu omongin?”
“Aku mau curhat, Ya! Cuma kamu, Ya yang tau gimana perasaanku sebenarnya! Aku putus sama Reni, dia jalan sama cowok lain, aku mergokinnya tadi waktu aku hang-out sama pak bos, ehh … Taunya aku ngeliat dia sama cowok lain, sepulang tadi aku cuma bisa diam, bingung banget aku harus gimana, aku tadi udah sms Reni, aku tanya siapa cowok itu dan apa hubungan dia sama cowok itu. Diapun ngakui kalau itu emang pacarnya, Tapi, sampe sekarang aku juga belum ngasih keputusan apa-apa!”
“Hahahahahaha….. Rio rio! Tetep aja kamu kekanak-kanakan!”ejekku
“Kok malah ketawa? Tega kamu liat sobat kamu disakitin!”
“Hahaha .. gak gitu Rio! Kamu ngerasa kalah?”
“Maksudnya?”
“Kan si Reni udah menang, diakan menang soalnya udah bikin kamu sakit, uda bikin kamu galau, gak sadar kamu!”
“Aku bingung, Ya’!”
“Tuh kan, Reni makin menang lhoo… Hehe… Udahlah sobh, walaupun aku emang gak pernah pacaran kayak kamu, tapi aku tahu banget gimana perasaan kamu! Sekarang gini aja, kamu mikir apa kamu pengen tetep ngejalanin hubungan sama Reni, kalau iya konsekuensinya kamu harus tetep berani dan sabar kalau akhirnya dia jalan lagi sama cowok yang lain lagi, pastinya Reni makin merasa kalo dirinya emang bisa dengan mudahnya buat kamu kalah, sooo … dia akan semakin maenin kamu kan. Terus kalau kamu emang gak mau disakitin lagi, kasih keputusan buat dia, terus kamu bilang kalo kamu itu gak bodoh dan gak bisa seenaknya dipermainin! Masak cowok harus nangis kalo di gituin! Kalo lamu mikirin kamu masih sayang dia kenapa mikir gitu? Bukannya dia gak sayang kamu! Lagipulakita ini kan penulis, seperti biasa kita bisa mengatur jalannya cerita yang kita inginkan, kurang lebih seperti itulah jalan kehidupan kita. Kita bisa milih jalan mana yang harus kita pilih, kita ambil, dan kita jalani”
“Iya Ya, kamu ada benernya juga, makasih banyak ya! Aku tahu kok apa yang harus aku lakuin! Kamu gak tidur?”
“Iya sama-sama sob, sebagai temen cuma bisa bantu gitu doang! Iya ntar aku tidur, ini masih kurang 1 halaman aja kok, habis itu aku tidur! Ya udah aku terusin dulu yah kerjaanku, kamu juga buruan tidur gak dipikirin terlalu dalam, okay!”
“Okey sobh, sekali lagi thanks yah! Met ngapain aja, sampai jumpa besok! Bye!”
“Bye!”

Klik! Sesudah berbincang-bincang sebentar dengan Rio sejenak aku langsung kembali menatap layar laptopku, kuteruskan lagi apa yang hendak aku rangkai di novelku kali ini.

Kepalaku terasa pening, tubuhku serasa semakin lemah mungkin kanker otak ini sudah menggerogoti anggota tubuhku yang lain, aku terduduk lemas di kursi. Rio, hanya bayangan Rio yang bisa hadir disaat aku seperti ini. Iyaaa…. Hanya bayangannya…


(Tunggu kelanjutan ceritanya :))



0 komentar:

 

Prysia's Note Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea