Mungkin aku memang tak terlihat sempurna, dan
selalu dianggap rendah oleh orang-orang yang melihat aku sepintas dari apa yang
tidak aku miliki. Ya, memang banyak sebutan yang aku terima selama ini, aku tak
tau bagaimana pikiran manusia itu yang sebenarnya, saat ada orang yang begitu
cantik maupun tampan ataupun terlihat begitu sempurna dari segi fisiknya tetap
bisa dijadikan sebagai bahan gunjingan, entah gunjingan iu menyinggung SARA
ataupun menyinggung perasaan, maupun hal lainnya manusia tak peduli
dengan apa yang mereka jadikan bahan gunjingan. Itupun yang digunjingkan adalah
merupakan sosok yang sempurna, bagaimana dengan aku? Kalau yang sempurna saja mendapat
gunjingan pastinya aku akan lebih mengalami kepahitan dari gunjingan-gunjingan
maupun olok-olokkan, tapi, itulah yang memang pantas aku terima walaupun
pahit.
Aku, akulah si buta, namaku Kirana, lengkapnya
Kirana Srikandi, orang tuaku memberikanku nama itu karena, mereka berharap aku
akan menjadi sosok perempuan yang selalu kuat dan tegar saat menghadapi masalah
apapun. Ya, aku memang cacat tidak bisa melihat sejak lahir namun, aku juga
tidak pernah merasa bahwa aku ternyata aku memiliki kekurangan itu, aku tetap
selalu merasa bahwa hidupku bahagia, bagaimana tidak?! Aku punya kedua orang tua
kandung yang selalu rukun dan bisa menghidupi aku hingga umurku sekarang
mencapai 17 tahun, aku juga punya adik-adik
yang juga sangat menyayangi aku seperti halnya seperti orang tuaku
yang juga menyayangi aku. Akupun memiliki kemampuan yang bisa dibilang lebih,
aku begitu peka terhadap apa yang ada didekatku, pendengarankupun begitu tajam,
aku bahkan sudah hafal dengan suara dan langkah kaki semua keluargaku,
kerabatku, maupun teman-temanku, selama ini aku juga tetap bersekolah ditempat
anak-anak biasa bersekolah.
Aku sering
disebut sebagai anak yang cerdas, karena selama ini akupun juga tak pernah
tinggal kelas. Dan aku juga sering mendapat peringkat 1 disekolah mulai dari
kelas 1 SD hingga sekarang aku kelas 3 SMA, berbagai lomba cerdas cermat
maupun berbagai macam olimpiade pernah kuikuti dan berhasil menyabet gelar juara, saat SMP akupun
dinobatkan sebagai siswa teladan tingkat Provinsi. Beasiswapun silih berganti
datang menghampiriku. Banyak orang tak pernah menyangka akan peruntungan baikku,
pasti orang berpikir,”Orang buta kok bisa kayak gitu”. Ya itulah aku! Bagaimana
aku bisa melakukan semua itu? Dan bisa menjadi sosok anak yang dibilang pintar? Tidak sulit, setiap aku pergi kemanapun aku selalu membawa tape recorderku. Jadi, kalau disekolah
saat diterangkan oleh guru aku bisa merekamnya dan mendengarkannya dirumah
kembali, sejak SD itulah yang aku
lakukan akupun jadi terbiasa dengan itu semua. Untuk bisa menulispun aku sudah
belajar mulai sejak kecil, awalnya aku belajar dengan huruf Brayller,
namun, sekarang tanpa itu aku sudah mulai mengerti dan bisa membeda-bedakan
huruf. Untuk menulis dibukupun aku sudah terbiasa
merasakan garis-garis yang terdapat di masing-masing lembaran kertas. Jadi,
tulisankupun bisa tetap tertata rapi. Teman-temankupun
mengakui hal itu.
Teman-teman yang pernah sekelas denganku tak pernah
menganggapku rendah mereka selalu membantuku kalaupun aku mendapat kesulitan
mereka selalu membelaku. Namun, tak sedikit pula teman-teman dari kelas lain
yang biasa mengejek aku ataupun mengerjai atau menjaili aku yang buta ini,
tapi, aku tak peduli dengan apa yang mereka lakukan padaku. Buat apa
aku
menanggapi apa yang mereka perbuat, mereka saja tak pernah mengurus kehidupanku
maupun kebutuhanku, lagipula aku juga tak mau merusak kebahagiaanku dengan
mencari musuh. Hehehe... jadi siapa bilang orang buta itu selalu susah!!! gak
tuch!!! akupun tak pernah menangis, yang kurasa selama ini adalah dimana aku
selalu mendapatkan kebahagiaan yang berlimpah, dan aku begitu bahagia hingga
saat ini aku masih bisa menikmati udara gratis untuk paru-paruku, pompa darah
di jantungku secara gratis juga. Namun, selama ini justru Bundakulah yang
sering menangis, dia selalu menyalahkan dirinya sendiri atas keadaanku seperti ini, saat Bunda menangispun aku tetap tahu walaupun pandanganku
gelap akan apa yang ada didekatku, tapi, inilah aku! perasaanku begitu peka. Saat Bunda mulai menangis
pasti aku selalu berkata,”Bunda, jangan kau anggap aku tidak bahagia dengan
keadaanku seperti ini, aku selalu bahagia Bunda, apa kau tidak melihat aku
selalu bangun tidur dengan tersenyum dan tidur lagi dengan tersenyum, aku lahir
dalam keadaan senang, kalaupun aku mati aku akan tetap tersenyum. Aku tak
pernah mengeluh dengan keadaan seperti yang seperti ini, apa aku pernah
mengeluh kepada Bunda?! Tidak pernah kan?! Aku sayang keluarga ini bunda, inilah yang membuat aku tak pernah merasa susah dengan keadaan ini.”,
sejenak terasa sunyi, kurasakan jari-jari halus Bunda mengusap rambutku, dan
sambil dia berkata,”kamu, adalah harta termahal yang Bunda miliki, dan Bunda
begitu menyayangimu.”. Kurasakan air mata Bunda menetes, tapi aku tau air mata
itu berbeda, orang yang selama ini selalu merawatku dengan kasihnya, mulai dari
aku bersarang diperutnya, dan hatinya begitu mulia mau merawatku dalam keadaan
cacat ini, tanpa memperhatikan gunjingan-gunjingan orang sekitarnya, kurasakan
sejenak mungkin dia tersenyum padaku dan sekarang aku dalam pelukan Bunda yang
begitu hangat. Aku berkata pada Bunda,”inilah bun,
yang membuat kiran tak pernah merasa sedih, jangan panggil aku Kirana Srikandi
jika aku mengeluh dengan keadaanku, akulah sosok yang kuat untuk Bunda yang
selalu mengasihiku”, kecupan manispun terasa dikeningku, kurasakan air mata Bunda
menetes dan mengalir hingga bibirku.
___
“Kirana
Srikandi, silakan maju ke Podium bersama Orang tua pendamping.”. Sejenak kurasakan tepuk tangan terdengar riuh bergemuruh memenuhi
seluruh ruangan itu hingga terasa ke seluruh sudut ruangan. Tangan Bunda dan
ayah meraih tanganku dan membimbingku untuk segera maju ke podium, tangan
mereka begitu dingin kurasa, kurasakan dingin itu merupakan rasa bangga
terhadapku. Aku berjalan diantara kursi-kursi, senyum dan rasa terharu
menyelimutiku, bulu-buluku rasanya berdiri semua, senyumku tak terlepas dari
wajahku yang merasa kebahagiaan tak terkira. Sampailah aku diatas podium,
terdengar suara Kepala Sekolah berbicara dengan tegas dan bijaksananya,”Selamat
kepada Ananda Kirana Srikandi, anda telah dinyatakan sebagai lulusan terbaik
disekolah ini, dan berhasil membawa nama baik untuk sekolah tercinta kita ini,
sekali lagi selamat kami ucapkan kepada Anda”. Air mata tak kuasa
kutahan, aku begitu terharu, kudapati tangan Kepala Sekolah
mengajakku berjabat tangan sambil memberikan hadiah berupa Tropy, piagam, dan
sejumlah uang yang ditaruh diamplop, ruangan itu kembali terdengar riuh
dipenuhi oleh suara tepuk tangan. Kemudian, Beliau kembali berbicara,”Inilah
merupakan contoh bagaimana kehidupan berjalan. Fisik takkan mempengaruhi
siapapun untuk melakukan sesuatu hal yang berguna bagi kehidupan kita. Kita
lihat didepan kita ini adalah merupakan salah satu contoh yang pantas untuk
ditiru, dengan kekurangan yang dia miliki tak pernah menghalanginya untuk
berprestasi. Sekali lagi kami ucapkan selamat kepada ananda Kirana Srikandi,
dan atas buah hasil prestasi-prestasi yang sudah kamu raih. Dinas provinsi bersedia
membiayai seluruh biaya kamu di Universitas yang kamu tuju”. Tepuk tangan yang
kesekian kali berhasil memekakkan telingaku, aku bahagia sekali. Terima kasih
Tuhan!.
___
“Kuliah
kuliah kuliah!!! ternyata seperti ini kehidupan anak kuliah, kenapa berbeda?
Aku tak bisa merasakan kehidupan indahku lagi!!! aku pusing, tugas seabrak!!!
temanpun tak ada yang menetap dalam kehidupanku! Semua hanya mengurus kehidupan
pribadi mereka masing-masing! Ada apa ini! Aku kesulitan, aku benar kesulitan
atas kehidupan gelapku ini” itulah yang selalu kuucapkan. Sebenarnya aku masih
bisa melalui masa-masa kuliahku seperti ini, buktinya aku tetap dianggap excellent oleh mahasiswa-mahasiswa
lainnya, dosen-dosenpun selalu menganggapku cerdas, dan selalu memberikan nilai
“A” untuk setiap mata tugas yang diberika padaku, tapi, ini berat Tuhan, segala macam ocehan mahasiswa-mahasiswa yang membuat telinga hingga
hatiku sakit ocehan yang sering kudengar begitu membuatku berpikir untuk
merubah sesuatu aku mulai capek dengan perkataan dan gunjingan mereka
,”eiiitsss... cantik cantik kok buta. Kamu tuch cerdas! Sayang kamu gak bisa
melihat kecerdasanmu ... hahaha,,, (mereka tertawa). Ech.. liat tuch, masak
cewek secerdas kamu gak tahu bentuk kampusmu sendiri”. Dan masih banyak ocehan-ocehan
para mahasiswa yang terkumpul dipikiranku. Aku ingin seperti yang lainnya, aku
ingin merasakan suatu kesempurnaan, aku sudah mulai capek dengan mata yang tak
tahu apa-apa ini. Sejenak terlintas dipikiranku, sebelum-sebelumnya aku tak
pernah merasakan hal seperti ini, aku sama sekali tak pernah membayangkan aku
akan memikirkan hal ini.
Sudah 4
semester kurang 4 semester lagi aku akan
merasakan rasanya menjadi seorang sarjana. Tapi, sebelum itu
terjadi satu hal yang kuinginkan adalah melihat semua yang telah kualami, dan
semua yang ada disekitarku. Suatu malam, aku memberanikan diri untuk berbicara
kepada Bundaku, kusampaikan semua keinginanku, kusampaikan semua yang kini
kualami. Air mata Bunda menetes sepertinya dia tidak rela, itulah perasaan
seorang Bunda yang mencintai anaknya. Dia berkata,”Apa kamu benar-benar ingin
melakukannya sayang? Apa kamu tidak takut sesuatu terjadi padamu?”. Akupun
dengan tegas menjawab,”Jangan panggil aku Kirana
Srikandi jika aku takut”.
Hari-hari yang kunantikan tiba, hari ini aku akan
melakukan operasi mata pertama dan ternyata merupakan operasi terakhirku, aku ingin melihat dunia,
betapa indahnya hidupku jika aku melakukan ini, selamat tinggal dunia gelapku.
Aku masuk kesebuah ruangan yang memang sudah dipersiapkan untukku, sebelum aku
masuk ruangan tersebut Ayah dan Bunda terus memeluk tubuhku dan mencium
keningku secara bergantian. Tapi, aku merasakan sepeti ada ketidakrelaan aku
memasuki ruangan tersebut. Mereka berkata,”Kirana Srikandi itu kuat,
berjuanglah nak, kami sayang dan cinta padamu”. Sudah setengah jam dokter itu
melakukan operasi terhadap mataku, aku hanya tergeletak lemas oleh suntikan
bius yang diberikan dokter untuk tubuhku, sudah satu setengah jam, mulai lama
aku mulai merasakan sakit dan pedih dimataku. Sejenak aku berteriak kencang
hingga Orang tuaku mendengarnya dan memaksa ingin masuk kedalam ruangan
tersebut, mereka mungkin panik atas apa yang terjadi. Kurasa tubuhku melemas,
aku seperti tak merasakan apa-apa, dan aku bisa melihat semuanya, sesaat itu
aku mencoba berdiri, aku ingin sekali menghampiri Ayah Bundaku ingin kupeluk
mereka dan ingin ku menangis bahagia dipelukan mereka sambil berkata,”Aku bisa
melihat kalian, aku sekarang bisa melihat adik-adikku”. Aku telah berdiri dan
berjalan hingga aku berada di balik pintu, sepasang Pasutri yang kuyakini itu adalah Orang tuaku mencoba masuk keruangan tersebut
sesudah masuk mereka langsung berjalan menghampiri dokterku tadi, ekspresi
wajah mereka begitu pahit, kenapa mereka justru menangis? Kenapa mereka seperti
orang kebingungan? akupun tak kuasa berteriak ,”Ayah, Bunda Kirana ada
disini!”. Kenapa sepertinya mereka tak mendengarku? Aku mencoba menghampiri
mereka, siapa gadis diranjang yang mereka peluk itu? Kenapa mereka menangis
terhadapnya? Bunda aku Disini! Ayah tidakkah kau lihat anak gadismu sekarang sudah bisa melihat! Sebenarnya, siapa sosok gadis yang
mereka tangisi? Kucoba semakin mendekati mereka. Tapi, ayah Bunda tetap tak
mengalihkan pandangan mereka, kucoba meraih tangan Bunda. Aku terperanjat
kaget, ini tidak mungkin! Apa gadis itu adalah sosok tubuhku seorang Kirana
Srikandi!!! Aku terkulai lemas, aku sudah tidak bisa mengeluarkan air mata!
Ayah Bunda jangan bilang aku sudah tiada! Aku ada disini ayah, Bunda aku
disampingmu. Mereka tak mendengar apa-apa, mereka terus menangis dan memeluk
erat tubuh yang sudah tidak berdaya itu. Sesaat kemudian Bunda pingsan, aku
mencoba meraih tubuhnya, tapi, aku sudah tidak bisa melakukan itu.
Keesokan
Harinya, aku tak kuasa melihat ketika tubuhku ini hendak merasakan rasanya
dimasukkan ketempat peristirahatan terakhir. Aku melihat Ayah dan Bunda tetap seperti kemarin tetap sesekali menangis sesenggukkan.
Kulihat 2 bocah kecil memeluk Bunda erat-erat, mereka pasti adikku. Ingin
sekali menghampiri mereka, tapi, kini aku hanya bisa melihat mereka dari jauh.
Disana aku melihat kumpulan orang-orang
terdekat untuk melihatku yang terakhir kalinya, semua turut hadir. Dan Sebentar lagi aku akan melihat tubuhku menghilang dari
dunia ini. Aku melihat sekelilingku, inikah kehidupan terang yang dilihat beribu-ribu mata diDunia?! Aku sadar dunia gelapku dulu lebih indah dari itu aku
sadar kehidupan yang kita jalani itu tidak harus sama dengan kehidupan lainnya.
Aku tersadar dan terus tersadar, banyak sekali kesadaran yang berkecamuk
dipikiranku, tapi, apalah daya pikirankupun
sudah mati.
Kehidupan masing-masing orang yang berbeda pasti akan terasa indah apabila kita
jalani dengan niat mencari kebahagiaan tanpa harus merubah apa yang kita miliki
untuk sesuatu hal yang tak pasti.
Ayah, Bunda
maafkan atas kebodohanku ini. Terima kasih selama ini kalianlah yang selalu
membuatku bahagia maafkan aku yang sudah menghancurkan pemberian kalian. Aku
harap kalian bisa lebih bahagia. Maafkan aku yang tak pernah bisa membahagiakan
kalian. Namun, yang perlu kalian tahu kalianlah yang selalu aku cinta dan aku
sayangi. Bunda ingat kata-kata yang pernah aku ucapkan,”Aku lahir dalam keadaan
tersenyum, dan dalam keadaan mati sekalipun aku akan tetap tersenyum.”. Air
mataku menetes, aku tetap tersenyum. Dan aku meninggalakan dunia terangku yang semula. Akulah Kirana Srikandi, kuharap Ayah Bunda tak
sedikitpun melupakan aku yang selalu dihati kalian.
SELESAI
0 komentar:
Posting Komentar