Selasa, 16 Desember 2014

Kertas Kosong

Diposting oleh Prily Harsiani di 12/16/2014 11:57:00 PM
Mama selalu mengerti setiap langkah yang aku jalani. Suatu ketika mamaku mengatakan bahwa jalanku tentang perasaan suka, sayang, dan cinta ibarat kertas putih. Iya seperti kertas putih, dimana aku akan memberikan satu lembar kertas putih kepada satu orang yang mencoba untuk mengisi hariku dan membiarkannya membubuhkan coretan-coretan dalam kertas putih kosong itu, namun disaat tak ada lagi sisa tempat untuk dicoreti maka yang terjadi adalah aku akan melepas kertas penuh coretan itu dan menyiapkan kertas putih kosong baru yang lain, disaat itulah sosok yang lain akan datang dan memberikan coretan-coretan berbeda, dan begitu seterusnya hingga akhirnya hanya akan penuh dan terganti dengan yang lain. Entahlah, aku tak mengerti, tapi mama percaya ada saat dimana kertas kosong putih terakhir justru akan terisikan coretan-coretan penuh warna-warni yang tak mungkin akan terlepas ataupun tergantikan begitu saja, karena kertas terakhir itu yang akan berhasil menyelimuti seluruh kisah hidupku.




Setidaknya pemikiranku dan pemikiran mama masih memiliki arah yang sama, dimana yang selalu ku ibaratkan jikalau hati ini hanyalah seonggok potongan kayu yang besar tanpa pernah disentuh siapapun, suatu ketika datanglah pemahat yang tertarik dengan potongan kayu tersebut, dipahatnyalah kayu tersebut, berbagai bentuk liku, ulir, hingga menyayat bagian-bagian tubuh kayu tersebut, tapi apalah yang didapat, dia tidak tahu seperti apa kayu itu akan dibentuknya, dia hanya ingin memberi goresan-goresan pada sesuatu yang masih kosong, sesaat dia tak mengerti arah atas apa yang dilakukannya, maka ditinggalkannyalah apa yang dilakukannya, ya dan seonggok kayu tersebut tetap tak berbentuk, hanya berisi goresan tak berarti. Seiring waktu datanglah pemahat yang lain, sama seperti sebelumnya, hilang arah dan ditinggalkannya, begitulah seterusnya hingga hanya ada goresan-goresan yang lebih mirip cerita tanpa alur. Hingga seonggok kayu itu berharap rupa dan bentuknya tidak hanya sekadar dianggap permainan belaka yang hanya didatangi dan ditinggalkan, yang diharapkan hanyalah akan ada sosok yang menyelesaikan dan membenahi apa yang telah dilakukan sosok-sosok sebelumnya, hingga akhirnya ada yang benar-benar merubah dan merasa memiliki pahatan yang telah terbentuk pada akhirnya. Dimiliki dan dirawat sampai benar-benar rasa kasih itu yang menghentikan itu sendiri, karena rasa dimiliki adalah dasar kasih yang tak akan rela dilepas begitu saja.



0 komentar:

 

Prysia's Note Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea