Selasa, 02 Desember 2014

Kirana Srikandi

Diposting oleh Prily Harsiani di 12/02/2014 10:39:00 AM

Mungkin aku memang tak terlihat sempurna, dan selalu dianggap rendah oleh orang-orang yang melihat aku sepintas dari apa yang tidak aku miliki. Ya, memang banyak sebutan yang aku terima selama ini, aku tak tau bagaimana pikiran manusia itu yang sebenarnya, saat ada orang yang begitu cantik maupun tampan ataupun terlihat begitu sempurna dari segi fisiknya tetap bisa dijadikan sebagai bahan gunjingan, entah gunjingan iu menyinggung SARA ataupun menyinggung perasaan, maupun hal lainnya manusia tak peduli dengan apa yang mereka jadikan bahan gunjingan. Itupun yang digunjingkan adalah merupakan sosok yang sempurna, bagaimana dengan aku?  Kalau yang sempurna saja mendapat gunjingan pastinya aku akan lebih mengalami kepahitan dari gunjingan-gunjingan maupun olok-olokkan, tapi, itulah yang memang pantas aku terima walaupun pahit.


Aku, akulah si buta, namaku Kirana, lengkapnya Kirana Srikandi, orang tuaku memberikanku nama itu karena, mereka berharap aku akan menjadi sosok perempuan yang selalu kuat dan tegar saat menghadapi masalah apapun. Ya, aku memang cacat tidak bisa melihat sejak lahir namun, aku juga tidak pernah merasa bahwa aku ternyata aku memiliki kekurangan itu, aku tetap selalu merasa bahwa hidupku bahagia, bagaimana tidak?!  Aku punya kedua orang tua kandung yang selalu rukun dan bisa menghidupi aku hingga umurku sekarang mencapai 17 tahun, aku juga punya adik-adik yang juga sangat menyayangi aku seperti halnya seperti orang tuaku yang juga menyayangi aku. Akupun memiliki kemampuan yang bisa dibilang lebih, aku begitu peka terhadap apa yang ada didekatku, pendengarankupun begitu tajam, aku bahkan sudah hafal dengan suara dan langkah kaki semua keluargaku, kerabatku, maupun teman-temanku, selama ini aku juga tetap bersekolah ditempat anak-anak biasa bersekolah.

Aku sering disebut sebagai anak yang cerdas, karena selama ini akupun juga tak pernah tinggal kelas. Dan aku juga sering mendapat peringkat 1 disekolah mulai dari kelas 1 SD hingga sekarang aku kelas 3 SMA, berbagai lomba cerdas cermat maupun berbagai macam olimpiade pernah kuikuti dan berhasil menyabet gelar juara, saat SMP akupun dinobatkan sebagai siswa teladan tingkat Provinsi. Beasiswapun silih berganti datang menghampiriku. Banyak orang tak pernah menyangka akan peruntungan baikku, pasti orang berpikir,”Orang buta kok bisa kayak gitu”. Ya itulah aku! Bagaimana aku bisa melakukan semua itu?  Dan bisa menjadi sosok anak yang dibilang pintar? Tidak sulit, setiap aku pergi kemanapun aku selalu membawa tape recorderku. Jadi, kalau disekolah saat diterangkan oleh guru aku bisa merekamnya dan mendengarkannya dirumah kembali, sejak SD itulah yang aku lakukan akupun jadi terbiasa dengan itu semua. Untuk bisa menulispun aku sudah belajar mulai sejak kecil, awalnya aku belajar dengan huruf Brayller, namun, sekarang tanpa itu aku sudah mulai mengerti dan bisa membeda-bedakan huruf. Untuk menulis dibukupun aku sudah terbiasa merasakan garis-garis yang terdapat di masing-masing lembaran kertas. Jadi, tulisankupun bisa tetap tertata rapi. Teman-temankupun mengakui hal itu.

Teman-teman yang pernah sekelas denganku tak pernah menganggapku rendah mereka selalu membantuku kalaupun aku mendapat kesulitan mereka selalu membelaku. Namun, tak sedikit pula teman-teman dari kelas lain yang biasa mengejek aku ataupun mengerjai atau menjaili aku yang buta ini, tapi, aku tak peduli dengan apa yang mereka lakukan padaku. Buat apa aku menanggapi apa yang mereka perbuat, mereka saja tak pernah mengurus kehidupanku maupun kebutuhanku, lagipula aku juga tak mau merusak kebahagiaanku dengan mencari musuh. Hehehe... jadi siapa bilang orang buta itu selalu susah!!! gak tuch!!! akupun tak pernah menangis, yang kurasa selama ini adalah dimana aku selalu mendapatkan kebahagiaan yang berlimpah, dan aku begitu bahagia hingga saat ini aku masih bisa menikmati udara gratis untuk paru-paruku, pompa darah di jantungku secara gratis juga. Namun, selama ini justru Bundakulah yang sering menangis, dia selalu menyalahkan dirinya sendiri atas keadaanku seperti ini, saat Bunda menangispun aku tetap tahu walaupun pandanganku gelap akan apa yang ada didekatku, tapi, inilah aku! perasaanku begitu peka. Saat Bunda mulai menangis pasti aku selalu berkata,”Bunda, jangan kau anggap aku tidak bahagia dengan keadaanku seperti ini, aku selalu bahagia Bunda, apa kau tidak melihat aku selalu bangun tidur dengan tersenyum dan tidur lagi dengan tersenyum, aku lahir dalam keadaan senang, kalaupun aku mati aku akan tetap tersenyum. Aku tak pernah mengeluh dengan keadaan seperti yang seperti ini, apa aku pernah mengeluh kepada Bunda?! Tidak pernah kan?! Aku sayang keluarga ini bunda, inilah yang membuat aku tak pernah merasa susah dengan keadaan ini.”, sejenak terasa sunyi, kurasakan jari-jari halus Bunda mengusap rambutku, dan sambil dia berkata,”kamu, adalah harta termahal yang Bunda miliki, dan Bunda begitu menyayangimu.”. Kurasakan air mata Bunda menetes, tapi aku tau air mata itu berbeda, orang yang selama ini selalu merawatku dengan kasihnya, mulai dari aku bersarang diperutnya, dan hatinya begitu mulia mau merawatku dalam keadaan cacat ini, tanpa memperhatikan gunjingan-gunjingan orang sekitarnya, kurasakan sejenak mungkin dia tersenyum padaku dan sekarang aku dalam pelukan Bunda yang begitu hangat. Aku berkata pada Bunda,”inilah bun, yang membuat kiran tak pernah merasa sedih,  jangan panggil aku Kirana Srikandi jika aku mengeluh dengan keadaanku, akulah sosok yang kuat untuk Bunda yang selalu mengasihiku”, kecupan manispun terasa dikeningku, kurasakan air mata Bunda menetes dan mengalir hingga bibirku.
___
“Kirana Srikandi, silakan maju ke Podium bersama Orang tua pendamping.”. Sejenak kurasakan tepuk tangan terdengar riuh bergemuruh memenuhi seluruh ruangan itu hingga terasa ke seluruh sudut ruangan. Tangan Bunda dan ayah meraih tanganku dan membimbingku untuk segera maju ke podium, tangan mereka begitu dingin kurasa, kurasakan dingin itu merupakan rasa bangga terhadapku. Aku berjalan diantara kursi-kursi, senyum dan rasa terharu menyelimutiku, bulu-buluku rasanya berdiri semua, senyumku tak terlepas dari wajahku yang merasa kebahagiaan tak terkira. Sampailah aku diatas podium, terdengar suara Kepala Sekolah berbicara dengan tegas dan bijaksananya,”Selamat kepada Ananda Kirana Srikandi, anda telah dinyatakan sebagai lulusan terbaik disekolah ini, dan berhasil membawa nama baik untuk sekolah tercinta kita ini, sekali lagi selamat kami ucapkan kepada Anda”. Air mata tak kuasa kutahan, aku begitu terharu, kudapati tangan Kepala Sekolah mengajakku berjabat tangan sambil memberikan hadiah berupa Tropy, piagam, dan sejumlah uang yang ditaruh diamplop, ruangan itu kembali terdengar riuh dipenuhi oleh suara tepuk tangan. Kemudian, Beliau kembali berbicara,”Inilah merupakan contoh bagaimana kehidupan berjalan. Fisik takkan mempengaruhi siapapun untuk melakukan sesuatu hal yang berguna bagi kehidupan kita. Kita lihat didepan kita ini adalah merupakan salah satu contoh yang pantas untuk ditiru, dengan kekurangan yang dia miliki tak pernah menghalanginya untuk berprestasi. Sekali lagi kami ucapkan selamat kepada ananda Kirana Srikandi, dan atas buah hasil prestasi-prestasi yang sudah kamu raih. Dinas provinsi bersedia membiayai seluruh biaya kamu di Universitas yang kamu tuju”. Tepuk tangan yang kesekian kali berhasil memekakkan telingaku, aku bahagia sekali. Terima kasih Tuhan!.
___
“Kuliah kuliah kuliah!!! ternyata seperti ini kehidupan anak kuliah, kenapa berbeda? Aku tak bisa merasakan kehidupan indahku lagi!!! aku pusing, tugas seabrak!!! temanpun tak ada yang menetap dalam kehidupanku! Semua hanya mengurus kehidupan pribadi mereka masing-masing! Ada apa ini! Aku kesulitan, aku benar kesulitan atas kehidupan gelapku ini” itulah yang selalu kuucapkan. Sebenarnya aku masih bisa melalui masa-masa kuliahku seperti ini, buktinya aku tetap dianggap excellent oleh mahasiswa-mahasiswa lainnya, dosen-dosenpun selalu menganggapku cerdas, dan selalu memberikan nilai “A” untuk setiap mata tugas yang diberika padaku, tapi, ini berat Tuhan, segala macam ocehan mahasiswa-mahasiswa yang membuat telinga hingga hatiku sakit ocehan yang sering kudengar begitu membuatku berpikir untuk merubah sesuatu aku mulai capek dengan perkataan dan gunjingan mereka ,”eiiitsss... cantik cantik kok buta. Kamu tuch cerdas! Sayang kamu gak bisa melihat kecerdasanmu ... hahaha,,, (mereka tertawa). Ech.. liat tuch, masak cewek secerdas kamu gak tahu bentuk kampusmu sendiri”. Dan masih banyak ocehan-ocehan para mahasiswa yang terkumpul dipikiranku. Aku ingin seperti yang lainnya, aku ingin merasakan suatu kesempurnaan, aku sudah mulai capek dengan mata yang tak tahu apa-apa ini. Sejenak terlintas dipikiranku, sebelum-sebelumnya aku tak pernah merasakan hal seperti ini, aku sama sekali tak pernah membayangkan aku akan memikirkan hal ini.

Sudah 4 semester kurang 4 semester lagi aku akan merasakan rasanya menjadi seorang sarjana. Tapi, sebelum itu terjadi satu hal yang kuinginkan adalah melihat semua yang telah kualami, dan semua yang ada disekitarku. Suatu malam, aku memberanikan diri untuk berbicara kepada Bundaku, kusampaikan semua keinginanku, kusampaikan semua yang kini kualami. Air mata Bunda menetes sepertinya dia tidak rela, itulah perasaan seorang Bunda yang mencintai anaknya. Dia berkata,”Apa kamu benar-benar ingin melakukannya sayang? Apa kamu tidak takut sesuatu terjadi padamu?”. Akupun dengan tegas menjawab,”Jangan panggil aku Kirana Srikandi jika aku takut”.

Hari-hari yang kunantikan tiba, hari ini aku akan melakukan operasi mata pertama dan ternyata merupakan operasi terakhirku, aku ingin melihat dunia, betapa indahnya hidupku jika aku melakukan ini, selamat tinggal dunia gelapku. Aku masuk kesebuah ruangan yang memang sudah dipersiapkan untukku, sebelum aku masuk ruangan tersebut Ayah dan Bunda terus memeluk tubuhku dan mencium keningku secara bergantian. Tapi, aku merasakan sepeti ada ketidakrelaan aku memasuki ruangan tersebut. Mereka berkata,”Kirana Srikandi itu kuat, berjuanglah nak, kami sayang dan cinta padamu”. Sudah setengah jam dokter itu melakukan operasi terhadap mataku, aku hanya tergeletak lemas oleh suntikan bius yang diberikan dokter untuk tubuhku, sudah satu setengah jam, mulai lama aku mulai merasakan sakit dan pedih dimataku. Sejenak aku berteriak kencang hingga Orang tuaku mendengarnya dan memaksa ingin masuk kedalam ruangan tersebut, mereka mungkin panik atas apa yang terjadi. Kurasa tubuhku melemas, aku seperti tak merasakan apa-apa, dan aku bisa melihat semuanya, sesaat itu aku mencoba berdiri, aku ingin sekali menghampiri Ayah Bundaku ingin kupeluk mereka dan ingin ku menangis bahagia dipelukan mereka sambil berkata,”Aku bisa melihat kalian, aku sekarang bisa melihat adik-adikku”. Aku telah berdiri dan berjalan hingga aku berada di balik pintu, sepasang Pasutri yang kuyakini itu adalah Orang tuaku mencoba masuk keruangan tersebut sesudah masuk mereka langsung berjalan menghampiri dokterku tadi, ekspresi wajah mereka begitu pahit, kenapa mereka justru menangis? Kenapa mereka seperti orang kebingungan? akupun tak kuasa berteriak ,”Ayah, Bunda Kirana ada disini!”. Kenapa sepertinya mereka tak mendengarku? Aku mencoba menghampiri mereka, siapa gadis diranjang yang mereka peluk itu? Kenapa mereka menangis terhadapnya? Bunda aku Disini! Ayah tidakkah kau lihat anak gadismu sekarang sudah bisa melihat! Sebenarnya, siapa sosok gadis yang mereka tangisi? Kucoba semakin mendekati mereka. Tapi, ayah Bunda tetap tak mengalihkan pandangan mereka, kucoba meraih tangan Bunda. Aku terperanjat kaget, ini tidak mungkin! Apa gadis itu adalah sosok tubuhku seorang Kirana Srikandi!!! Aku terkulai lemas, aku sudah tidak bisa mengeluarkan air mata! Ayah Bunda jangan bilang aku sudah tiada! Aku ada disini ayah, Bunda aku disampingmu. Mereka tak mendengar apa-apa, mereka terus menangis dan memeluk erat tubuh yang sudah tidak berdaya itu. Sesaat kemudian Bunda pingsan, aku mencoba meraih tubuhnya, tapi, aku sudah tidak bisa melakukan itu.

Keesokan Harinya, aku tak kuasa melihat ketika tubuhku ini hendak merasakan rasanya dimasukkan ketempat peristirahatan terakhir. Aku melihat Ayah dan Bunda tetap seperti kemarin tetap sesekali menangis sesenggukkan. Kulihat 2 bocah kecil memeluk Bunda erat-erat, mereka pasti adikku. Ingin sekali menghampiri mereka, tapi, kini aku hanya bisa melihat mereka dari jauh. Disana aku melihat kumpulan orang-orang terdekat  untuk melihatku yang terakhir kalinya, semua turut hadir. Dan Sebentar lagi aku akan melihat tubuhku menghilang dari dunia ini. Aku melihat sekelilingku, inikah kehidupan terang yang dilihat beribu-ribu mata diDunia?! Aku sadar dunia gelapku dulu lebih indah dari itu aku sadar kehidupan yang kita jalani itu tidak harus sama dengan kehidupan lainnya. Aku tersadar dan terus tersadar, banyak sekali kesadaran yang berkecamuk dipikiranku, tapi, apalah daya pikirankupun sudah mati. Kehidupan masing-masing orang yang berbeda pasti akan terasa indah apabila kita jalani dengan niat mencari kebahagiaan tanpa harus merubah apa yang kita miliki untuk sesuatu hal yang tak pasti.

Ayah, Bunda maafkan atas kebodohanku ini. Terima kasih selama ini kalianlah yang selalu membuatku bahagia maafkan aku yang sudah menghancurkan pemberian kalian. Aku harap kalian bisa lebih bahagia. Maafkan aku yang tak pernah bisa membahagiakan kalian. Namun, yang perlu kalian tahu kalianlah yang selalu aku cinta dan aku sayangi. Bunda ingat kata-kata yang pernah aku ucapkan,”Aku lahir dalam keadaan tersenyum, dan dalam keadaan mati sekalipun aku akan tetap tersenyum.”. Air mataku menetes, aku tetap tersenyum. Dan aku meninggalakan dunia terangku yang semula. Akulah Kirana Srikandi, kuharap Ayah Bunda tak sedikitpun melupakan aku yang selalu dihati kalian.


SELESAI


0 komentar:

 

Prysia's Note Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea