Pelita yang tak pernah redup, cahaya
yang selalu menghangatkan, aliran yang selalu menyejukkan, warna-warna indah
yang lebih dari sekadar warna pelangi, symphoni
merdu yang bukan hanya sekadar musik belaka, Mamaa…. Semua itu hanya mama yang
bisa memberikannya.
Mama, kau selalu memiliki harapan yang
besar setelah kedatanganku di dunia ini, kau selalu membuka jalan untukku, kau
bimbing aku secara perlahan dari tahun ke tahun. Bagaimana bisa aku tega menyakitimu
dengan segala kelakuanku?
Setahun… Dua tahun… Tiga tahun… Kau
tuntun aku berjalan selangkah dua langkah hingga aku bisa berlari ribuan
langkah hingga saat ini, kau eja aku untuk berucap sepenggal dua penggal kata,
hingga saat ini ribuan kata dari dasar yang kau buat telah begitu saja bisa
terucap…
Empat tahun… Lima tahun… Enam tahun…
Kau ajari aku banyak hal, kau dasari hidupku dengan agama, kau kenalkan aku
dengan Tuhan, segala dasar kehidupanku telah Engkau bangun. Kau mulai hidupku
yang telanjang hingga aku berpakaian, kau membawaku pada hari-hari yang harus
aku jalani, penuh harapmu agar aku menemukan citaku. Begitu pula dengan buah
hatimu yang lain, yang mulai lahir setelah aku, kau hidupkan mereka dengan
penuh kebahagiaan lagi, semua kebahagiaanmu selalu kau persembahkan untuk kami.
Tujuh tahun… Delapan tahun… Sembilan tahun…
Kau bangkitkan aku agar menjadi yang terbaik, melakukan yang terbaik dengan
segala usaha yang terbaik, yaa… Aku mendapatkannya mama, ku ingat senyummu kala
itu, Engkau yakin dan sepenuhnya memberikan keyakinan bahwa aku harus bisa
meraih apapun yang ada didepanku, Engkau mengatakan aku tidak boleh kalah, yaa…
Dan sejak saat itu aku tak mau kalah, serta tak ingin kalah.
Sepuluh tahun… Sebelas tahun… Dua belas
tahun… Jenjang demi jenjang mulai ku tanjaki, kau pun bangga ternyata aku bisa
dan tak kalah. Apapun keadaanku kau selalu menganggap aku tak kalah, Engkau
selalu yakin dimana aku jatuh maka akan ada tempat lain untukku bangkit. Yapsss…
Aku berhasil lagi mama, karena aku tak mau kalah.
Tiga belas tahun… Empat Belas tahun…
Lima belas tahun… Kau tetap ada untukku,bahkan untuk kami, kebahagiaan itu
terbagi rata, bagaimana bisa engkau membagi rata semua itu mama? Kau tetap saja
tersenyum dan bangga atas apa yang kami dapat, mana mungkin aku tega
mengecewakanmu? Walau aku seringkali membuatmu kecewa, aku tahu mama, mungkin
engkau kecewa, tapi kau tetap meyakini bahwa aku tidak pernah kalah, sehingga
engkau selalu bangga. Masa-masa dimana mama selalu menguatkan aku, disanalah
aku bersinar, aku berhasil mama, atas keyakinanmu, segala target,
keinginan-keinginan didepanku berhasil ku dapatkan, dan kau tahu mama? Tak ada
yang lebih membahagiakan selain memberikan apa yang aku dapat semua hanya untuk
mama.
Enam belas tahun… Mulai ku jalani hari
yang berbeda lagi, suasana yang beda lagi, dan hal yang baru lagi, ku buat
target-target lagi. Saat ku jalani hari-hariku yang merasa seperti sedang
diburu, hingga aku lupa apa yang akan ku pilih setelah semua terlewati. Kau tetap
ada mama, dari terbit fajar hingga terbenamnya fajar, kau suapi aku dengan
segala hal, kau cukupi segala kebutuhanku yang bahkan tak ku pikir, hal-hal
kecil sekalipun kau cukupi. Walaupun disaat ini aku mulai mengenal dunia yang
berbeda, kau tetap ada dan senantiasa membimbingku agar tak salah arah.
Tujuh belas tahun… Seperti akhir dari
perburuan, entahlah, disinilah siapa yang kuat dia yang bertahan, yaps… Tepat
sekali, karena kekuatan mama yang selalu mendorongku dari berbagai arah hingga
aku terus melangkah ke depan, aku berhasil. Masa-masa dimana seluruh bagian
otakku bekerja keras akhirnya beristirahat, dan aku tak kalah mama, aku tetap
bersinar, pelitamu memang selalu merangsangku untuk tetap bersinar.
Delapan belas tahun… Ku tanamkan
pilihanku yang ku dasari dengan ego, entah apa yang aku inginkan saat itu?
Bebas? Lepas? Membuang kisah pahit? Kau simpan tangismu atas pilihanku, kau
simpan erat pilihanmu untukku, kau iyakan saja apa yang ku inginkan, itu selalu
terjadi, hingga aku menyadari pilihanku saat ini justru membuatku ingin
menyerah, hingga saat ini aku tak lagi tahu apa yang harus ku pikirkan. Mama, setalah
ku rasakan menjauh darimu adalah hal yang sulit, ini bukan waktuku untuk tak
bersamamu mama. Aku menyadari semua sudah terlambat, kita hanya bisa berjumpa
via suara, terkadang aku hanya berdiam sesenggukan dan yang ku ingat hanya
engkau mama. Bagaimana bisa aku kuat tanpa kau disisiku? Tapi engkau tetap
menyuruhku bangkit, buat apa menyesali apa yang terjadi? Engkau mengatakan aku
harus tetap menjadi kuat dan tak kalah, walaupun nyatanya aku sudah merasakan
kalah dan tak bersinar lagi. Namun, engkau tetap yakin dan tak membuangku,
engkau tak pernah menyesali kenapa harus melahirkan aku yang lemah seperti
sekarang.
Mama, engkau dan aku tahu, jikalau aku
selalu membutuhkanmu, tapi apalah daya, semua sudah terjadi, aku berharap
cahayamu untukku tak pernah redup, do’amu untukku tetap mengalir walaupun kita
terbentang jarak. Kini yang harus aku lakukan adalah mulai bangkit kembali
membuat target-target baru lagi, walau terkadang aku merasa sudah dikalahkan
tapi setidaknya biarkan aku mencobanya dan meneruskan apa yang telah aku pilih.
Selalu kuatkan aku mama.
Mama, ketahuilah bahwa aku selalu
menyayangimu, selalu merindukanmu dari sini, hanya do’a yang bisa ku kirimkan
untukmu, semoga Allah selalu melindungi mama, selalu membahagiakan mama, selalu
memberi kesehatan pada mama, selalu melancarkan rezeki mama, dipanjangkan umur
mama hingga melihat anak-anak yang dibesarkannya merangkul mama dengan
kesuksesan dan kebanggan yang diharapkan, dan tetaplah menjadi mama yang super mama
bagi kami. Selamat hari ibu, mamaku sayang:* tiada hari tanpa do’a untukmu
mama. Dari anakmu yang selalu merindukanmu di pulau sebrang.
0 komentar:
Posting Komentar