Senin, 22 Desember 2014

Kuatkan Aku

Diposting oleh Prily Harsiani di 12/22/2014 08:44:00 PM
Pelita yang tak pernah redup, cahaya yang selalu menghangatkan, aliran yang selalu menyejukkan, warna-warna indah yang lebih dari sekadar warna pelangi, symphoni merdu yang bukan hanya sekadar musik belaka, Mamaa…. Semua itu hanya mama yang bisa memberikannya.

Mama, kau selalu memiliki harapan yang besar setelah kedatanganku di dunia ini, kau selalu membuka jalan untukku, kau bimbing aku secara perlahan dari tahun ke tahun. Bagaimana bisa aku tega menyakitimu dengan segala kelakuanku?


Setahun… Dua tahun… Tiga tahun… Kau tuntun aku berjalan selangkah dua langkah hingga aku bisa berlari ribuan langkah hingga saat ini, kau eja aku untuk berucap sepenggal dua penggal kata, hingga saat ini ribuan kata dari dasar yang kau buat telah begitu saja bisa terucap…

Empat tahun… Lima tahun… Enam tahun… Kau ajari aku banyak hal, kau dasari hidupku dengan agama, kau kenalkan aku dengan Tuhan, segala dasar kehidupanku telah Engkau bangun. Kau mulai hidupku yang telanjang hingga aku berpakaian, kau membawaku pada hari-hari yang harus aku jalani, penuh harapmu agar aku menemukan citaku. Begitu pula dengan buah hatimu yang lain, yang mulai lahir setelah aku, kau hidupkan mereka dengan penuh kebahagiaan lagi, semua kebahagiaanmu selalu kau persembahkan untuk kami.

Tujuh tahun… Delapan tahun… Sembilan tahun… Kau bangkitkan aku agar menjadi yang terbaik, melakukan yang terbaik dengan segala usaha yang terbaik, yaa… Aku mendapatkannya mama, ku ingat senyummu kala itu, Engkau yakin dan sepenuhnya memberikan keyakinan bahwa aku harus bisa meraih apapun yang ada didepanku, Engkau mengatakan aku tidak boleh kalah, yaa… Dan sejak saat itu aku tak mau kalah, serta tak ingin kalah.

Sepuluh tahun… Sebelas tahun… Dua belas tahun… Jenjang demi jenjang mulai ku tanjaki, kau pun bangga ternyata aku bisa dan tak kalah. Apapun keadaanku kau selalu menganggap aku tak kalah, Engkau selalu yakin dimana aku jatuh maka akan ada tempat lain untukku bangkit. Yapsss… Aku berhasil lagi mama, karena aku tak mau kalah.

Tiga belas tahun… Empat Belas tahun… Lima belas tahun… Kau tetap ada untukku,bahkan untuk kami, kebahagiaan itu terbagi rata, bagaimana bisa engkau membagi rata semua itu mama? Kau tetap saja tersenyum dan bangga atas apa yang kami dapat, mana mungkin aku tega mengecewakanmu? Walau aku seringkali membuatmu kecewa, aku tahu mama, mungkin engkau kecewa, tapi kau tetap meyakini bahwa aku tidak pernah kalah, sehingga engkau selalu bangga. Masa-masa dimana mama selalu menguatkan aku, disanalah aku bersinar, aku berhasil mama, atas keyakinanmu, segala target, keinginan-keinginan didepanku berhasil ku dapatkan, dan kau tahu mama? Tak ada yang lebih membahagiakan selain memberikan apa yang aku dapat semua hanya untuk mama.

Enam belas tahun… Mulai ku jalani hari yang berbeda lagi, suasana yang beda lagi, dan hal yang baru lagi, ku buat target-target lagi. Saat ku jalani hari-hariku yang merasa seperti sedang diburu, hingga aku lupa apa yang akan ku pilih setelah semua terlewati. Kau tetap ada mama, dari terbit fajar hingga terbenamnya fajar, kau suapi aku dengan segala hal, kau cukupi segala kebutuhanku yang bahkan tak ku pikir, hal-hal kecil sekalipun kau cukupi. Walaupun disaat ini aku mulai mengenal dunia yang berbeda, kau tetap ada dan senantiasa membimbingku agar tak salah arah.
Tujuh belas tahun… Seperti akhir dari perburuan, entahlah, disinilah siapa yang kuat dia yang bertahan, yaps… Tepat sekali, karena kekuatan mama yang selalu mendorongku dari berbagai arah hingga aku terus melangkah ke depan, aku berhasil. Masa-masa dimana seluruh bagian otakku bekerja keras akhirnya beristirahat, dan aku tak kalah mama, aku tetap bersinar, pelitamu memang selalu merangsangku untuk tetap bersinar.

Delapan belas tahun… Ku tanamkan pilihanku yang ku dasari dengan ego, entah apa yang aku inginkan saat itu? Bebas? Lepas? Membuang kisah pahit? Kau simpan tangismu atas pilihanku, kau simpan erat pilihanmu untukku, kau iyakan saja apa yang ku inginkan, itu selalu terjadi, hingga aku menyadari pilihanku saat ini justru membuatku ingin menyerah, hingga saat ini aku tak lagi tahu apa yang harus ku pikirkan. Mama, setalah ku rasakan menjauh darimu adalah hal yang sulit, ini bukan waktuku untuk tak bersamamu mama. Aku menyadari semua sudah terlambat, kita hanya bisa berjumpa via suara, terkadang aku hanya berdiam sesenggukan dan yang ku ingat hanya engkau mama. Bagaimana bisa aku kuat tanpa kau disisiku? Tapi engkau tetap menyuruhku bangkit, buat apa menyesali apa yang terjadi? Engkau mengatakan aku harus tetap menjadi kuat dan tak kalah, walaupun nyatanya aku sudah merasakan kalah dan tak bersinar lagi. Namun, engkau tetap yakin dan tak membuangku, engkau tak pernah menyesali kenapa harus melahirkan aku yang lemah seperti sekarang.

Mama, engkau dan aku tahu, jikalau aku selalu membutuhkanmu, tapi apalah daya, semua sudah terjadi, aku berharap cahayamu untukku tak pernah redup, do’amu untukku tetap mengalir walaupun kita terbentang jarak. Kini yang harus aku lakukan adalah mulai bangkit kembali membuat target-target baru lagi, walau terkadang aku merasa sudah dikalahkan tapi setidaknya biarkan aku mencobanya dan meneruskan apa yang telah aku pilih. Selalu kuatkan aku mama.


Mama, ketahuilah bahwa aku selalu menyayangimu, selalu merindukanmu dari sini, hanya do’a yang bisa ku kirimkan untukmu, semoga Allah selalu melindungi mama, selalu membahagiakan mama, selalu memberi kesehatan pada mama, selalu melancarkan rezeki mama, dipanjangkan umur mama hingga melihat anak-anak yang dibesarkannya merangkul mama dengan kesuksesan dan kebanggan yang diharapkan, dan tetaplah menjadi mama yang super mama bagi kami. Selamat hari ibu, mamaku sayang:* tiada hari tanpa do’a untukmu mama. Dari anakmu yang selalu merindukanmu di pulau sebrang.



0 komentar:

 

Prysia's Note Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea