“Hentikan semua ini wanita bodoh!”, ku teriaki
dia sambil kuraih botol sampanye yang
digenggamnya. Sudah cukup beban yang ku pikul sejak pagi hingga malam di tempat
kerja, ditambah lagi dengan harus melihatnya seperti itu setiap malam, aku
sudah cukup muak.
“Kembalikan
itu anak durhaka! Aaa… ku takkk bi… sa hidup tanpa…nya, kem… baaa… likan itu!”,
nada bicaranya sudah tak jelas, bola matanyapun berputar tak tentu arah,
akhirnya diapun tertidur.
“Mama,
apa yang harus ku lakukan? Kenapa kau menjadi seperti ini? Aku ingin mama
kembali menjadi mama yang ku kenal dulu.”, ucapku dalam hati sembari mengelus
dahinya, sedangkan ku lihatnya tubuhnya tergeletak begitu saja di sofa.
Keesokan paginya kulihat tubuhnya masih
terkulai lemas di sofa, tapi ku lihat dia sudah membuka matanya, dia seperti
menerawang jauh menyimpan sejuta cerita batinnya sendiri, aku sebagai anak tunggalnya
tak bisa berbuat apa-apa, dia begitu keras dan tak ingin diusik, yang bisa ku
lakukan selama ini hanya menuruti apa yang dia inginkan.
“Pagiiii
cantik, Sabyllaku sayang, putri kecil mama… Apa kamu tidak ingin mencium
mamamu?”, ujarnya sambil berusaha bangkit dari sofa,
“Apa yang
kamu butuhkan hari ini? Seperti biasa aku akan pulang malam, ini uangmu hari
ini.”, balasku sambil meletakkan uang harian yang ku berikan untuk wanita itu.
“Sudahlah, simpan saja uangmu… Uangmu
tak pernah ku pakai, semua uangmu hanya ku simpan di laci kamar, jika kamu
ingin mengambilnya kembali, ambil saja, tapi setidaknya hari ini sih aku mau ke
salon, lihat nih kukuku sudah rusak, wajahkupun jadi ada keriputnya, lagipula
kamu kan dua minggu lagi mau nikah, jadi setidaknya aku ingin terlihat cantik
di hari pernikahanmu”,
“Kamu tidak perlu datang! Aku tidak
butuh wanita pemabuk sepertimu.”, ujarku sambil berlalu keluar menuju mobilku,
aku tak tahan bercengkerama lama dengannya lebih baik aku meninggalkannya
begitu saja.
Sesampainya di kantor aku hanya duduk
termenung, tugasku sebagai sekretaris kantor ini sebenarnya tidak cukup
memberatkan, setidaknya karena bosku adalah tunanganku sendiri, tapi cukup
melelahkan untuk seharian duduk kursi ini dengan tugas menginput data-data ke komputer, hingga mengantar berkas kesana kemari,
namun ini berbeda dengan kali pertamanya aku bekerja di kantor ini, semua
pekerjaan seperti dilimpahkan kepadaku, hingga rasanya tak ada lagi ruangku
untuk bernafas, untung saja aku begitu menarik di mata bosku yang umurnya hanya
terpaut lebih tua 3 tahun diatasku hingga akhirnya dia menyatakan cintanya
untuk menjadi pacarku, dan tak selang lama dia memutuskan untuk meminangku. Setelah
aku menerawang jauh tentang itu semua, pikiranku kembali ke mama, sudah 3 tahun
aku dipusingkan dengan kelakuannya yang semakin menjadi, tiap hari mabuk-mabukan,
asap rokok juga selalu bertebaran didalam ruangan. Sebelumnya mamaku adalah
wanita yang sabar, kuat, dan dekat agama, dia tak penah meninggalkan ibadahnya,
yang dilakukannya setiap hari adalah menjadi ibu yang baik. Mulai fajar terbit
dia sudah bangun dan melakukan aktivitas sebagai ibu rumah tangga, dia memasak sarapan
dan bekal makan untukku di sekolah dan papa, setelah itu semua selesai baru dia
bekerja kembali mengurus butik milik keluarga kami, hingga saat sore tiba dia
kembali kerumah dan menyiapkan makanan untuk makan malam, di sela makan malam
kami hidup sebagai keluarga normal yang hidup penuh dengan canda tawa. Mamaku
selalu menemaniku saat aku belajar, aku tahu dia adalah orang yang cerdas,
setiap pertanyaan tentang pelajaran yang kurang ku pahami mamaku selalu
mengajariku, dia membimbingku dengan baik hingga aku selalu menempati juara
pertama di sekolah. Saat aku menginjak bangku kuliah mamaku juga tak pernah
melepaskan aku, dia selalu ada disampingku, selalu mengingatkan aku agar selalu
menjadi anak yang berguna dan selalu melakukan hal-hal positif, saat itu tak
ada hal lain yang aku butuhkan selain mama, aku bahkan tak tertarik untuk
memiliki pacar, selama masih ada mama disampingku aku tak butuh orang lain. Namun
semua tiba-tiba berubah, kehidupan berbalik 180 derajat, papaku yang selama ini
ku kenal tegas dan mengorientasikan hidupnya hanya untuk keluarga saat itu
dimataku dia hanyalah sampah. Di semester akhir kuliahku tiba-tiba papaku
membawa seorang perempuan yang lebih muda dari mamaku dan mengatakan akan
menikahinya karena telah mengandung anak darinya, seketika aku jijik untuk
menganggapnya papa. Aku dan mamaku ditinggalkannya begitu saja,sejak saat itu
aku tak pernah melihatnya lagi hingga sekarang. Saat itu ku lihat mamaku
menangis sejadi-jadinya, tak pernah ku lihat mama seperti itu, mama benar-benar
terlihat lemah, dia menangis dan menjerit sekuat tenaga sebagai ungkapan
kekesalannya, kemudian 3 hari dia memilih untuk mengurung diri di kamar,
setelah 3 hari aku mulai kehilangan sosok mamaku. Dia telah menjelma menjadi
wanita bodoh yang ku kenal seperti sekarang. Dia berusaha tampil kuat padahal
dia lemah. Usaha butik kamipun tak diteruskan dan masa-masa terakhir kuliahku
terlewat begitu saja, tanpa mama mendampingiku di wisuda. Tiba-tiba air mataku
menetes mengingat semua itu sampai aku tersadar saat ada tangan halus dan
hangat yang menghapus air mataku dan membuyarkan lamunanku. Roy, dialah
penyemangatku untuk saat ini, dia tak pernah memandang buruk diriku. Roy sudah
tahu tentang kehidupanku, akupun tahu tentang kehidupannya yang tak kalah suram
denganku, kedua orangtuanya telah meninggal dalam kecelakaan, inilah yang
membuat kami bertahan, karena kami sadar kami saling membutuhkan.
“Roy,
sejak kapan kamu datang?”
“Baru
saja kok, saat aku mau masuk keruanganku ku lihat kamu malah meneteskan air
mata, apa yang sedang kamu pikirkan? Kamu ada masalah? Kenapa gak cerita?”
Aku hanya membalasnya dengan senyuman,”Roy, bisakah hari ini aku pulang lebih
awal? Ada yang ingin ku lakukan untuk persiapan pernikahan kita.”, aku
beralibi, saat ini aku hanya ingin menenangkan pikiranku.
“Kenapa,
Byll? Tumben kamu milih buat izin? Aku akan menemanimu.”
“Gak
perlu, Roy, kamu masih ada pekerjaan yang harus kamu lakukan, kalau ada apa-apa
aku pasti ngehubungin kamu.” Jawabku sambil tersenyum.
“Baiklah,
hati-hati ya, aku tak ingin pengantin cantikku kenapa-kenapa”, ujarnya sambil
mencubit pipiku.
Aku
memutuskan untuk pulang dan beristirahat saja dirumah, kupacu mobilku keluar
dari kantor. Sesampainya dirumah aku terhenti didepan pintu rumah, ku lihat
pintu rumah yang sedikit terbuka, ku lihat mama sedang duduk terkulai menangis sesenggukan
sambil memegangi foto masa kecilku, dielus-elusnya fotoku, dan ku lihat dia
berguman tidak jelas, tak pernah ku lihat mama yang seperti ini setelah sekian
lama, apa ini yang selalu dilakukannya saat aku tak dirumah? Hatikupun bertanya-tanya,
aku masuk dan dengan sigap mamaku membersihkan air matanya, akupun tak ingin
bertanya langsung padanya, aku langsungberjalan menuju kamarku.
“Kok
sudah pulang, byll?”
“Iya,
capek”, jawabku seadanya
“Mama
ingin berubah byll, beri mama kesempatan, mama tak ingin seperti ini, mama
ingin melihat kamu menuju kebahagiaan baru.”, cercanya sambil mulai menangis
lagi,
“Cobalah
saja!”, aku langsung masuk dan menutup pintu kamarku, aku terduduk dibalik
pintu sampai menangis, maafkan aku mama yang begitu kasar padamu, aku hanya
ingin mama menyadari kalau aku tidak ingin mama yang seperti sekarang, aku
butuh mama yang seperti dulu.
Hari demi
hari telah berlalu, ku lihat perubahan yang terjadi pada mamaku, dia sudah tak
pernah terlihat lagi membuat gumpalan-gumpalan asap rokok, dan tak pernah ku
lihat lagi botol-botol minuman keras ada
dirumah ini. Mama memulai kehidupan barunya lagi, tiap pagi dia mulai memasak,
dia selalu menawari untuk sarapan bersamanya terlebih dahulu, tapi aku selalu
menolaknya, dia tak pernah menyerah untuk mendapatkan hatiku kembali, walaupun
sebenarnya hatiku ini tetap untuk mamaku selamanya apapun keadannya, untuk
menghargai tekadnya yang ingin berubah aku selalu meminum susu yang
dibuatkannya, rasa susu yang dibuat mama tak pernah berubah, dia masih ingat
susu yang dicampur dengan madu kesukaanku.
Di hari-5
pernikahanku mamaku memintaku mengajak Roy kerumah untuk makan malam. Aku
mengiyakannya. Mama menyiapkan menu makan malam makanan kesukaanku, rasanya
masih senikmat dulu, sepanjang makan malam kami bertiga hanya diam menikmati
masakan mamaku, ini pertama kalinya aku makan masakan mamaku setelah sekian
lama aku tak merasannya. Setelah mamaku, selesai menghabiskan makanannya, dia
berdiri dan berjalan menghampiri Roy, dielusnya kepala Roy sambil berbisik
mengatakan,”Jaga anak kesayangan tante batik-baik ya!”, mama tersenyum dan berlalu
masuk ke kamar.
Tinggal
kami berdua di meja makan, Roy menghampiriku dan mengecup keningku,”Katakan
pada mamamu kalau aku sangat mencintaimu dan akan selalu menjagamu, mamamu
orang baik, hargai kebaikannya selama ini, aku pulang dulu, sekarang waktunya
kamu dan mamamu untuk membuka semua isi hati.”
Aku tak
dapat berkata apa-apa lagi, setelah aku mengantar Roy sampai depan pintu, aku
terus memikirkan kata-katanya, baiklah aku harus membuka isi hatiku dan
mengembalikan semua seperti dulu. Aku melangkah pasti ke kamar mamaku dan
langsung ku ketuk pintu kamarnya,”Mamaaa…”, seperti sudah lama aku tak mengatakannya,
aku rindu sekali untuk mengatakannya.
“Masuk
sayang, mama gak kunci pintunya.”
Ku lihat
mamaku tersenyum sambil menahan tangis, seberapa kuat dia menahannya dengan
senyuman, mata tak dapat berbohong, air matanya tak tertahan lagi, dia menutupi
mukanya dengan kedua tangannya, ku sadari bahwa dia sudah tak semuda dulu, wlaupun
raut kecantikannya masih bertahan, tapi keriput sudah membentuk di sekitar
wajah dan tangannya, badannyapun mulai mengurus, usianya sudah menginjak kepala
5, seharusnya aku bisa membahagiakannya. Langsung ku raih kepalanya dan ku
peluk dia, ku biarkan dia menangis sejadi-jadinya, akupun tak kuasa menahan
tangisku.
“Maafin
mama… Mama gak bisa menjadi mama yang kuat… Mama egois hanya memikirkan diri
mama sendiri”
“Sudahlah
maa… Bylla juga minta maaf, Bylla selama ini selalu kasar sama mama, Bylla gak
pernah mau tahu dengan keadaan mama, masih sulit bagi Bylla menerima semua ini,
Bylla juga egois maaa…”
“Mama
sadar kamu bukan si kecil mama lagi, sudah waktunya kamu memulai kehidupan baru
dengan suamimu nanti, mama hanya
berharap bisa melihat kamu selalu tersenyum bahagia, maafin mama yang tak
pernah bisa bahagiain kamu. Mama selalu berusaha menutupi kelemahan mama, tapi
yang terjadi kamu justru semakin menjauhi mama, mama memang bodoh, mama ingin
menebus semua kesalahan mama…”, ujarnya sambil menangis sesenggukan,
“Berat
bagi Bylla ninggalin mama seperti ini, Bylla ingin terus sama-sama mama kayak
dulu, Bylla gak bisa kalau gak sama mama, Bylla rela ngelepas Roy demi mama…”
“Enggak
sayang… Kamu harus bersama Roy, dia anak yang batik, kalian saling membutuhkan,
kamu sudah dewasa, inilah kehidupanmu sayang, hargai dia yang mencintaimu. Mama
sangat mencintai kamu… Tapi ini sudah saatnya orang lain juga mencintai kamu”
“Terima
kasih maa… Mama selalu ngebahagiain Bylla, mama selalu berusaha menjadikan
Bylla agar menjadi yang terbaik, Bylla gak pernah lupa bagaimana rasanya ketika
mama selalu ada disisi Bylla, mama adalah hati dan jantung Bylla.”
Kami
berduapun saling menatap dalam diam, sekali lagi ku peluk tubuh mama, tubuh
yang sangat ku rindukan, dan selalu ku sayang, dielusnya kepalaku dengan penuh
kasih sayang, malam ini kami telah menjadi sepasang ibu dan anak yang penuh
kasih sayang kembali.
Di hari
pernikahanku, mamaku dengan mukanya yang berseri-seri tak henti-hentinya
tersenyum padaku. Yang aku tahu hingga saat ini, mamaku tak pernah membuang
rasa cintanya yang hanya untukku, segala kelakuan bodoh yang dilakukannya hanya
untuk menutupi kelemahannya, walau dia sadar dia telah salah ambil langkah,
tapi kini mamaku yang dulu telah kembali, rasa kesepiannya selama ini telah
terobati, dia tak peduli lagi dengan masa lalu buruknya, yang dia inginkan
hanya melihatku bahagia, baginya kebahagiaanku adalah satu-satunya, yang benar saja,
kebahagiaanku itu adalah MAMA dengan melihatnya kembali menjadi sosok malaikat,
kebahagiaanku sudah tak bisa terukur lagi, Terima kasih Tuhan, mamaku telah
kembali, dia yang selalu ada dari kecilku hingga dewasaku, lindungi dia selalu Tuhan,
biarkan senyumnya tetap menghiasi bibirnya.
Mama… Aku
sangat mencintaimu…
0 komentar:
Posting Komentar