Pagi
ini, kerinduanku tiba-tiba semakin menggebu, kerinduan akan kampung
halaman di pulau seberang yang telah kutinggalkan selama 2 tahun demi
perantauan menuntut ilmu dan tak pernah sekalipun aku pulang kesana, terlintas
dipikiranku bagaimana dengan ayah dan bundaku? Lalu bagaimana juga keadaan kampung
halamanku itu? Lalu terlintas bayangan wajah kekasihku, bagaimana keadaan
kekasihku, Desta? Apakah dia tetap setia untukku? 5 tahun hubungan kami ini kami
dasari dengan saling menjaga kepercayaan, kami memang tinggal dalam satu pulau.
Setelah keputusanku untuk menuntut ilmu di pulau ini, selang satu tahun Desta
memutuskan untuk mengikutiku dengan bekerja di salah satu perusahaan milik teman
kecilku Ozi yang lebih dulu meraih kesuksesannya. Ozi adalah sobat kecilku,
dimana aku lebih banyak meluangkan waktuku untuk bertengkar dengannya, tapi
dialah yang selalu menjadi pelipur laraku, semua masalah yang aku punya selalu
kucurahkan padanya. Walau kini soulmate
kecilku telah menjadi laki-laki dewasa yang semakin menyibukkan dirinya dengan
seabrek pekerjaan yang dimilikinya, dia tetap saja bisa meluangkan waktunya
untukku. Namun, tinggal satu pulau dengan kekasih tak serta merta membuat kami
sering bertemu, Desta hanya mendapat libur panjang 2 minggu setelah 3 bulan
bekerja, berbagai masalah telah kita lalui bersama, hubungan long distance relationship ini pun
menjadikanku belajar tentang arti kesabaran dan kesetiaan, suka duka itulah
yang membuat kami mempertahankan cinta ini.
Suara
gema adzan subuh membawaku kembali ke alam nyata. Huufth… Aku ingin sekali
bertemu dengannya. Hati kecilku bertanya-tanya,”Kenapa dia kemarin tidak datang?
Tidakkah dia merindukanku juga? Apa yang terjadi dengannya?”, padahal dia sudah
berjanji lewat sms yang dikirimnya bulan lalu, dia bukanlah orang yang suka
melupakan janji, sudah berkali-kali aku mencoba menelpon dan mengiriminya pesan
singkat, tapi selalu mailbox. Kucoba menghubungi Ozi untuk
mengetahui keadaan Desta, tapi saat aku menghubungi Ozi hasilnya nihil, Ozi
juga tidak tahu tentang Desta sekarang karena ternyata sudah 2 bulan Desta ambil
cuti. Kini penantian serta kerinduan ini serasa makin menggebu.
“Gita…
Gita!”
aku
mendengar orang memanggilku
“Ada apa,
Reka?”, ternyata teman sekampungku yang juga se-kos, tapi
tidak sekamar denganku datang dengan nafas terengah-engah setelah berlari
menghampiri dan meneriakiku.
“Huuft… Haduhhh… Eng…itu … Aku mau bilang..itu… Ibumu masuk rumah sakit!”
“Apa?
Dapat kabar dari siapa kamu?”, aku langsung terkejut mendengar Ibu masuk rumah sakit.
“Dari kampung halaman kita, ada yang nelpon ke kos-kosan tadi. Ng… Ayo kamu
siap-siap , aku bakal ikut ngantar kamu sekarang!” perintahnya.
“Aneh?!
Kok gak ada yang beritahu aku, harusnya mereka kan nelpon aku! Aku kan juga
punya HP?”
“Udahlah, pokoknya kita pulang sekarang.”, tanpa
menunggu jawabanku, kami pun bergegas dan segera menuju bandara, untung fasilitas
di kota ini begitu memadai dan jarak antara bandara dengan tempat kos kamipun
tak begitu jauh.
Tapi,
kepulanganku kali ini sangatlah tidak mengenakkan padahal tugas kuliah masih
menumpuk dan harus kutinggalkan begitu saja. Entahlah, satu hal lagi yang
membuatku ganjal adalah kenapa Reka bisa langsung memegang 2 tiket, sepertinya
ini sudah disiapkan. Walau begitu aku tetap memasang ekspresi
ketidakpedulianku, aku merasa pening dengan pemikiranku hari ini.
Untuk
bisa sampai ke kampung halamanku setidaknya butuh waktu 3 jam, 1 jam untuk di
pesawat dan 2 jam waktu untuk transportasi darat. Setibanya di kampung halaman,
aku merasakan ada suatu keganjilan di rumah pacarku, Desta. Kenapa di depannya
berdiri sebuah tenda biru? Kebetulan aku dan Reka lewat depan rumah Desta dan
sekilas aku melihatnya hendak keluar rumah. Tapi, sewaktu ia melihatku, ia
langsung berlari masuk kembali kedalam rumah. Hatiku bertanya-tanya kenapa ia
aneh begitu, bukankah ia seharusnya senang melihat aku kembali pulang dan
datang menghampiriku serta memelukku, kenapa dia malah bergegas masuk ke dalam.
Sejenak aku berpikir lagi, tenda biru? Siapa yang mempunyai hajat ini? Kakaknya
Desta kan cuma 1 dan itupun sudah menikah 5 tahun yang lalu, ataukah ini acara
khitanan si Dino? Tapi, sepertinya nggak mungkin! Bukankah Dino sekarang harusnya
baru berumur 6 tahun? Sebelum tiba di rumah, aku akhirnya bertemu dengan Ibunya
Desta di jalan, dia langsung memelukku dan serta merta mengeluarkan seluruh
pertanyaannya tentang keadaanku sekarang. Tanpa basa-basi lagi aku pun langsung
bertanya padanya, sebenarnya akan ada acara apa di rumahnya. Ibunya langsung
menceritakan semuanya dan tanpa disadari aku menangis, sungguh aku tak sanggup
lagi jika harus mendengarkan kabar itu, ibu pacarku langsung memelukku dan
berkata maaf. Seketika kepalaku terasa pening, ini bukanlah kabar yang ingin
kuterima, sekejap itu aku berharap akan ada gempa berkekuatan besar yang bisa
langsung saja menelanku sehingga aku tak perlu merasakan perih ini. Tanpa
kuduga pacarku datang dari arah belakang. Dia meminta maaf kepadaku, atas apa
yang akin dilakukannya, dia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya. Dia
juga bilang kalau ia sangat mencintaiku. Kemudian, di depan kedua orang tuanya
kami berpelukan dan sama-sama menangisi akhir dari kisah kami. Pedih rasanya,
aku tak mampu lagi untuk mencoba bahwa aku baik-baik saja.
Sesampainya
di rumah aku langsung marah-marah tak karuan. Kedua orang-tuaku heran melihat
tingkah aneh seperti itu. Reka lalu memberitahu mereka kejadian yang memang
sudah ia ketahui sebelumnya. Dia bingung untuk memberitahuku tentang apa yang
terjadi, sehingga alasan yang disangkut pautkan dengan ibuku dilakukannya.
Orang tuaku pun menyerahkan semua keputusan kepadaku karena aku dianggapnya
sudah dewasa, mereka hanya berpesan bahwa aku harus kuat ini bukan akhir dari
segala-galanya. Perasaan rinduku yang selama ini selalu tertanam dan semakin
membesar kini harus terbuang dan hancur begitu saja dengan kabar yang bagiku
sangat buruk.
Aku
kembali lagi ke kota dengan perasaan yang hancur dan tak karu-karuan, aku
mencoba mengatakan dan bersikap bahwa aku baik-baik saja, kujalani hari-hariku
seperti biasa. Semenjak itu aku berubah dan menjadi bertambah aneh, emosiku
sering tak terkendali, aku mulai mencoba hal-hal yang tak pernah ku lakukan
sebelumnya aku mulai merokok, sehari aku bisa sampai bisa menghabiskan 2
bungkus rokok. Bahkan teman-temanku mulai merasa risih atas sikapku, dimana setiap
ada laki-laki yang mendatangi mereka ke tempat kos aku selalu
memarah-marahi mereka tanpa sebab sehingga mereka kapok untuk datang lagi.
Akhirnya Reka menghubungi Ozi dan menceritakan semua tentang keadaanku. Ozipun
segera menjengukku. Saat melihatnya datang hatiku serasa merombak langsung saja
aku berlari menghampirinya yang masih di dekat gerbang dan langsung kupeluk dia.
Dia pun membalas pelukanku, kutumpahkan seluruh air mataku di dadanya,
dibelainya rambutku, dan dituntunnya aku untuk masuk kedalam ruang tamu kos.
Dia menuntunku untuk duduk di kursi kemudian dia duduk disampingku sambil
menggenggam tanganku. Kuluapkan semua emosiku padanya, ku ceritakan semua yang
bergejolak yang ada di hatiku, dengan sikap dewasa dan kesabarannya akhirnya
pikiran dan perasaanku menjadi tenang.
3 hari setelah kedatangan Ozi yang berturut-turut tersebut semua serasa menjadi
ringan, aku sudah bisa kembali normal, aku merasa bodoh atas semua kelakuan
yang kulakukan begitu saja, aku pun meminta maaf atas segala perbuatanku yang
tidak mengenakkan belakangan. Kemudian, Aku mendapat kabar dari Reka kalau
mantan pacarku itu ternyata akan segera melangsungkan pernikahannya. Ahh! Masa
bodoh!
“Lho,
Aku kok gak dapat undangannya sih?”, tanyaku pada Reka.
“Hmm…
Kamu dapat, Git! Tapi, awalnya aku gak mau ngasih tahu kamu, takutnya kamu
ngedrop lagi.”, jawab Reka.
“Entahlah...
Bodo amat!“
Tak
disangka Ozi justru menantangku untuk datang ke acara tersebut.
“Kenapa?
takut? Katanya gak ada rasa lagi.”, ejek Ozi
“Gak
ah, malas bolak-balik ke sana.”
“Aku
antar deh besok!”
“Okelah…
Huufthhh…”
Di pesta pernikahannya itu, aku sudah bisa
membiasakan hatiku untuk melepasnya. Sejenak kulihat ia menangis saat aku menjabat
tangannya dan memberinya selamat. Lalu, ia melihat Ozi dan membisikinya untuk
menjagaku serta jangan pernah menyakitiku. Jauh di Lubuk hatiku yang paling
dalam aku masih sangat mencintainya. Tapi kami tidak ditakdirkan untuk bersama
selamanya. Inilah pilihan kehidupannya. Aku belajar mengerti keadaan yang harus
kuterima dan aku mempunyai cara tersendiri untuk bisa melupakannya ku serahkan
kembali semua yang pernah diberikan kepadaku. Kulihat istrinya yang
merasa heran dan serta merta bertanya kepadaku hadiah apa sebenarnya yang kuberikan
kepadanya sehingga istrinya tidak boleh membukanya. Masalah itu kuselesaikan
dengan segera agar tidak terjadi salah paham. Kusuruh dia untuk menunjukkan isi
bingkisan kado tersebut.
“Jangan
disembunyikan, lihatkanlah hadiah itu pada istri abang biar dia tenang.”,
Dengan
berat hati ia memperlihatkan sebuah kotak musik, kalung, boneka, ikat rambut,
baju, dan sebagainya pada istrinya.
Setelah genap 3 bulan kulalui masalah itu
dengan tenang, tak kusangka Ozi mengungkapkan perasaanya kepadaku dia
mengatakan dengan sepenuh hatinya kalau dia tulus mencintaiku sejak dulu. Aku
bingung dengan pernyataanya, dia sahabatku sejak kecil, apakah sekarang aku akan
memilihnya menjadi belahan jiwaku? Kuputuskan memberi jawabanku 1 minggu
setelah pernyataan yang diberikannya padaku. Hatiku benar-benar merasa tak
karuan, kurasakan hatiku kian menggebu-gebu, aku merasa sepertinya aku mulai
membuka hati pada soulmate kecilku.
Akhirnya kuterima cintanya.
Hubungan
kami sudah genap setahun lamanya, aku semakin yakin kalau aku nggak salah pilih
dan benar-benar sudah menemukan belahan jiwaku, cinta sejatiku, cahaya hidupku,
Ozi adalah segalanya bagiku. Aku mencinta dia dan akan selalu menyayangi dia
untuk selamanya. Tak kusangka yang selama ini dialah kebahagiaan yang ada di
hidupku. Hal ini sangat berbeda dengan yang ku rasakan sebelumnya.
Telah sekian lama aku merasa Ozi memang menjadi milikku seutuhnya. Akhirnya, cerita
cintaku saat ini sudah menemukan titik kebahagiaan, aku hanya berharap ini akan
berakhir dengan happy ending, tinggal
sekarang aku dan Ozi yang menjalaninya. Keputusan besarpun kami ambil, kami
memutuskan untuk melanjutkan hubungan kami ke jenjang yang lebih serius.
Keyakinan hati kami sudah bulat. Ozi sendiripun sudah berbicara dengan kedua
orangtuanya dan kedua orangtuaku, hal ini pun serasa lancar begitu saja,
orangtua kami memang sudah saling kenal jadi direstuilah pilihan kami ini.
Acara pertunanganpun diselenggarakan, keluarga besar kami berkumpul, dan
menyaksikan acara pertukaran cincin. Dalam acara tersebut juga sudah disepakati
tanggal yang cocok untuk pernikahan kami. Tepatnya 2 minggu lagi, mungkin
terlihat cepat tapi itulah yang aku dan Ozi inginkan. Tak perlu waktu yang lama
untuk merasakan bagaimana cinta itu tumbuh, kita hanya perlu tinggal bersama
cinta untuk waktu yang selama kita bisa, dan itu selamanya.
Aku
menjadi teringat dulu saat kami sering sekali bertengkar, hanya karena hal-hal
kecil, kadang kami sampai ribut nggak menentu. Dulu sebagai teman, kami memang
bukan teman yang cocok, kami saling menjatuhkan dan saling membenci. Tapi
sekarang, benar kata orang-orang, kalau kamu membenci seseorang janganlah kamu
sampai terlalu, dan hasilnya sekarang perasaan itu menjadi kebalikan, bagi aku
dan Ozi, justru kami sekarang saling mencintai dan menyayangi. Tapi yang jelas,
aku juga nggak mau kehilangan Ozi, aku takut juga kalau aku terlalu mencintai
dan menyayangi dia, bisa jadi aku dan dia akan terpisahkan.
Ku hubungi
semua teman-temanku dan ku beritakan kabar baik ini. Kuberanikan diri
menghubungi Desta. Mereka semua terlihat senang dengan keputusan ini. 1 minggu
setelah acara pertunangan, kami juga sudah menyiapkan undangan-undangan yang
akan kami berikan kepada teman-teman dekat kami. Akupun juga mengambil cuti
untuk kuliahku.
2 hari
sebelum hari H, Ozi mengajakku ke Toko buku, sepanjang perjalanan di dalam
mobilnya, dia menggenggam tanganku erat sekali, aku merasakan kenyamanan saat
dia memegang tanganku. Aku merasakan cintanya begitu kuat untukku. Saat kami
masuk ke sebuah toko buku, Ozi bilang dia akan membelikan aku sebuah buku
sastra yang dulu sudah pernah dibacanya dan sekarang dia ingin aku juga membaca
buku itu. Setelah Ozi membayar buku tersebut, Ozi langsung menyerahkannya
padaku. Aku kaget membaca sinopsisnya, ternyata buku itu berisi tentang
kekuatan cinta yang tulus, yang akhirnya terpisahkan oleh maut, dan bagaimana
sakitnya hati seorang kekasih saat menghadapi peristiwa kematian itu.
“Ozi,
kok kamu kasih aku buku kayak gini?”
“Git,
aku pengen banget kamu baca buku ini, aku pengen kamu lebih mengerti lagi apa
itu cinta sejati, kamu akan merasakan betapa sangat berartinya orang yang
mencintai kamu, pokoknya ceritanya bagus deh, kamu pasti nggak bakalan nyesal
kalau baca buku ini, dan setelah membacanya, aku juga yakin kamu akan semakin
sayang sama aku, hehehe…”, kelakarnya,
“Ih, kamu! Ke-GR-an banget sih, masa cuma gara-gara baca buku ini aku bisa
semakin sayang sama kamu.”
“Eh, beneran, percaya deh sama aku. Kalau
nggak, ntar kamu boleh musuhin aku lagi deh kayak dulu.”
“Ozi! Kamu
ngomong apaan sih, ya udah-udah, aku baca bukunya, kamu kira aku bakalan senang
ya kalau kita musuhan lagi.”
Hari
pernikahan kamipun tiba, serangakaian acara telah dipersiapkan secara matang.
Akad pernikahanpun dimulai, Ozi mengucapkan janji pernikahannya dengan tegas
dan penuh tanggung jawab, tak terasa aku kini menjadi istrinya rasanya tak
ingin aku tak melalui hari ini. Mahar yang disiapkanpun merupakan hasil kerja
kerasnya. Resmi sudahlah kami menjadi sepasang suami istri. Kami telah berjanji
untuk tetap menjaga cinta ini hingga kematian menjemput. Resepsi pernikahanpun
tampak sangat meriah, semua teman-temanku hadir dalam acara ini, mereka tak
menyangka kalau Ozi-lah yang akan menjadi pasangan hidupku, karena mereka semua
tahu kalau dulu aku paling sentimentil dengan Ozi.
3 hari
sesudah pernikahan kami, Ozi mendapatkan panggilan dari salah satu
perusahaannya karena ada sesuatu yang harus dikerjakan secepatnya. Dia meminta
izin padaku untuk pergi ke tempat kerjanya, hatiku sebenarnya merasa berat
untuk melepasnya, akhirnya aku memaksa dirinya agar aku bisa ikut dengannya,
walau awalnya dia tidak mengijinkanku akhirnya dia mengalah. Tapi, Ozi terlihat
aneh sekali hari ini. Sepanjang perjalanan di dalam mobil, dia ngomong yang
nggak-nggak, dan dia juga mengingatkanku untuk membaca buku yang yang
dibelikannya kemarin. Tiba-tiba saja jantungku berdegup kencang, kata kematian
terasa terngiang-ngiang di telingaku. Entah kenapa aku semakin ketakutan, takut
akan kematian, takut akan kehilangan. Ku genggam satu tangan kirinya dan
kukatakan kalau aku adalah istrinya yang akan selalu setia dan hanya akulah
yang akin memberikan cinta sejati ini. Ku peluk tubuhnya ku rasakan dadanya
berdegub kencang. Aku merasakan lagi kalau aku bersama Ozi, saat ini mungkin Ozi
sedang tersenyum karena dia merasakan cintaku besar untuknya.
Sambil
mengendarai mobilnya, sesekali dia menoleh ke samping sambil tersenyum
melihatku dan sesekali dia membelai rambutku, Ozi seperti orang yang was-was.
Aneh, di sepanjang jalan aku terus kepikiran dan akhirnya bunyi keras dan
goncangan hebat membuat aku kaget, tak hanya goncangan, tapi sakit
yang luar biasa di kepalaku, aku merasakan pusing serasa dunia ini berputar
sangat kencang sekali, penglihatanku kabur, aku berusaha untuk menyadarkan
diriku sendiri, apa yang sebenarnya terjadi. Tiba-tiba aku melihat Ozi
terlempar keluar ke jalanan dari dalam mobil, samar-samar aku melihat dia
seolah-olah tidur nyenyak, aku merasa mimpi, mana mungkin Ozi tidur di jalan,
perasaan baru tadi aku berpelukan dengannya. Aku berjalan mendekati dia, tapi
orang-orang yang ramai lebih dulu menghampiri dia, aku semakin kesakitan, aku
nggak kuat lagi dan akhirnya yang aku lihat hanya kegelapan.
“Gita,
kamu nggak apa-apa sayang, ini ibu.”
Kupandangi
wajah ibuku. Dia seperti orang yang ketakutan, aku melihat sekelilingku,
tiba-tiba aku baru sadar, selintas kejadian tadi malam teringat lagi olehku.
“Ozi
mana? Mana suamiku? Dia baik-baik aja kan?”
“Uda
nanti aja ya, kamu istirahat dulu, kamu masih sakit sayang.”
“Nggak
mau! Gita nggak merasa sakit apa-apa, sekarang Gita mau lihat Ozi, dimana dia
bunda?”
“Luka kamu belum kering betul, tadi kamu terus-terusan ngigau kalau kamu
ngerasain sakit.”
“Aku nggak ngerasa sakit, benaran, nggak tau kenapa Gita ngerasa
sehat dan kuat, sekarang pokoknya Gita mau ketemu Ozi, pasti saat ini dia
butuhin Gita.”
“Gita,
saat ini Ozi nggak butuh siapa-siapa lagi, dia udah aman, dia udah tenang di
sana, sekarang udah bahagia dengan kehidupannya sendiri, ada yang menjaga dia
di sana.”
“Apa?
Apa bunda? Apa maksud Bunda? Bunda bohong! Gita nggak percaya, nggak mungkin,
nggak mungkin itu terjadi sama Ozi, dia udah janji, nggak akan pernah ninggalin
Gita, dia sayang Gita, Gita sayang Ozi.... Nggak, nggak mungkin!!!”
Teriakanku
membuat semua perawat datang ke tempatku, mereka berusaha menenangkanku, tapi
aku nggak bisa, air mataku mengalir terus tiada hentinya, salah seorang perawat
baru saja akan memberiku suntikan penenang, tapi cepat-cepat aku elakkan.
“Tolong jangan suster, saat ini aku nggak butuh itu, aku hanya ingin menangis,
aku nggak rela, aku marah sama Ozi, kenapa dia berani pergi ninggalin aku,
padahal dulu dia udah janji nggak akan pernah pergi dariku, tapi kenapa Ozi
bohong, kenapa sekarang justru dia pergi selamanya, dan aku tau dia nggak akan
pernah kembali lagi kan untukku? Kenapa kamu tinggalin aku Ozi?”
“Gita,
ini udah takdirnya, waktu Ozi udah habis di dunia, kamu jangan pernah marah
sama Ozi sayang. Kamu harus yakin kalau sekarang Ozi udah bahagia di sana.”,
bunda berusaha terus untuk menenangkanku.
“Kenapa
harus Ozi, kenapa bukan Gita aja yang ada di sana? Gita mau Menggantikan Ozi,
karena Gita sayang sama Ozi, atau biarkan Gita untuk bersama dia sekarang, Gita
pengen nyusul dia, Gita nggak mau hidup di dunia ini tanpa dia, percuma,
percuma kalau nggak ada Ozi di sini, hidup Gita nggak ada arti apa-apa.”
Dengan
cepat perawat-perawat itu memegang seluruh tubuhku, dan sesaat kemudian aku
tertidur. Di alam mimpi Ozi datang padaku. Dengan pakaian yang serba putih Ozi
tersenyum padaku, dia berjalan mendekatiku, dia kelihatan senang sekali,
seolah-olah dia mendapatkan kebahagiaan yang baru, yang tiada duanya di dunia,
melihat Ozi terus-terusan tersenyum, rasanya aku ingin sekali ikut bersama dia,
ikut merasakan kebahagiaan yang dia rasakan saat ini. Aku berusaha memeluknya
dan menggenggam tangannya, dia membalas pelukanku, dia mendekapku, kembali aku
merasakan kenyamanan bersamanya, aku merasakan dia memberiku kekuatan,
ketegaran, dia membelai rambutku dengan penuh rasa sayang, tapi pelan-pelan dia
melepaskanku, dia justru menjauh dariku, semakin jauh, jauh, dan hilang dari
penglihatanku.
Saat
aku sadar, aku menangis lagi, aku bukan menangis karena menahan sakit pada
kepalaku, tapi aku menangis karena hatiku yang terasa amat sakit. Sekarang
dunia bagiku terasa kelam, hujan nggak hanya membasahi bumi, tapi hujan
membasahi kehidupanku, hatiku seolah-olah nggak berhenti menangis, menangisi
orang yang telah pergi untuk selama-lamanya, dia nggak akan pernah kembali
lagi.
Esoknya
tiba-tiba mataku tertuju pada buku yang ada di atas meja, aku baru ingat kalau
itu adalah buku yang dibelikan Ozi kemarin, bunda sengaja membawanya ke
dekatku, karena itulah yang ditinggalkan Ozi untukku. Aku buka satu demi satu
halaman buku itu, beberapa menit kemudian aku tenggelam dalam ceritanya. Aku
menangis membaca buku itu, sekilas aku seolah-olah melihat wajah Ozi tersenyum
di langit yang mendung di luar sana. Kugenggam cincin pernikahanku, aku tak
ingin melepaskan cincin ini untuk selamanya.
Entah
kenapa sekarang aku kembali merasakan kekuatan itu, kekuatan cinta yang
diberikan oleh Ozi, aku merasakan dia ada di dekatku, merangkulku,
menenangkanku, aku dapat merasakan cinta dan sayangnya. Ozi, aku sangat
mencintai dan menyayangi kamu, aku yakin kamu bahagia di sana, walaupun kamu
sudah pergi dari kehidupanku, tapi kamu nggak akan pernah pergi dari hatiku,
kamu abadi untukku, Ozi. Aku akan buktikan, kematianmu nggak akan pernah
mengakhiri cintaku.
The end
0 komentar:
Posting Komentar