Mungkin bagi sebagian
seseorang banyak yang menganggap bahwa kesempurnaan hidup seseorang bisa
dilihat dari luar, akulah sebagian dari beberapa orang yang selalu di anggap
begitu, aku hanya bisa berharap menjadi sosok yang sempurna.
Hari yang ku
tunggu-tunggu sudah di depan mata, aku sudah tidak sabar menanti detik-detik
yang serasa berharga dihidupku. Ku pandangi jam dinding di kamarku masih jam 3
sore, berarti masih 2 jam lagi yang harus aku lalui, aku sudah menyiapkan
semuanya, akupun sudah mandi dan berdandan sejak jam 2 tadi. Seperti biasalah
dandananku kali ini tampak natural dan santai. Walaupun simple, Aku
tetap ingin terlihat fresh dan menarik, tak akan ku lewati
penantian ini dengan sebuah kesalahan kecil yang mungkin saja bisa
menghancurkan semuanya. Alarm HP-ku sudah berdering tepat menunjukkan jam 5
sore! Aku siap berangkat, kuraih ransel coklat kesayangan yang sudah setia
bersamaku mulai kelas 3 SMA, ku dapatkan itu dari orang yang paling terkasih,
yaitu bundaku, ransel itu merupakan pemberiannya dihari ulang tahun terindah
bahkan juga terburukku. Aku ingat betul kejadian itu, 03 Maret 2008 tepat
usiaku 17 tahun. Walaupun aku tidak merayakannya dengan pesta bermewah-mewah
aku cukup bahagia, karena bunda ingat sekali dengan hari ulang tahunku itu,
dialah yang pertama kali membangunkanku di pagi itu dan mengecup manis
keningku, bahkan hingga sekarang masih terasa manis kecupan itu, dibelainya
rambutku hingga suaranya yang lembut benar-benar membangunkanku dan
diletakkanlah disampingku hadiah sederhana tapi sangat bermakna bagiku berupa
tas ransel coklat itu.
“Selamat ulang tahun
sayang, semoga kamu benar-benar menjadi cahaya didunia ini.”kenangku.
Maklumlah, dulu aku hanya
tinggal berdua dengannya, ayah sudah meninggalkan kami demi wanita lain dan
akupun tak mau membahasnya. Namun, disaat aku merasa bahagia atas usia 17 tahun
ataupun “Sweet Seventeen (Seperti yang orang-orang bilang)” yang
kudapat aku benar-benar merasa kehilangan sosok terkasih itu, tepat pukul 12
siang, dia menghembuskan nafas untuk yang terakhir kalinya. Aku benar-benar
terpuruk saat itu. Kanker itu sudah mengegerogoti tubuhnya.
“Ananda Cahaya Althamyra
silahkan maju ke podium untuk menerima penghargaan dari tim Produksi media
cetak terbesar di Indonesia yaitu PT. Maha Cipta Karya. Kepada wakil dari tim
Produksi dipersilakan maju ke atas podium untuk menyerahkan penghargaan beserta
sejumlah hadiah kepada peraih penghargaan.”Ucap sang pembawa acara.
Suara pembawa acara
terdengar lantang hingga aku merinding dibuatnya, suara gemuruh tepuk tangan
memenuhi ruangan itu. Terharu, bangga, senang, bahkan sedih karena orang tuaku
tak melihat aku yang sekarang ini, semua rasanya berkecamuk menjadi satu dalam
hatiku. Penghargaan ini merupakan ke-7 kalinya yang aku dapat dalam 7 tahun
terakhir setelah aku memulai debutku sebagai seorang cerpenis dan novelis.
Sudah 5 novel yang berhasil diterbitkan, dan lebih dari 100 cerpen yang sudah
beredar dimana-mana. Aku biasa membuat suatu cerpen itu terinspirasi dari yang
aku alami maupun dari apa yang memang terjadi dalam kehidupan ini. Rio
sahabatku yang juga seorang penulis dialah rekan terbaikku dan seperti biasa
dia selalu berada di sisiku, saat ini dialah yang begitu berarti untukku, dari
dulu hingga sekarang perasaanku tak pernah berubah untuknya, aku tetap
mencintainya. Inilah cinta bertepuk sebelah tanganku, dia sudah memilih
menjalin hubungan bersama dengan wanita lain. Jujur aku ingin sekali mengungkapkan
bahwa aku sayang dia, namun kadang aku berpikir apa aku harus menghancurkan
hubungan persahabatan ini, ya sudahlah ku jalani saja hidup ini, lagipula aku
bukan sosok yang sempurna untuk orang seperti Rio.
Terdengar alunan merdu
suara Britney Spears dengan singlenya Sometimes dari
laptopku. Lagu itu selalu menemaniku disaat aku merasa sepi seperti malam ini,
aku ingat atas semua yang aku alami, perenunganlah yang selalu ada dalam
hari-hariku. Aku ingat atas semua kejadian pahit yang dulu selalu membayangi
kehidupanku. Kepalaku terasa pening, seperti biasa pula aku langsung mengambil
obat yang sudah setia menemaniku, entah sampai kapan akan berhenti meminumnya.
Banyak orang menganggap aku sempurna. Aku berbakat, aku mandiri, setelah ibuku
meninggal aku memang tinggal dengan bibiku, tapi aku tak pernah menuntut
ini itu, dia hanya membiayai sekolahku dan kebutuhan panganku sehari-hari
hingga umurku 20 tahun dimana aku sudah mulai berkarya dan bekerja di
Perusahaan penerbitan buku akupun juga mulai mencari tempat tinggal untukku
sendiri. Kemudian tak sedikit pula dari rekan kerjaku yang mengatakan kalau aku
cantik, tak sedikit cowok yang selalu datang menghampiriku dan
mengharapkan aku untuk jadi kekasihnya, tapi aku tak pernah menambatkan hatiku pada
seseorang. Aku lebih memilih menyimpan rasaku untuk Rio. Aku mengerti bagaimana
cinta harus berjalan.
Kumainkan jari-jariku di keyboard laptopku,“Gelombang
Dalam Rangkaian Kata”, itulah kalimat pertama yang ku tuliskan, kali ini aku
akan membuat novel tentang kehidupanku sendiri, inilah impianku membuat kisah
tentang pahit manis yang aku alami berbagai kisah akan aku turut sertakan dalam
novelku kali ini. Pikiranku benar-benar sudah melayang kemana-mana aku mencoba
mengingat semua kejadian yang pernah aku alami, jari-jariku terasa seperti
menari-nari. Aku membuat target malam ini setidaknya lebih dari 20 halaman
harus terselesaikan. Sungguh menyenangkan bagi orang sepertiku, penyakit
insomnia yang ada ditubuhku ini justru sangat membantuku, inilah yang membuat
aku betah untuk tidur semalaman, jujur aku takut untuk tidur karena aku takut
tak bisa membuka mataku lagi.
Pukul 02.00 dini hari.
Kudengar HP-ku berdering memanggilku, aku tahu siapa yang menelepon, Rio
seperti biasa dia mengecekku apa aku sudah tidur atau belum. Kuangkat HPku yang
sudah berteriak-teriak tersebut.
“Halo … “
“Aya … Belum tidur yahhh?”
“Seperti biasalah sob, kali
ini ngecek doang ato ada yang pengen kamu omongin?”
“Aku mau curhat, Ya! Cuma
kamu, Ya yang tau gimana perasaanku sebenarnya! Aku putus sama Reni, dia jalan
sama cowok lain, aku mergokinnya tadi waktu aku hang-out sama
pak bos, ehh … Taunya aku ngeliat dia sama cowok lain, sepulang tadi aku cuma
bisa diam, bingung banget aku harus gimana, aku tadi udah sms Reni, aku tanya
siapa cowok itu dan apa hubungan dia sama cowok itu. Diapun ngakui kalau itu
emang pacarnya, Tapi, sampe sekarang aku juga belum ngasih keputusan apa-apa!”
“Hahahahahaha….. Rio rio!
Tetep aja kamu kekanak-kanakan!”ejekku
“Kok malah ketawa? Tega
kamu liat sobat kamu disakitin!”
“Hahaha .. gak gitu Rio!
Kamu ngerasa kalah?”
“Maksudnya?”
“Kan si Reni udah menang,
diakan menang soalnya udah bikin kamu sakit, uda bikin kamu galau, gak sadar
kamu!”
“Aku bingung, Ya’!”
“Tuh kan, Reni makin menang
lhoo… Hehe… Udahlah sobh, walaupun aku emang gak pernah pacaran kayak kamu,
tapi aku tahu banget gimana perasaan kamu! Sekarang gini aja, kamu mikir apa
kamu pengen tetep ngejalanin hubungan sama Reni, kalau iya konsekuensinya kamu
harus tetep berani dan sabar kalau akhirnya dia jalan lagi sama cowok yang lain
lagi, pastinya Reni makin merasa kalo dirinya emang bisa dengan mudahnya buat
kamu kalah, sooo … dia akan semakin maenin kamu kan. Terus kalau kamu emang gak
mau disakitin lagi, kasih keputusan buat dia, terus kamu bilang kalo kamu itu
gak bodoh dan gak bisa seenaknya dipermainin! Masak cowok harus nangis kalo di
gituin! Kalo lamu mikirin kamu masih sayang dia kenapa mikir gitu? Bukannya dia
gak sayang kamu! Lagipulakita ini kan penulis, seperti biasa kita bisa mengatur
jalannya cerita yang kita inginkan, kurang lebih seperti itulah jalan kehidupan
kita. Kita bisa milih jalan mana yang harus kita pilih, kita ambil, dan kita
jalani”
“Iya Ya, kamu ada benernya
juga, makasih banyak ya! Aku tahu kok apa yang harus aku lakuin! Kamu gak
tidur?”
“Iya sama-sama sob, sebagai
temen cuma bisa bantu gitu doang! Iya ntar aku tidur, ini masih kurang 1
halaman aja kok, habis itu aku tidur! Ya udah aku terusin dulu yah kerjaanku,
kamu juga buruan tidur gak dipikirin terlalu dalam, okay!”
“Okey sobh, sekali lagi
thanks yah! Met ngapain aja, sampai jumpa besok! Bye!”
“Bye!”
Klik! Sesudah
berbincang-bincang sebentar dengan Rio sejenak aku langsung kembali menatap
layar laptopku, kuteruskan lagi apa yang hendak aku rangkai di novelku kali
ini.
Kepalaku terasa pening,
tubuhku serasa semakin lemah mungkin kanker otak ini sudah menggerogoti anggota
tubuhku yang lain, aku terduduk lemas di kursi. Rio, hanya bayangan Rio yang
bisa hadir disaat aku seperti ini. Iyaaa…. Hanya bayangannya…
0 komentar:
Posting Komentar