Selasa, 23 Desember 2014

Mama T'lah Kembali

Diposting oleh Prily Harsiani di 12/23/2014 02:37:00 PM
“Hentikan semua ini wanita bodoh!”, ku teriaki dia sambil kuraih botol sampanye yang digenggamnya. Sudah cukup beban yang ku pikul sejak pagi hingga malam di tempat kerja, ditambah lagi dengan harus melihatnya seperti itu setiap malam, aku sudah cukup muak.
“Kembalikan itu anak durhaka! Aaa… ku takkk bi… sa hidup tanpa…nya, kem… baaa… likan itu!”, nada bicaranya sudah tak jelas, bola matanyapun berputar tak tentu arah, akhirnya diapun tertidur.
“Mama, apa yang harus ku lakukan? Kenapa kau menjadi seperti ini? Aku ingin mama kembali menjadi mama yang ku kenal dulu.”, ucapku dalam hati sembari mengelus dahinya, sedangkan ku lihatnya tubuhnya tergeletak begitu saja di sofa.



Keesokan paginya kulihat tubuhnya masih terkulai lemas di sofa, tapi ku lihat dia sudah membuka matanya, dia seperti menerawang jauh menyimpan sejuta cerita batinnya sendiri, aku sebagai anak tunggalnya tak bisa berbuat apa-apa, dia begitu keras dan tak ingin diusik, yang bisa ku lakukan selama ini hanya menuruti apa yang dia inginkan.
“Pagiiii cantik, Sabyllaku sayang, putri kecil mama… Apa kamu tidak ingin mencium mamamu?”, ujarnya sambil berusaha bangkit dari sofa,
“Apa yang kamu butuhkan hari ini? Seperti biasa aku akan pulang malam, ini uangmu hari ini.”, balasku sambil meletakkan uang harian yang ku berikan untuk wanita itu.
“Sudahlah, simpan saja uangmu… Uangmu tak pernah ku pakai, semua uangmu hanya ku simpan di laci kamar, jika kamu ingin mengambilnya kembali, ambil saja, tapi setidaknya hari ini sih aku mau ke salon, lihat nih kukuku sudah rusak, wajahkupun jadi ada keriputnya, lagipula kamu kan dua minggu lagi mau nikah, jadi setidaknya aku ingin terlihat cantik di hari pernikahanmu”,
“Kamu tidak perlu datang! Aku tidak butuh wanita pemabuk sepertimu.”, ujarku sambil berlalu keluar menuju mobilku, aku tak tahan bercengkerama lama dengannya lebih baik aku meninggalkannya begitu saja.
Sesampainya di kantor aku hanya duduk termenung, tugasku sebagai sekretaris kantor ini sebenarnya tidak cukup memberatkan, setidaknya karena bosku adalah tunanganku sendiri, tapi cukup melelahkan untuk seharian duduk kursi ini dengan tugas menginput data-data ke komputer, hingga mengantar berkas kesana kemari, namun ini berbeda dengan kali pertamanya aku bekerja di kantor ini, semua pekerjaan seperti dilimpahkan kepadaku, hingga rasanya tak ada lagi ruangku untuk bernafas, untung saja aku begitu menarik di mata bosku yang umurnya hanya terpaut lebih tua 3 tahun diatasku hingga akhirnya dia menyatakan cintanya untuk menjadi pacarku, dan tak selang lama dia memutuskan untuk meminangku. Setelah aku menerawang jauh tentang itu semua, pikiranku kembali ke mama, sudah 3 tahun aku dipusingkan dengan kelakuannya yang semakin menjadi, tiap hari mabuk-mabukan, asap rokok juga selalu bertebaran didalam ruangan. Sebelumnya mamaku adalah wanita yang sabar, kuat, dan dekat agama, dia tak penah meninggalkan ibadahnya, yang dilakukannya setiap hari adalah menjadi ibu yang baik. Mulai fajar terbit dia sudah bangun dan melakukan aktivitas sebagai ibu rumah tangga, dia memasak sarapan dan bekal makan untukku di sekolah dan papa, setelah itu semua selesai baru dia bekerja kembali mengurus butik milik keluarga kami, hingga saat sore tiba dia kembali kerumah dan menyiapkan makanan untuk makan malam, di sela makan malam kami hidup sebagai keluarga normal yang hidup penuh dengan canda tawa. Mamaku selalu menemaniku saat aku belajar, aku tahu dia adalah orang yang cerdas, setiap pertanyaan tentang pelajaran yang kurang ku pahami mamaku selalu mengajariku, dia membimbingku dengan baik hingga aku selalu menempati juara pertama di sekolah. Saat aku menginjak bangku kuliah mamaku juga tak pernah melepaskan aku, dia selalu ada disampingku, selalu mengingatkan aku agar selalu menjadi anak yang berguna dan selalu melakukan hal-hal positif, saat itu tak ada hal lain yang aku butuhkan selain mama, aku bahkan tak tertarik untuk memiliki pacar, selama masih ada mama disampingku aku tak butuh orang lain. Namun semua tiba-tiba berubah, kehidupan berbalik 180 derajat, papaku yang selama ini ku kenal tegas dan mengorientasikan hidupnya hanya untuk keluarga saat itu dimataku dia hanyalah sampah. Di semester akhir kuliahku tiba-tiba papaku membawa seorang perempuan yang lebih muda dari mamaku dan mengatakan akan menikahinya karena telah mengandung anak darinya, seketika aku jijik untuk menganggapnya papa. Aku dan mamaku ditinggalkannya begitu saja,sejak saat itu aku tak pernah melihatnya lagi hingga sekarang. Saat itu ku lihat mamaku menangis sejadi-jadinya, tak pernah ku lihat mama seperti itu, mama benar-benar terlihat lemah, dia menangis dan menjerit sekuat tenaga sebagai ungkapan kekesalannya, kemudian 3 hari dia memilih untuk mengurung diri di kamar, setelah 3 hari aku mulai kehilangan sosok mamaku. Dia telah menjelma menjadi wanita bodoh yang ku kenal seperti sekarang. Dia berusaha tampil kuat padahal dia lemah. Usaha butik kamipun tak diteruskan dan masa-masa terakhir kuliahku terlewat begitu saja, tanpa mama mendampingiku di wisuda. Tiba-tiba air mataku menetes mengingat semua itu sampai aku tersadar saat ada tangan halus dan hangat yang menghapus air mataku dan membuyarkan lamunanku. Roy, dialah penyemangatku untuk saat ini, dia tak pernah memandang buruk diriku. Roy sudah tahu tentang kehidupanku, akupun tahu tentang kehidupannya yang tak kalah suram denganku, kedua orangtuanya telah meninggal dalam kecelakaan, inilah yang membuat kami bertahan, karena kami sadar kami saling membutuhkan.
“Roy, sejak kapan kamu datang?”
“Baru saja kok, saat aku mau masuk keruanganku ku lihat kamu malah meneteskan air mata, apa yang sedang kamu pikirkan? Kamu ada masalah? Kenapa gak cerita?”
Aku hanya membalasnya dengan senyuman,”Roy, bisakah hari ini aku pulang lebih awal? Ada yang ingin ku lakukan untuk persiapan pernikahan kita.”, aku beralibi, saat ini aku hanya ingin menenangkan pikiranku.
“Kenapa, Byll? Tumben kamu milih buat izin? Aku akan menemanimu.”
“Gak perlu, Roy, kamu masih ada pekerjaan yang harus kamu lakukan, kalau ada apa-apa aku pasti ngehubungin kamu.” Jawabku sambil tersenyum.
“Baiklah, hati-hati ya, aku tak ingin pengantin cantikku kenapa-kenapa”, ujarnya sambil mencubit pipiku.

Aku memutuskan untuk pulang dan beristirahat saja dirumah, kupacu mobilku keluar dari kantor. Sesampainya dirumah aku terhenti didepan pintu rumah, ku lihat pintu rumah yang sedikit terbuka, ku lihat mama sedang duduk terkulai menangis sesenggukan sambil memegangi foto masa kecilku, dielus-elusnya fotoku, dan ku lihat dia berguman tidak jelas, tak pernah ku lihat mama yang seperti ini setelah sekian lama, apa ini yang selalu dilakukannya saat aku tak dirumah? Hatikupun bertanya-tanya, aku masuk dan dengan sigap mamaku membersihkan air matanya, akupun tak ingin bertanya langsung padanya, aku langsungberjalan  menuju kamarku.
“Kok sudah pulang, byll?”
“Iya, capek”, jawabku seadanya
“Mama ingin berubah byll, beri mama kesempatan, mama tak ingin seperti ini, mama ingin melihat kamu menuju kebahagiaan baru.”, cercanya sambil mulai menangis lagi,
“Cobalah saja!”, aku langsung masuk dan menutup pintu kamarku, aku terduduk dibalik pintu sampai menangis, maafkan aku mama yang begitu kasar padamu, aku hanya ingin mama menyadari kalau aku tidak ingin mama yang seperti sekarang, aku butuh mama yang seperti dulu.

Hari demi hari telah berlalu, ku lihat perubahan yang terjadi pada mamaku, dia sudah tak pernah terlihat lagi membuat gumpalan-gumpalan asap rokok, dan tak pernah ku lihat lagi botol-botol  minuman keras ada dirumah ini. Mama memulai kehidupan barunya lagi, tiap pagi dia mulai memasak, dia selalu menawari untuk sarapan bersamanya terlebih dahulu, tapi aku selalu menolaknya, dia tak pernah menyerah untuk mendapatkan hatiku kembali, walaupun sebenarnya hatiku ini tetap untuk mamaku selamanya apapun keadannya, untuk menghargai tekadnya yang ingin berubah aku selalu meminum susu yang dibuatkannya, rasa susu yang dibuat mama tak pernah berubah, dia masih ingat susu yang dicampur dengan madu kesukaanku.

Di hari-5 pernikahanku mamaku memintaku mengajak Roy kerumah untuk makan malam. Aku mengiyakannya. Mama menyiapkan menu makan malam makanan kesukaanku, rasanya masih senikmat dulu, sepanjang makan malam kami bertiga hanya diam menikmati masakan mamaku, ini pertama kalinya aku makan masakan mamaku setelah sekian lama aku tak merasannya. Setelah mamaku, selesai menghabiskan makanannya, dia berdiri dan berjalan menghampiri Roy, dielusnya kepala Roy sambil berbisik mengatakan,”Jaga anak kesayangan tante batik-baik ya!”, mama tersenyum dan berlalu masuk ke kamar.

Tinggal kami berdua di meja makan, Roy menghampiriku dan mengecup keningku,”Katakan pada mamamu kalau aku sangat mencintaimu dan akan selalu menjagamu, mamamu orang baik, hargai kebaikannya selama ini, aku pulang dulu, sekarang waktunya kamu dan mamamu untuk membuka semua isi hati.”

Aku tak dapat berkata apa-apa lagi, setelah aku mengantar Roy sampai depan pintu, aku terus memikirkan kata-katanya, baiklah aku harus membuka isi hatiku dan mengembalikan semua seperti dulu. Aku melangkah pasti ke kamar mamaku dan langsung ku ketuk pintu kamarnya,”Mamaaa…”, seperti sudah lama aku tak mengatakannya, aku rindu sekali untuk mengatakannya.
“Masuk sayang, mama gak kunci pintunya.”

Ku lihat mamaku tersenyum sambil menahan tangis, seberapa kuat dia menahannya dengan senyuman, mata tak dapat berbohong, air matanya tak tertahan lagi, dia menutupi mukanya dengan kedua tangannya, ku sadari bahwa dia sudah tak semuda dulu, wlaupun raut kecantikannya masih bertahan, tapi keriput sudah membentuk di sekitar wajah dan tangannya, badannyapun mulai mengurus, usianya sudah menginjak kepala 5, seharusnya aku bisa membahagiakannya. Langsung ku raih kepalanya dan ku peluk dia, ku biarkan dia menangis sejadi-jadinya, akupun tak kuasa menahan tangisku.
“Maafin mama… Mama gak bisa menjadi mama yang kuat… Mama egois hanya memikirkan diri mama sendiri”
“Sudahlah maa… Bylla juga minta maaf, Bylla selama ini selalu kasar sama mama, Bylla gak pernah mau tahu dengan keadaan mama, masih sulit bagi Bylla menerima semua ini, Bylla juga egois maaa…”
“Mama sadar kamu bukan si kecil mama lagi, sudah waktunya kamu memulai kehidupan baru dengan suamimu  nanti, mama hanya berharap bisa melihat kamu selalu tersenyum bahagia, maafin mama yang tak pernah bisa bahagiain kamu. Mama selalu berusaha menutupi kelemahan mama, tapi yang terjadi kamu justru semakin menjauhi mama, mama memang bodoh, mama ingin menebus semua kesalahan mama…”, ujarnya sambil menangis sesenggukan,
“Berat bagi Bylla ninggalin mama seperti ini, Bylla ingin terus sama-sama mama kayak dulu, Bylla gak bisa kalau gak sama mama, Bylla rela ngelepas Roy demi mama…”
“Enggak sayang… Kamu harus bersama Roy, dia anak yang batik, kalian saling membutuhkan, kamu sudah dewasa, inilah kehidupanmu sayang, hargai dia yang mencintaimu. Mama sangat mencintai kamu… Tapi ini sudah saatnya orang lain juga mencintai kamu”
“Terima kasih maa… Mama selalu ngebahagiain Bylla, mama selalu berusaha menjadikan Bylla agar menjadi yang terbaik, Bylla gak pernah lupa bagaimana rasanya ketika mama selalu ada disisi Bylla, mama adalah hati dan jantung Bylla.”

Kami berduapun saling menatap dalam diam, sekali lagi ku peluk tubuh mama, tubuh yang sangat ku rindukan, dan selalu ku sayang, dielusnya kepalaku dengan penuh kasih sayang, malam ini kami telah menjadi sepasang ibu dan anak yang penuh kasih sayang kembali.

Di hari pernikahanku, mamaku dengan mukanya yang berseri-seri tak henti-hentinya tersenyum padaku. Yang aku tahu hingga saat ini, mamaku tak pernah membuang rasa cintanya yang hanya untukku, segala kelakuan bodoh yang dilakukannya hanya untuk menutupi kelemahannya, walau dia sadar dia telah salah ambil langkah, tapi kini mamaku yang dulu telah kembali, rasa kesepiannya selama ini telah terobati, dia tak peduli lagi dengan masa lalu buruknya, yang dia inginkan hanya melihatku bahagia, baginya kebahagiaanku adalah satu-satunya, yang benar saja, kebahagiaanku itu adalah MAMA dengan melihatnya kembali menjadi sosok malaikat, kebahagiaanku sudah tak bisa terukur lagi, Terima kasih Tuhan, mamaku telah kembali, dia yang selalu ada dari kecilku hingga dewasaku, lindungi dia selalu Tuhan, biarkan senyumnya tetap menghiasi bibirnya.


Mama… Aku sangat mencintaimu…



0 komentar:

 

Prysia's Note Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea