Sabtu, 29 November 2014

Menanti Awan

Diposting oleh Prily Harsiani di 11/29/2014 06:58:00 PM

“Lily, sebenarnya aku sudah capek, kalo kita kayak gini terus, aku pengen kita berhenti ribut, musuhan dan bertengkar, kamu mau kan?”
“Heh, dengar ya Wan, aku sebenarnya juga nggak pengen lagi ribut sama kamu, kamu kira aku juga nggak capek apa?”
“Iya ya, Ly, aku juga pengen bilang ke kamu sesuatu yang selama ini aku pendam, aku pengen ngomong serius sama kamu.”
“Ya udah, ngomong aja, apa?!!!”
“Lily sebenarnya, sejak pertama, sejak dulu sekali aku suka sama kamu, aku sayang sama kamu...”
“Haa...?!!!! He-he... he-he...”
“Kamu jangan ketawa, aku serius, dari dulu aku pendam perasaanku ini ke kamu, dan sekarang aku udah capek, makanya aku bilang aja ke kamu semuanya, kalo dari pertama kita kenal aku suka dan sayang sama kamu, tapi.. tapi... sebagai teman.”


Apa-apaan sih si Awan ini, aku benar-benar benci sama dia. Beberapa detik yang lalu baru aja dia bilang kalo dia suka dan sayang sama aku, tapi kenapa sekarang dipertegasnya dengan kata-kata sebagai teman, aku nggak bisa mengartikannya dengan jelas, apa yang ada di hatinya sebenarnya. Tapi mata Awan memerah, dia seperti ingin menangis, aku juga nggak tau harus jawab apa? Tak sepatah katapun keluar dari mulutku. Akhirnya aku ninggalin dia, dengan perasaan yang bingung dan masih bimbang, rasanya aku ingin mengungkapkan isi hatiku juga, tapi kenapa justru aku cuma bisa diam? Aneh banget? Andai aja Awan tau kalo aku juga punya perasaan yang sama ke dia, tapi kenapa akhirnya dia malah ngomong sebagai teman ya? Apa mungkin karena tadi aku meresponnya dengan ketawa, aduuuuh... gimana ini? aku salah, andai aja tadi nggak ngetawain dia.

Hari-hari pun berlalu, aku dan Awan nggak pernah bertegur sapa lagi. Selama ini walaupun kami sering berantem, tapi satu yang nggak pernah kami lakukan, yaitu saling diam. Nah, sekarang udah hampir 2 minggu kami berdua nggak pernah ngomong lagi. Entah siapa yang mulai duluan. Yang jelas, aku dan Awan sampe sekarang nggak ada yang mengalah.
Siang ini, aku nggak menyangka melihat pemandangan yang membuat jantungku serasa mau meledak, kulihat Awan sedang terlihat asyik berbincang-bincang seorang cewek. Dia bukan karyawan di tempat kami kerja. Aku baru pertama kali ini ngelihat dia. Dia cantik, postur tubuhnya bak seorang model, kulitnya putih, hidung mancung, rambutnya yang lurus, dan berwarna pirang terlihat indah tergerai sampai ke punggungnya. Aku merasa sakit banget, aku cemburu, patah hati, marah, dan benci banget sama Awan. Apa maksudnya kayak gini? baru dua minggu yang lalu dia bilang suka dan sayang sama aku, dan cepat banget dia langsung dekatin cewek lain.

Aku terus mencoba menghindari dari Awan, entah mungkin Tuhan yang telah mengaturnya, aku dan dia selalu selisih jalan, sampe-sampe kadang kami malah tabrakan, dan akhirnya dengan spontan kami langsung menghindar. Aku sebenarnya udah capek banget kalo terus kayak gini terus. Entah kapan masalah ini bakal selesai. Sampai akhirnya, aku dengar berita dari teman-teman kerjaku yang lain, sesuatu yang membuatku kaget. Awan sekarang jadian sama cewek yang waktu itu aku pernah aku liat di cafe. Awalnya aku nggak percaya dan mungkin hatiku nggak bisa terima. Cepat banget rasanya Awan membuang jauh perasaannya dulu buat aku. Apa mungkin selama ini dia nggak tulus ke aku? Lalu kenapa juga aku harus marah?Itukan haknya dia!

Beberapa bulan berlalu, aku masih merasa menyesal dengan kejadian yang dulu. aku masih sering ngerasa sakit hati kalau aku liat Awan dan pacarnya. Tapi apa boleh buat, semua udah terjadi, penyesalan selalu pasti datangnya belakangan. Nasi udah jadi bubur, air susu pun telah basi. Sekarang yang membuatku masih tetap mau satu kerja dengan Awan cuma masa depanku, aku harus mikirin masa depanku juga, aku nggak mau gara-gara cowok hidupku hancur. I HAVE TO MOVE ON, NO GALAU!. Walaupun sebenarnya jauh di hati kecilku, aku emang udah hancur, sakit, perih, dan segala macamnya aku rasakan. Tapi untuk menghibur diriku sendiri, semua hal jelek aku bayangkan ada didalam cowok itu, aku berusaha membenci Awan sepenuh hatiku. Aku bisa menghilangkan penderitaanku dengan cara membencinya. Yang aku rasa semakin hari aku semakin benci dengan Awan.

Setelah sekian lamanya aku membenci Awan, dan sedikit demi sedikit aku berhasil melupakan sedikit tentang dia, seakan-akan semua itu terasa luluh lantah. Suatu hari, waktu bangun pagi aku ngalamin sesuatu yang lain, dalam pikiranku terlintas wajah Awan. Tiba-tiba hatiku jadi lunak, perasaan benci, kesal, sakit, hilang perlahan-lahan. Rasanya pintu maaf buat Awan udah terbuka lebar, tapi aku nggak tau kenapa aku tiba-tiba jadi selembut ini. Aku yang biasanya keras hati dan keras kepala sekarang terasa lemah dan cengeng. Nggak kerasa air mataku jatuh begitu aja, aku menangis sejadi-jadinya, perasaan yang campur aduk memainkan hatiku. Aku mulai menerima Awan di hatiku, aku merasa aku harus memaafkan dia, aku harus ikhlaskan dia buat siapapun, karena yang terjadi selama ini. Sebenarnya aku hanya ngrasa gak rela dia bahagia dengan orang lain. Tuhan, aku cemburu!. Makanya timbul rasa benci di hatiku sendiri yang seharusnya nggak boleh aku rasakan. Aku udah jahat dan berdosa. Maafkan aku Tuhan.

Di tempat kerja, entah kenapa Awan kayak mencoba lagi buat akrab sama aku. Apa dia merasakan hal yang sama denganku? Dia mulai menegurku dan tentu aja aku nggak nyuekin dia lagi. Di wajah Awan kelihatan ada rasa heran dan kaget, waktu aku merespon dia. Dia mencoba tersenyum dan aku pun membalas senyumannya dengan tulus. Bahagia banget rasanya bisa membuat orang senang dan emang bahagia juga rasanya bila nggak ada rasa benci dalam hati. Sekarang aku udah bisa ikhlas merelakan Awan dengan cewek itu, dia pasti sangat bahagia kan? Di dalam hati aku coba untuk meminta maaf sama Awan, karena terus terang aku belum berani buat langsung ngomong sama dia. Waktu Awan lagi sendirian dan nggak tau lagi mikiran apa, diam-diam aku menatapnya, aku seolah-olah bertelepati dengan dia dan mengirimkan kata maaf ke telinganya. Aku berdoa, ya Tuhan, semoga dia dengerin aku.

Malamnya, waktu aku nunggu bis yang biasanya aku tumpangi. Rasanya jantungku mau copot waktu Awan datang tiba-tiba menghampiriku. Spontan mengambil dua tanganku.
“Lily, aku mau minta maaf. Kamu mau kan maafkan aku?”
“Hmmm... ya.”
“Benar Lily? Kamu udah maafin aku? Sekarang berarti kita bisa temenan lagi kan?”
“................ Ya, aku juga minta maaf  sama kamu, Wan!”
“Lily, aku senang banget, akhirnya kita bisa temanan lagi, kamu tau nggak? Udah tujuh bulan kita nggak teguran.Aku nggak percaya selama ini kamu tahan banget kayak gini, kamu benar-benar keras.”
“Yee... Emang kamu apaan donk? Kalo nggak keras juga? Kamu juga tahan kan, kenapa baru sekarang kamu berani tegur aku lagi, coba?”

Akhirnya, beban yang selama ini aku tanggung terlepaskan juga. Emang waktu yang lumayan lama banget untuk punya musuh di dunia ini. Tujuh bulan, aku nggak pernah teguran sama Awan. Selama itu juga aku jadi cewek jahat, kasar yang sering nyakitin hati Awan. Nggak cuma Awan sih, teman-teman di sekitarku juga kena getahnya lantaran selama ini mereka juga memaksaku buat memaafkan Awan. Tapi toh, tujuh bulan itu aku keras banget, dan nggak ada yang bisa meruntuhkan aku kecuali perasaanku tadi pagi yang tiba-tiba aja muncul waktu aku bangun pagi. Memang aneh. Yang bikin aku penasaran, gimana ya kabar Awan sama pacarnya? Apa mereka masih pacaran, kok anehnya beberapa minggu terakhir ini Awan pun jarang banget jalan sama cewek itu lagi. Apa mereka udah putus? Aku pun nggak pernah dengarin gosip mereka. Dan tiba-tiba aku tertarik banget buat mengetahuinya.

“Cewek kamu mana Wan, kok sekarang aku jarang banget liat kalian jalan bareng?”
“Oo… Chika? Kita udah putus. Udah dua bulan ini nggak ada komunikasi, kok kamu tahu aku pacaran sama dia? Ehemm…”
“Apaan sih, wan?! Ya habis banyak karyawan lain yang sering gosipin kamu sih, pake tanya-tanya ke aku lagi, emang aku tahu!”, aku pun beralibi sebisaku.

Jadi nama cewek itu Chika, cewek yang dibilang teman-temanku mirip banget sama Awan. Dan sering banget digosipkan kalo mereka itu bakalan berjodoh karena wajahnya yang mirip. Waktu aku masih benci sama Awan, aku berpendapat, soal jodoh kan di tangan Tuhan, belum tentu mereka jodoh hanya karena wajahnya mirip. Tapi, aku penasaran kenapa sampe putus, yang aku amati sih, hubungan mereka kayaknya baik-baik aja. Kayak membaca pikiranku, Awan langsung menjawabnya.
“Chika  bukan cewek bener. Ternyata dia suka mainin perasaan cowok, selain itu dia juga matre. Chika, juga suka bergaul dengan teman-teman cewek yang nggak bener, suka ngerokok, pergi dugem, aahhh... Segala macamlah, yang jelas, kayaknya aku nggak pernah bisa mencintainya dari dulu sampe sekarang.”
“Maksud kamu?”
“Ya, dari pertama aku kenal Chika, aku berusaha keras buat cinta sama dia, tapi kayaknya yang selama ini aku rasa nggak pernah tulus. Aku nggak benar-benar mencintai dia.”
“Trus...?”
“Ya, trus, berarti selama ini aku udah membohongi dia, aku bohong dengan diriku sendiri, dan aku juga udah bohong sama kamu.”
“Maksud kamu? Apa hubungannya dengan aku?”

Dengan pura-pura bego’ aku terus bertanya ke Awan, dan ...
“Lily, aku masih suka dan sayang sama kamu.”
“Ha-ha... ha-ha apa? Kamu nggak salah, serius ato bercanda?”
Aduuuh... kenapa aku tertawa lagi ya, ya Tuhan mudah-mudahan nggak melenceng deh.
“Bercanda...!!!”
“Oww, bercanda ya, Wan? Kirain kamu serius tadi, ha-ha... ha-ha... ada-ada aja kamu.”

Beberapa saat suasana antara aku dan Awan jadi canggung. Sumpah, aku benar-benar kaget denger Awan bilang bercanda tadi. Aku mengutuk-ngutuk sendiri dalam hati. Jadinya kok malah kayak dulu sih? Gimana ini? Kok aku juga bego ya, kyaaaaaaaaaaaaa, hatiku menjerit kuat.

Sebelum Awan pamit dan mencoba menghidupkan mesin motornya, tiba-tiba spontan aku memanggil dia.
“Awan, kamu sebenarnya serius ato bercanda sih? Kamu marah sama aku?”
“Lho, kenapa aku mesti marah sama kamu? Udah, nggak usah dipikirin, aku cuma bercanda kok...”
“Sekali lagi aku tanya sama kamu ya, kamu serius kan
Wan dengan perasaan kamu?”
“ ...........”
Wan, ayo jawab, aku benci banget dengan Awan yang kayak ini, kenapa sih Wan dari dulu sampe sekarang kamu nggak pernah mau ilangin sifat gengsi dan jaim kamu?”
“Iya, Lily... Aku serius masih suka dan sayang sama kamu, dari dulu aku ngak pernah bisa melupakan kamu, walaupun aku sudah mencoba membuka hati buat cewek yang lain. Tapi, entah kenapa aku selalu sayang suma sama kamu. Aku selalu berdoa, moga-moga aja Tuhan mempersatukan aku dan kamu.”
“.......Wan, kenapa kamu susah banget buat ngomong kalo kamu itu sayang dan cinta sama aku?”
“Maafin aku! Jujur selama ini aku emang selalu mencoba jaim dan gengsi banget sama kamu. Aku malu, lantaran aku masih ragu dengan perasaan kamu sendiri Lily.
“Nggak
Wan, asal kamu tau, aku udah sayang banget sama kamu sejak pertama kali kamu bilang suka sama aku. Aku sayang sama kamu sampe sekarang Wan.”

Akhirnya, semua udah terbongkar dan nggak ada lagi yang tersembunyi. Akupun udah merasa lega dan tenang banget bisa mengungkapkan isi hatiku selama ini. Ternyata perasaan aku dan Awan selama ini sama, cuma kemunafikan yang jadi penghalang kami. Sekarang setelah tau semuanya. aku bisa merasakan kebahagianaan yang dianugerahkan Tuhan buat aku. Terima kasih Tuhan atas semua ini.


THE END :)


2 komentar:

Anonim mengatakan...

Keren sist :)

Prily Harsiani mengatakan...

Terima kasih :)

 

Prysia's Note Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea